RADAR KUDUS - Jakarta kembali dirundung duka. Malam yang semula dipenuhi riuh demonstrasi di pusat ibu kota berubah menjadi kabar memilukan.
Seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan (21), tewas tragis usai dilindas kendaraan taktis (Rantis) Brimob di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (28/8) malam.
Namun, berbeda dari asumsi awal publik, Affan bukanlah peserta aksi demonstrasi yang mengecam tunjangan mewah DPR RI dan mengkritisi kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
Faktanya, ia tengah menjalankan tugasnya sebagai pekerja ojol—mengantarkan makanan pesanan pelanggan GoFood.
Kesaksian rekan-rekannya mematahkan spekulasi liar. Hafidz (40), yang akrab dipanggil Ompong, menegaskan: “Affan enggak ikut demo, dia lagi nganter orderan GoFood. Pas nyebrang, mobil Barakuda ngebut, dia kelindas di situ,” ujarnya di rumah duka kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Dari Orderan GoFood Jadi Kabar Duka
Sehari sebelum musibah, Affan sempat bertemu Hafidz. Ia bercerita hendak mengambil beberapa orderan malam. Tidak ada firasat apa pun, hanya obrolan ringan antar rekan sesama pejuang jalanan.
Namun, takdir berkata lain. Di tengah situasi panas ibu kota yang diramaikan demonstrasi, Affan justru menjadi korban. Ia tak sedang berteriak slogan, tak membawa poster tuntutan, hanya membawa orderan makanan untuk pelanggan.
Gelombang Duka dari Sesama Ojol
Kabar meninggalnya Affan seketika menyebar cepat di komunitas driver ojol. Grup WhatsApp dan media sosial mereka dipenuhi rasa kehilangan sekaligus kemarahan.
Pagi ini, Jumat (29/8), ratusan hingga ribuan driver ojol memutuskan turun ke jalan, bukan untuk berdemo, melainkan mengawal jenazah Affan menuju peristirahatan terakhir di TPU Karet Bivak, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
“Kita mau ngawal sampai makam, konvoi bareng-bareng. Ada mungkin seribu orang driver yang ikut,” kata Hafidz dengan suara berat.
Jalan Sudirman menjadi saksi lautan jaket hijau dan biru. Mereka mengiringi jenazah dari rumah duka di Jalan Lasem, Menteng, hingga ke pemakaman.
Tangis keluarga bercampur dengan deru knalpot ribuan motor, menghadirkan potret solidaritas yang jarang terlihat.
Potret Buram Keselamatan Pekerja Jalanan
Tragedi ini menyoroti realita pahit yang dihadapi para pekerja transportasi daring. Setiap hari mereka bergulat dengan kerasnya jalanan, penuh risiko kecelakaan, dan rentan jadi korban situasi yang tak mereka ciptakan.
Affan hanyalah satu dari ribuan anak muda yang menggantungkan hidup dari pesanan makanan. Usianya baru 21 tahun, masa depan masih panjang, tetapi terhenti di jalan yang semestinya menjadi sarana mencari nafkah, bukan jalan menuju maut.
Kasus ini menambah daftar panjang tragedi lalu lintas yang melibatkan aparat dan warga sipil. Pertanyaan besar pun mengemuka: apakah nyawa rakyat kecil begitu murah di jalanan yang dijaga negara?
Reaksi Publik dan Tuntutan Keadilan
Di media sosial, nama Affan Kurniawan menjadi trending. Warganet menuntut investigasi transparan atas insiden ini.
Banyak yang menyoroti mengapa kendaraan taktis bisa melaju kencang di jalan umum hingga menewaskan warga sipil yang tak terlibat aksi.
Organisasi komunitas ojol juga menyerukan agar kasus ini tidak berhenti hanya pada belasungkawa. Mereka meminta pertanggungjawaban hukum dan evaluasi prosedur aparat di lapangan.
Tragedi Affan dianggap mencerminkan lemahnya perlindungan terhadap pekerja informal yang selama ini menopang denyut ekonomi digital.
Meninggalkan Luka Mendalam
Bagi keluarga, kepergian Affan meninggalkan luka yang sulit disembuhkan. Anak muda yang dikenal ramah dan pekerja keras itu kini hanya tinggal kenangan.
Di rumah duka, isak tangis pecah sejak pagi. Orang tua dan saudara masih tidak percaya, anak yang sehari-hari berjuang demi penghasilan harian kini justru dipulangkan dalam peti.
Sementara itu, bagi rekan-rekan sesama ojol, Affan adalah simbol keteguhan hati pekerja lapangan. Mereka kehilangan seorang teman, sekaligus diingatkan kembali betapa rentannya posisi mereka di jalanan.
Sebuah Tragedi yang Tak Boleh Terulang
Kematian Affan bukan sekadar kabar duka, tetapi alarm keras bagi semua pihak—pemerintah, aparat, hingga masyarakat. Jalanan seharusnya aman bagi siapa pun, terlebih bagi mereka yang sedang bekerja untuk menghidupi keluarga.
Tragedi ini menegaskan bahwa perlindungan pekerja informal masih rapuh. Tidak cukup hanya dengan belasungkawa, perlu ada langkah nyata agar nyawa lain tidak kembali melayang sia-sia.
Affan Kurniawan bukan korban demo, bukan bagian dari massa aksi. Ia hanyalah seorang anak muda yang bekerja keras mengantar makanan. Namun, maut menjemputnya di tengah hiruk-pikuk politik jalanan.
Kini, namanya abadi dalam ingatan ribuan driver ojol yang mengantarnya ke peristirahatan terakhir. Tragedi ini meninggalkan satu pesan: keadilan harus ditegakkan, agar jalanan tak lagi menjadi kuburan bagi rakyat kecil.
Editor : Mahendra Aditya