RADAR KUDUS - Provinsi Jawa Barat dikenal sebagai salah satu wilayah paling padat dan dinamis di Indonesia.
Namun, di balik gemerlap kota-kotanya, terselip ironi: sebuah kabupaten yang masih menyandang predikat termiskin di provinsi ini, meski dipimpin oleh bupati dengan kekayaan mencapai lebih dari Rp5 miliar.
Kabupaten tersebut adalah Indramayu, daerah yang akrab dijuluki sebagai Kota Mangga.
Data Kemiskinan di Jawa Barat
Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan di Jawa Barat secara umum mengalami penurunan pada 2024, dari 7,62 persen menjadi 7,46 persen.
Meski terlihat menurun, faktanya tidak semua kabupaten merasakan dampak positif ini.
Indramayu justru menempati posisi teratas sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Barat, yakni 11,93 persen.
Angka ini jauh di atas rata-rata provinsi, menunjukkan jurang kesejahteraan yang masih menganga.
Ironinya, Indramayu yang selama ini dikenal subur dan kaya hasil pertanian, khususnya mangga—dari jenis Cengkir hingga Harumanis—belum mampu mengangkat warganya dari lilitan kemiskinan.
Sosok Bupati dengan Harta Rp 5,7 Miliar
Indramayu saat ini dipimpin oleh Bupati Lucky Hakim, seorang figur publik yang cukup dikenal di kancah nasional.
Berdasarkan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN), ia tercatat memiliki kekayaan sebesar Rp5.730.016.109.
Kontras antara kekayaan sang bupati dan kondisi masyarakat yang dipimpinnya memunculkan perbincangan publik.
Bagaimana bisa daerah yang disebut sebagai lumbung pangan dan pusat mangga nasional justru terpuruk dalam lingkaran kemiskinan?
Tujuh Kabupaten Termiskin di Jawa Barat
Selain Indramayu, ada enam kabupaten lain yang masuk daftar termiskin di Jawa Barat. Berdasarkan data BPS, berikut urutannya:
-
Kabupaten Indramayu – tingkat kemiskinan 11,93 persen
-
Kabupaten Kuningan – 11,88 persen
-
Kabupaten Cirebon – 11,00 persen
-
Kabupaten Majalengka – 10,82 persen
-
Kabupaten Bandung Barat – 10,49 persen
-
Kabupaten Garut – sekitar 10,2 persen (data tambahan BPS)
-
Kabupaten Tasikmalaya – mendekati 10 persen
Dari daftar tersebut terlihat bahwa wilayah utara dan timur Jawa Barat masih menghadapi tantangan serius dalam mengatasi kemiskinan.
Kota Mangga yang Belum Manis Bagi Warganya
Indramayu punya potensi besar di sektor pertanian, perikanan, hingga energi migas. Namun, potensi itu belum sepenuhnya menjelma menjadi kesejahteraan bagi masyarakat.
Julukan Kota Mangga yang melekat, justru terasa getir ketika disandingkan dengan angka kemiskinan yang tinggi.
Ketimpangan ini menunjukkan adanya persoalan struktural yang lebih dalam: mulai dari distribusi hasil pertanian yang tidak merata, akses pendidikan yang terbatas, hingga lapangan kerja yang belum mampu menyerap tenaga kerja lokal.
Antara Statistik dan Realitas Sosial
Penurunan angka kemiskinan secara rata-rata di Jawa Barat memang patut diapresiasi. Akan tetapi, fakta bahwa ada daerah yang masih tertinggal menegaskan perlunya kebijakan yang lebih menyentuh akar masalah.
Pertanyaan besar pun muncul: bagaimana seorang kepala daerah dengan harta miliaran mampu membalik keadaan dan mengubah wajah Indramayu? Apakah status sebagai kabupaten termiskin hanya akan menjadi catatan statistik tahunan, atau momentum untuk benar-benar berbenah?
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya menurunkan angka kemiskinan di atas kertas, tetapi menghadirkan perubahan nyata di lapangan.
Indramayu dan kabupaten lain yang masih terjebak dalam predikat “termiskin” membutuhkan langkah strategis—baik melalui inovasi kebijakan, optimalisasi potensi lokal, maupun kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.
Editor : Mahendra Aditya