JAKARTA – Indonesia dikenal sebagai negara dengan tradisi pendidikan Islam yang kuat.
Salah satu warisan terbesarnya adalah pondok pesantren, lembaga pendidikan Islam tradisional yang sudah ada jauh sebelum sistem pendidikan modern diperkenalkan oleh Belanda.
Sejumlah pesantren bahkan telah berdiri selama ratusan tahun dan masih aktif hingga saat ini.
Mengutip buku “Moderasi Pondok-Pondok di Indonesia” karya Muhammad Roy Purwanto dkk, pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu agama, tetapi juga pusat pergerakan sosial, budaya, dan perjuangan bangsa.
Berikut ini 10 pondok pesantren tertua di Indonesia yang telah menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan Islam di Nusantara.
1. Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu – Kebumen (Berdiri 1475 M)
Dengan usia lebih dari 5 abad (549 tahun), Al Kahfi Somalangu di Kebumen, Jawa Tengah, dinobatkan sebagai pesantren tertua di Indonesia.
Didirikan oleh Syekh As Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani, pesantren ini telah melahirkan banyak ulama besar dan menjadi pusat perlawanan terhadap penjajah Belanda di masa lalu.
2. Pondok Pesantren Luhur Dondong – Semarang (Berdiri 1609 M)
Pesantren ini berusia lebih dari 4 abad (412 tahun) dan dikenal sebagai pesantren tertua di Kota Semarang.
Pendiriannya dikaitkan dengan KH Syafi’i, salah satu pasukan Pangeran Diponegoro. Hingga kini, pesantren ini masih aktif dan menjadi tempat ngaji bagi para santri dari berbagai daerah.
3. Pondok Pesantren Nazhatut Thullab – Sampang (Berdiri 1702 M)
Berlokasi di Sampang, Madura, pesantren ini telah berusia 322 tahun.
Didirikan oleh Kyai Abdul ‘Allam, Nazhatut Thullab kini berkembang menjadi lembaga pendidikan terpadu dengan unit formal seperti MTs, SMA, dan SMK yang terafiliasi ke berbagai kementerian.
4. Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin – Cirebon (Berdiri 1705 M)
Pesantren ini berdiri 308 tahun lalu dan didirikan oleh Ki Jatira dari Mataram.
Meski sempat diserang oleh Belanda, Babakan Ciwaringin tetap bertahan dan kini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Jawa Barat.
5. Pondok Pesantren Sidogiri – Pasuruan (Berdiri 1745 M)
Sidogiri, yang kini berusia 276 tahun, didirikan oleh Sayyid Sulaiman di tengah hutan belantara Pasuruan.
Kini, Sidogiri berkembang pesat menjadi pesantren mandiri dengan sistem pendidikan kuat dan jaringan ekonomi umat melalui Koperasi Sidogiri.
6. Pondok Pesantren Buntet – Cirebon (Berdiri 1754 M)
Didirikan oleh Kiai Muqoyyim, pesantren ini menjadi salah satu pusat keilmuan Islam tertua di Cirebon.
Usianya kini mencapai 271 tahun. Buntet dikenal sebagai pesantren yang menggabungkan sistem tradisional dan modern dengan berbagai jenjang pendidikan formal.
7. Pondok Pesantren Jamsaren – Surakarta (Berdiri 1750 M)
Pesantren yang berdiri di era Pakubuwono IV ini juga berusia 271 tahun.
Didirikan oleh Kiai Jamsari, pesantren ini pernah menjadi tempat belajar tokoh-tokoh nasional seperti Munawir Sjadzali, mantan Menteri Agama RI.
8. Pondok Pesantren Miftahul Huda (Gading) – Malang (Berdiri 1768 M)
Lebih dikenal sebagai Pesantren Gading, lembaga ini didirikan oleh KH Hasan Munadi.
Dengan usia 253 tahun, pesantren ini terkenal karena keahliannya dalam ilmu hisab dan astronomi Islam, bahkan hasil hisabnya sering dijadikan acuan dalam penentuan hari raya.
9. Pondok Pesantren Qomaruddin – Gresik (Berdiri 1775 M)
Pesantren yang berdiri 246 tahun lalu ini didirikan oleh Kiai Qomaruddin di Bungah, Gresik.
Pesantren ini menjadi cikal bakal munculnya banyak pesantren lain di Jawa Timur dan hingga kini masih aktif mengembangkan pendidikan Islam dan sosial.
10. Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar – Pamekasan (Berdiri 1787 M)
Pesantren tertua terakhir adalah Darul Ulum Banyuanyar, yang berdiri 234 tahun lalu.
Didirikan oleh Kyai Itsbat, pesantren ini terkenal dengan kesederhanaan dan nilai-nilai spiritual tinggi yang ditanamkan kepada para santrinya.
Warisan Panjang Pendidikan Islam Nusantara
Ratusan tahun berlalu, pesantren-pesantren ini tetap berdiri tegak sebagai simbol ketahanan budaya dan spiritual Islam Indonesia.
Tidak hanya mengajarkan ilmu agama, pesantren juga berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan dan pembentukan karakter bangsa.
Kini, di tengah arus modernisasi, pesantren-pesantren tua tersebut terus beradaptasi — tanpa kehilangan akar tradisinya — menjadi pilar penting dalam mencetak generasi berakhlak, cerdas, dan cinta tanah air.
Editor : Ali Mustofa