Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Profil Acil Bimbo yang Tutup Usia: Jejak Hidup hingga Peduli Budaya

Ali Mustofa • Selasa, 2 September 2025 | 16:58 WIB

 

Acil Bimbo.
Acil Bimbo.

BANDUNG – Musik Indonesia kehilangan salah satu sosok pentingnya, Acil Bimbo.

Seorang musisi senior yang bersama grup Bimbo melahirkan banyak karya monumental, meninggal dunia pada Senin malam (1/9) pukul 22.13 WIB di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Sang legenda berpulang di usia 82 tahun.

Baca Juga: Musisi Legendaris Acil Bimbo Meninggal Dunia di Usia 82 Tahun, Keluarga dan Sahabat Berduka

Jenazah pemilik nama lengkap Raden Darmawan Dajat Hardjakusumah disemayamkan di rumah duka Jalan Biologi No. 4, Cigadung, Bandung.

Informasi yang beredar, prosesi pemakaman akan dilakukan di pemakaman keluarga di Cipageran, Cimahi.

Jejak Hidup Acil Bimbo

Lahir di Bandung pada 20 Agustus 1943, Acil tumbuh di masa pendudukan Jepang.

Ia merupakan anak dari pasangan Raden Dajat Hadjakusumah dan Uken Kenran. Sang ayah sempat menjabat sebagai Kepala Biro LKBN Antara Jawa Barat.

Pendidikan Acil terbilang panjang. Ia lulus dari Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (UNPAD) pada 1974, lalu melanjutkan studi kenotariatan di kampus yang sama pada 1994.

Ia menikah dengan Ernawati dan dikaruniai empat anak serta sejumlah cucu.

Dua cucunya yang dikenal publik adalah Hasyakyla Utami dan Adhisty Zara, keduanya pernah menjadi bagian dari grup idola JKT48.

Kiprah Bersama Grup Bimbo

Acil merupakan salah satu pendiri grup musik Bimbo bersama dua saudaranya, Sam dan Jaka.

Belakangan, adik perempuan mereka, Iin Parlina, ikut bergabung memperkuat formasi.

Peran Acil sangat besar dalam membentuk ciri khas Bimbo. Suaranya yang lembut dan penuh penghayatan menjadi penopang harmonisasi vokal grup yang begitu dikenal masyarakat.

Tak hanya piawai bernyanyi, Acil juga ikut terlibat dalam proses kreatif lagu-lagu Bimbo yang banyak memuat pesan keagamaan maupun kritik sosial.

Beberapa karya Bimbo yang melekat di hati masyarakat hingga kini antara lain Tuhan, Sajadah Panjang, Ada Anak Bertanya pada Bapaknya, Flamboyan, Rindu Rasul, hingga Melati dari Jayagiri.

Lagu-lagu tersebut bukan hanya populer pada zamannya, tetapi tetap abadi, bahkan sering diputar ulang terutama di bulan Ramadan.

Karena kualitas vokalnya yang khas, grup Bimbo bahkan dijuluki sebagai “The Bee Gees of Indonesia.”

Peduli Budaya dan Lingkungan

Selain bermusik, Acil juga dikenal aktif menyuarakan kepedulian terhadap kebudayaan Sunda dan isu lingkungan.

Dalam sebuah seminar budaya di Garut pada 2015, ia menilai bangsa Indonesia mengalami krisis nilai akibat kemunduran budaya lokal.

Ia menekankan pentingnya menjaga prinsip leluhur Sunda, seperti ngajaga lembur (melestarikan kampung), akur jeung dulur (hidup rukun dengan sesama), dan panceug dina galur (patuh pada aturan dan etika).

Di bidang lingkungan, Acil sempat menyoroti kerusakan hutan di kawasan Tangkuban Parahu yang masuk dalam Kawasan Bandung Utara (KBU).

Menurutnya, pembangunan harus selalu memperhatikan kelestarian alam serta kearifan lokal.

Warisan Abadi

Meski raganya telah tiada, karya-karya Acil bersama Bimbo akan terus hidup di hati masyarakat.

Lagu-lagu ciptaannya masih kerap terdengar di televisi, radio, hingga platform digital, menjadi bagian penting dalam perjalanan musik Indonesia.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, namun juga mengingatkan publik pada jejak panjang seorang musisi yang menjadikan musik bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana dakwah, kritik sosial, dan refleksi kehidupan.

Editor : Ali Mustofa
#lingkungan #Acil Bimbo #keagamaan #meninggal dunia #musisi senior #kritik sosial