Ngeri! Ini 3 Efek Fatal Senjata Nuklir bagi Tubuh Manusia, Salah Satunya Picu Penyakit Kanker
Redaksi Radar Kudus• Rabu, 25 Juni 2025 | 18:48 WIB
Awan dari ledakan Nuklir
RADAR KUDUS - Senjata nuklir merupakan salah satu ciptaan manusia paling mematikan yang pernah ada, dengan daya rusak luar biasa besar.
Catatan sejarah menunjukkan penggunaannya pertama kali terjadi dalam Perang Dunia II, ketika dua kota besar di Jepang, yakni Hiroshima dan Nagasaki, hancur akibat bom nuklir yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat.
Dampak dari serangan tersebut tidak hanya menghancurkan bangunan dan menewaskan puluhan ribu jiwa secara langsung, tetapi juga menimbulkan paparan radiasi berkepanjangan yang berdampak pada kesehatan generasi berikutnya.
Banyak warga sipil yang menjadi korban, baik akibat ledakan secara langsung maupun karena efek radiasi yang menyebar selama bertahun-tahun setelahnya.
Sejak tragedi yang terjadi pada tahun 1945 itu, senjata nuklir belum pernah lagi digunakan dalam peperangan.
Namun, bayang-bayang ancamannya masih nyata. Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 12.200 hulu ledak nuklir yang tersebar di sejumlah negara di dunia, menjadikannya salah satu potensi ancaman terbesar terhadap stabilitas dan perdamaian global.
Berikut adalah tiga dampak serius yang bisa dialami tubuh manusia akibat paparan senjata nuklir:
1. Luka Bakar Akibat Gelombang Panas dan Radiasi
Dampak awal dan paling cepat dari ledakan nuklir adalah radiasi intens, terutama berupa sinar gamma dan neutron.
Radiasi ini dihasilkan dalam waktu kurang dari satu detik setelah ledakan terjadi dan memiliki kemampuan membunuh dalam radius hampir satu mil dari ledakan sebesar 10 kiloton.
Dikutip dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), meskipun pada sebagian besar senjata modern radiasi langsung tidak menjadi faktor utama kematian karena efek destruktif lain biasanya menjangkau area yang lebih luas, namun tetap saja radiasi sangat berbahaya.
Senjata nuklir yang meledak akan langsung menguapkan dirinya sendiri, berubah dari bentuk padat dan dingin menjadi gas super panas dalam hitungan mikrodetik.
Suhu gas ini bahkan bisa melebihi inti matahari yang mencapai 15 juta derajat Celsius.
Kilatan panas ekstrem yang dihasilkan berlangsung selama beberapa detik dan menyumbang lebih dari sepertiga total energi ledakan.
Panas tersebut dapat menyebabkan kebakaran massal dan luka bakar serius hingga sejauh 20 mil dari pusat ledakan bom nuklir besar.
2. Cedera Fisik Akibat Runtuhan dan Ledakan
Bagi mereka yang selamat dari panas dan radiasi awal, ancaman berikutnya datang dari gelombang kejut yang ditimbulkan oleh ledakan.
Tekanan tinggi dari gelombang tersebut mampu merobohkan bangunan, melemparkan pecahan kaca, dan menyebabkan reruntuhan besar yang sangat berbahaya.
Meskipun tubuh manusia relatif kuat terhadap tekanan itu sendiri, mereka sangat rentan terhadap bahaya sekunder seperti tertimpa bangunan, benda berat, maupun terkena serpihan yang beterbangan dengan kecepatan tinggi akibat gelombang ledakan.
3. Risiko Kanker dari Paparan Bahan Radioaktif
Paparan bahan radioaktif, baik melalui udara maupun makanan dan minuman yang terkontaminasi, membawa risiko jangka panjang yang serius bagi kesehatan manusia.
Bahan radioaktif seperti yodium-131 dapat masuk ke tubuh dan menumpuk pada organ tertentu seperti kelenjar tiroid.
Tragedi ledakan reaktor nuklir Chernobyl pada 1986 menunjukkan bahwa yodium-131 yang tersebar di atmosfer menyebabkan lonjakan kasus kanker tiroid, terutama pada anak-anak yang mengonsumsi susu yang tercemar.
Menurut laporan ABC News, yodium merupakan elemen penting untuk fungsi kelenjar tiroid, dan karena itu tubuh akan menyerapnya dengan cepat.
Ketika yang masuk adalah yodium radioaktif, dosis radiasi yang diterima kelenjar menjadi sangat tinggi.
Meski kanker tiroid termasuk jenis yang bisa diobati, biasanya memerlukan prosedur pengangkatan kelenjar dan pengobatan hormon seumur hidup.
Untungnya, yodium-131 memiliki waktu paruh hanya delapan hari, sehingga tingkat paparannya menurun signifikan dalam beberapa minggu setelah ledakan terjadi. (Labib Azka)