RADARKUDUS - Sekitar 90 persen penduduk China Tiongkok saat ini sudah memiliki rumah, sehingga membuat negara ini termasuk dalam daerah dengan tingkat kepemilikan hunian terbesar di dunia.
Menurut laporan Nomura, sekitar 80 persen dari rumah itu dimiliki secara langsung tanpa harus membayar cicilan atau hipotek, dan lebih dari 20 persen rumah tangga di kota-kota besar memiliki lebih dari satu properti.
Pencapaian ini terjadi meskipun harga rumah di kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Xiamen sangat tinggi dibandingkan dengan pendapatan rata-rata warganya.
Naiknya angka kepemilikan rumah di Tiongkok berawal dari reformasi sektor properti pada 1990-an, saat pemerintah mulai memperbolehkan warga membeli rumah yang sebelumnya dikuasai pemerintah dengan harga yang terjangkau.
Budaya menabung yang kuat, bantuan dari keluarga lintas generasi, serta program dana pensiun perumahan juga membantu besar dalam memudahkan warga memiliki rumah.
Saat ini, meskipun harga rumah terus meningkat, sebagian besar penduduk Tiongkok masih mampu membeli rumah berkat kebiasaan menabung dan dukungan sosial yang tinggi.
Rumah menjadi aset penting bagi keluarga di Tiongkok, China
Bagi banyak keluarga di Tiongkok, rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga salah satu aset yang sangat bernilai dan sumber utama dari kekayaan mereka.
Memiliki rumah dianggap sebagai cara untuk mencapai stabilitas ekonomi dan keamanan sosial.
Terutama di tengah kenaikan biaya hidup di kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Shenzhen.
Jika dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, tingkat kepemilikan rumah di Tiongkok jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara maju.
Baca Juga: Traveler Indonesia Kini Bisa Bayar di Jepang Pakai QRIS GoPay, China Menyusul!
Misalnya, di Amerika Serikat tingkat kepemilikan rumah berkisar sekitar 65%, sedangkan di Inggris sekitar 63%.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa memiliki rumah masih menjadi prioritas utama bagi masyarakat Tiongkok dibandingkan dengan menyewa.
Meskipun tingkat kepemilikan rumah cukup tinggi, sektor properti Tiongkok tengah menghadapi tekanan besar.
Harga rumah di beberapa kota besar mengalami penurunan, beberapa proyek pengembangan terhenti, dan muncul krisis kepercayaan terhadap pengembang properti.
Editor : Ali Mustofa