Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pelajar Bogor Ikut Demo di DPR, Berangkat Naik KRL dan Diajak Lewat Media Sosial

Mahendra Aditya Restiawan • Senin, 25 Agustus 2025 | 23:37 WIB
Ilustrasi demo
Ilustrasi demo

RADAR KUDUS - Kehadiran massa aksi di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, pada Senin (25/8/2025), mendapat perhatian publik.

Bukan hanya kalangan mahasiswa atau aktivis yang turun ke jalan, tetapi juga sejumlah pelajar SMA yang ikut bergabung. Kehadiran mereka menambah warna dalam demonstrasi yang digelar di gerbang Pancasila DPR.

Pantauan di lokasi, puluhan siswa masih mengenakan seragam putih abu-abu khas SMA. Sebagian lain memilih melepas seragam mereka dan menggantinya dengan jaket agar tidak terlalu mencolok.

Dua di antara mereka, Abdul (18) dan Reza (16), sempat berbincang dengan wartawan dan menceritakan alasan kehadirannya dalam aksi tersebut.

Baca Juga: Istana Fokus Bagikan Tanda Jasa, Belum Pantau Demo Ricuh di DPR

Bolos Sekolah Demi Aksi

Abdul, siswa SMA Parung, Bogor, mengaku ia sengaja tidak masuk sekolah demi mengikuti aksi di Jakarta. “Kagak (sekolah), cabut,” ungkapnya singkat.

Baginya, aksi ini adalah bentuk kepedulian terhadap kebijakan yang sedang digodok DPR.

“Kalau didiemin aja, nanti keenakan,” lanjut Abdul sambil menekankan bahwa generasi muda tidak boleh pasif dalam menanggapi kebijakan pemerintah. Ia mengaku, kedatangannya bukan atas paksaan siapa pun.

Meski begitu, orang tua Abdul tidak mengetahui bahwa dirinya pergi ke Jakarta untuk berdemo. “(Orang tua) kagak tau,” jelasnya.

Baca Juga: Situasi Memanas di DPR: Demo 25 Agustus Sempat Tutup Akses Tol Dalam Kota

Diajak Lewat Medsos

Alasan keikutsertaan Abdul tidak lepas dari pengaruh teman-temannya. Ia mengaku mendapatkan informasi tentang aksi ini dari media sosial. Ajakan tersebut ramai tersebar dan membuat dirinya tertarik ikut.

Senada dengan Abdul, Reza, pelajar SMA Nanjo, Bogor, juga menyatakan hari itu ia bolos sekolah untuk ikut aksi. “Kagak (sekolah), bolos,” ucapnya.

Bedanya, Reza menyebut orang tuanya mengetahui keberadaannya di Jakarta. Ia mengaku datang dengan rombongan pelajar lain dari Bogor menggunakan transportasi umum. “Naik kereta, KRL,” kata Reza.

Bagi Reza, aksi ini adalah wadah untuk menyampaikan aspirasi. Salah satu isu yang membuatnya gerah adalah persoalan kenaikan pajak yang dirasakan semakin membebani masyarakat. “Aspirasi tentang kenaikan pajak mulu,” tegasnya.

Tidak Ada Bayaran, Murni Inisiatif Sendiri

Isu yang kerap muncul di masyarakat adalah anggapan bahwa massa aksi seringkali digerakkan karena imbalan tertentu.

Namun, Abdul dan Reza menegaskan hal itu tidak berlaku bagi mereka. Keduanya mengaku datang atas kemauan sendiri tanpa ada yang membayar.

Kehadiran mereka semata-mata karena rasa solidaritas dan ingin menyuarakan pendapat. “Ya inisiatif sendiri,” ucap keduanya hampir bersamaan.

Baca Juga: Jakarta Lumpuh: Aksi 25 Agustus Ricuh, Transjakarta Ubah Rute Layanan, Jurnalis Jadi Korban

Situasi Aksi di DPR

Hingga siang menjelang sore, aparat kepolisian melakukan pengamanan ketat di sekitar kawasan DPR.

Massa pelajar seperti Abdul dan Reza sempat bertahan di depan gerbang Pancasila, namun sekitar pukul 15.00 WIB mereka dipukul mundur oleh polisi.

Setelah itu, hanya tersisa satu kelompok dari Universitas Indraprasta (Unindra) yang masih bertahan di lokasi. Beberapa kelompok lain sudah lebih dulu bubar.

Dalam aksi hari itu, massa demonstran membawa sejumlah tuntutan. Di antaranya, mendesak Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) melakukan amandemen agar DPR benar-benar kembali berfungsi sebagai representasi rakyat.

Selain itu, mereka juga menuntut penghapusan tunjangan DPR yang dianggap sebagai bentuk pemborosan anggaran dan simbol privilese pejabat.

Pelajar dan Demokrasi

Kehadiran pelajar dalam aksi ini menimbulkan pro-kontra. Di satu sisi, mereka dianggap masih terlalu muda dan seharusnya fokus belajar di sekolah.

Namun, di sisi lain, keberanian mereka turun ke jalan juga dilihat sebagai bentuk kesadaran politik sejak dini.

Fenomena pelajar ikut demo memang bukan hal baru di Indonesia. Sejak era reformasi, tidak jarang siswa SMA ikut serta dalam aksi massa, baik karena solidaritas, ajakan teman, maupun keresahan terhadap isu tertentu.

Bagi Abdul dan Reza, demonstrasi kali ini adalah pengalaman pertama mereka turun langsung ke pusat kekuasaan. Meski datang dengan seragam sekolah, mereka mengaku ingin menyuarakan keresahan yang dirasakan masyarakat luas.

Kisah Abdul dan Reza menggambarkan wajah baru dalam dinamika demonstrasi di Indonesia. Di era media sosial, ajakan untuk turun ke jalan dapat dengan cepat menyebar hingga ke kalangan pelajar.

Mereka mungkin masih duduk di bangku SMA, namun keberanian menyuarakan aspirasi menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kebijakan publik tidak mengenal usia.

Apakah langkah mereka patut diapresiasi atau justru dikritisi, itu tergantung sudut pandang masing-masing.

Yang jelas, aksi pelajar ini menjadi catatan penting tentang bagaimana generasi muda merespons perkembangan politik dan kebijakan di negeri ini.

Editor : Mahendra Aditya
#Demonstrasi 25 Agustus #Demo DPR 2025 #demo #Demo DPR 25 Agustus #Bolos sekolah unjuk rasa #Pelajar Demo DPR #Puan Tanggapi Aksi Demo #Demontrasi Jakarta