Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Gen Z dan Godaan Diskon Online: Mengapa Kita Sulit Menahan Diri?

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 14 Oktober 2025 | 22:55 WIB

e-commerce
e-commerce

RADAR KUDUS - Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan dunia digital.

Media sosial, internet, dan kemudahan akses informasi membentuk pola hidup generasi ini — termasuk dalam hal berbelanja.

Tak sedikit dari mereka yang kerap membeli barang hanya karena tertarik sesaat, tanpa benar-benar mempertimbangkan kebutuhan.

Fenomena ini dikenal sebagai pembelian impulsif, dan Gen Z menjadi kelompok yang paling rentan mengalaminya.

Baca Juga: Beda Gaya Saat Sakit: Boomer Ngotot Kerja, Gen Z Santai Rawat Diri

1. Media Sosial dan Kekuatan Visual

Kehadiran media sosial menjadi faktor besar di balik perilaku konsumtif ini.

Algoritma platform seperti Instagram dan TikTok menampilkan produk sesuai minat pengguna, sering kali diperkuat oleh promosi influencer.

Ketika melihat barang yang tampak menarik atau sedang viral, dorongan untuk segera membeli muncul secara spontan.

Penelitian bahkan menunjukkan bahwa Gen Z lebih mudah dipengaruhi oleh konten visual dan rekomendasi influencer dibandingkan generasi lain.

2. Belanja Online yang Terlalu Mudah

Kemudahan berbelanja daring turut memperkuat kebiasaan impulsif. Hanya dengan beberapa ketukan jari, barang bisa langsung dibeli.

Ditambah lagi dengan promo kilat, potongan harga, serta layanan pengembalian yang praktis, semua ini membuat keputusan membeli terasa tanpa risiko.

Sayangnya, kemudahan ini sering membuat banyak orang lupa mempertimbangkan kebutuhan nyata.

3. FOMO dan Tekanan Sosial Digital

Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) juga tak kalah berpengaruh. Gen Z sering merasa takut tertinggal tren atau terlihat tidak “update” di media sosial.

Keinginan untuk diakui dan tampil relevan mendorong mereka membeli barang-barang yang sedang ramai dibicarakan, meski tak selalu dibutuhkan.

Hal ini membuat konsumsi lebih didorong oleh citra diri daripada fungsi.

4. Membangun Kesadaran Diri

Meskipun perilaku belanja impulsif tampak sulit dihindari, sebenarnya hal ini bisa dikendalikan.

Langkah awalnya adalah menyadari dorongan emosional di balik keputusan membeli.

Dengan menumbuhkan kesadaran dan kontrol diri, Gen Z dapat menjadi konsumen yang lebih bijak — membeli karena kebutuhan, bukan sekadar keinginan sesaat.(laura)

Editor : Ali Mustofa
#e commerce #fomo #Gen Z #media sosial #Belanja implusif