Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ini Alasan Menkeu Purbaya Balik Serang Kritik Hasan Nasbi dengan Data

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 28 Oktober 2025 | 23:29 WIB

Gaya Koboi Purbaya Bikin Geger: Kritik Dibalas Fakta, Publik Malah Makin Percaya
Gaya Koboi Purbaya Bikin Geger: Kritik Dibalas Fakta, Publik Malah Makin Percaya

RADAR KUDUS - Kritik keras datang dari eks Kepala Kantor Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi yang menyoroti gaya komunikasi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Ia menilai sikap “baku tikam” antarpejabat di ruang publik berisiko merusak soliditas pemerintahan. Namun, Purbaya tak tinggal diam.

Alih-alih membalas dengan kata-kata tajam, sang Menteri justru mengeluarkan jurus data yang langsung menampar kritik itu di hadapan publik.

Dalam konferensi pers di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin (27/10/2025), Purbaya menunjukkan hasil survei dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang memperlihatkan peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah pada Oktober 2025.

“Stabilitas pemerintah amat baik di mata masyarakat, kecuali di mata orang itu ya,” ujarnya menohok, tanpa perlu menyebut nama.

Baca Juga: Purbaya Yudhi Sadewa Tegas: “Impor Pakaian Bekas? Siap-Siap Masuk Penjara dan Diblacklist Seumur Hidup!

Ketika Data Bicara

Purbaya memaparkan indeks kepercayaan konsumen yang mencatat lonjakan kepercayaan publik setelah sempat anjlok pada Juli hingga September 2025.

Periode tersebut memang diwarnai gelombang demonstrasi besar-besaran di berbagai daerah akibat keresahan ekonomi.

Menurutnya, meski gaya komunikasinya dianggap “ceplas-ceplos”, langkah itu justru berhasil memulihkan sentimen publik terhadap pemerintah.

“Kita ambil kebijakan yang mungkin terlihat keras di luar, tapi faktanya berhasil membalikkan persepsi publik. Sekarang, kepercayaannya kembali stabil,” jelasnya sambil menunjukkan lembar data hasil survei.

Bagi Purbaya, transparansi dan gaya bicara lugas bukan kelemahan. Ia menyebut cara itu justru membuat masyarakat merasa pemerintah berbicara apa adanya.

“Ketika ekonomi turun, masyarakat kecewa. Tapi begitu mereka lihat langkah nyata dan kejujuran pemerintah, kepercayaan itu balik lagi,” tegasnya.

Baca Juga: Setelah Dihujani Kritik, Menkeu Purbaya Tunjukkan Bukti: Ini Cara Purbaya Pulihkan Kepercayaan Rakyat Lewat Data dan Fakta

Gaya Koboi yang Diperdebatkan

Sosok Purbaya memang dikenal berbeda dari menteri-menteri sebelumnya. Dalam waktu singkat sejak menjabat, ia menampilkan gaya bicara yang spontan, tanpa banyak basa-basi — sebuah gaya yang oleh sebagian pihak dianggap ‘koboi’.

Tapi di mata pendukungnya, gaya ini justru efektif menunjukkan ketegasan pemerintah di tengah situasi ekonomi yang menuntut kecepatan.

“Sepertinya saya koboi, tapi yang saya lakukan adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat ke pemerintah,” ucapnya.

Purbaya menegaskan bahwa seluruh pernyataannya bukan hasil inisiatif pribadi, melainkan bagian dari strategi komunikasi pemerintahan di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto.

“Saya tidak bergerak sendiri. Semua yang saya sampaikan atas perintah Bapak Presiden. Saya hanya perpanjangan tangan beliau,” tambahnya.

Kritik Balik yang Tepat Sasaran

Sementara itu, Hasan Nasbi menilai gaya Purbaya terlalu konfrontatif terhadap sesama pejabat. Dalam kanal YouTube pribadinya, Hasan menilai komunikasi semacam itu bisa menurunkan citra pemerintah di mata publik.

“Sesama pejabat tidak bisa saling baku tikam di depan umum. Kalau mau berdebat, lakukan di ruang tertutup,” ujar Hasan.

Ia juga menyinggung perseteruan terbuka antara Purbaya dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengenai dana mengendap di bank daerah.

Menurut Hasan, persoalan internal seperti itu semestinya diselesaikan tanpa sorotan publik.

Namun tanggapan Purbaya tampaknya justru mengubah arah perdebatan. Dengan menampilkan data yang kredibel, ia memindahkan diskursus dari soal etika komunikasi menjadi soal efektivitas dan hasil.

Kritik yang tadinya bernada personal berubah menjadi ruang pembuktian bahwa gaya komunikatif apa pun sah-sah saja, selama hasilnya bisa diukur.

Baca Juga: Rp234 Triliun Dana ‘Tidur’ di Bank, Dedi Mulyadi vs Purbaya Adu Data, Siapa yang Benar?

Purbaya: Dari Koboi Jadi Simbol Kepercayaan

Dalam waktu singkat, sosok Purbaya berubah menjadi wajah baru komunikasi ekonomi nasional. Ketegasannya di hadapan publik, terutama dalam membongkar persoalan di internal Bea Cukai dan percepatan belanja negara, memberi kesan bahwa pemerintah serius menuntaskan masalah tanpa basa-basi.

“Saya hanya ingin memastikan uang negara dipakai tepat waktu. Presiden mendukung langkah ini karena ekonomi harus digenjot lebih cepat di kuartal IV,” ungkapnya.

Langkah Purbaya ini bukan tanpa risiko politik. Ia tahu gaya terbuka dan blak-blakan bisa memicu gesekan di lingkar kekuasaan.

Namun, data yang menunjukkan naiknya kepercayaan publik tampaknya menjadi pembenaran kuat bahwa strategi komunikasinya berhasil.

Antara Kritik dan Validasi Publik

Jika dilihat dari sisi politik, apa yang dilakukan Purbaya adalah bentuk redefinisi cara pejabat publik berkomunikasi.

Ia menempatkan dirinya di posisi di mana publik bisa melihat transparansi, bukan sekadar diplomasi.

Dalam lanskap pemerintahan modern, gaya seperti ini — meski kontroversial — justru bisa membangun kepercayaan di tengah kejenuhan masyarakat terhadap bahasa politik yang kaku.

Hasan Nasbi boleh saja memandangnya sebagai ancaman bagi soliditas internal kabinet. Namun, bagi publik yang haus akan kejelasan, gaya Purbaya justru menjadi napas baru. Ia tidak sekadar menjawab kritik — ia memenangkannya dengan bukti, bukan opini.

Editor : Mahendra Aditya
#Purbaya #hasan nasbi #Menteri Keuangan Purbaya #kepercayaan masyarakat #Survei LPS