Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Makna Bulan Suro: Sejarah, Tradisi Jawa, dan Keistimewaan 10 Muharram

Redaksi Radar Kudus • Rabu, 25 Juni 2025 | 18:01 WIB
Ilustrasi tradisi Jawa dalam merayakan 1 Suro.
Ilustrasi tradisi Jawa dalam merayakan 1 Suro.

RADAR KUDUS - Bulan Suro, yang merupakan bulan pertama dalam kalender Jawa, memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa.

Istilah Suro sendiri berasal dari kata 'Asyura' dalam bahasa Arab yang berarti "kesepuluh", merujuk pada tanggal 10 Muharram dalam kalender Hijriah.

Dalam pandangan masyarakat Islam di Jawa, bulan Suro identik dengan Muharram, dan tanggal 10 Muharram dianggap sebagai hari suci yang dipenuhi dengan berbagai peristiwa penting dalam sejarah para Nabi.

Pengucapan Asyura yang berubah menjadi Suro menunjukkan bagaimana budaya Islam-Jawa saling berinteraksi.

Bulan Muharram, termasuk Suro, merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam, bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menegaskan pentingnya bulan-bulan ini: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Tradisi Suro dan Hukum Islam

Dalam kajian ilmiah yang ditulis oleh Risma Aryanti dan Ashif Az Zafi dari IAIN Kudus, bulan Suro dipandang sebagai bulan yang sakral dan penuh makna simbolis.

Selama sepuluh hari pertama bulan ini, masyarakat Jawa sering melaksanakan berbagai ritual spiritual sebagai bentuk introspeksi dan pembersihan diri.

Penelitian tersebut menyebutkan bahwa kekeramatan bulan Suro tidak sepenuhnya berasal dari ajaran Islam, melainkan juga dipengaruhi oleh budaya keraton.

Penghormatan terhadap bulan Suro berasal dari dua sumber.

Ajaran Islam tentang kemuliaan bulan Muharram dan warisan budaya lokal yang mengagungkan awal tahun sebagai waktu untuk merenung.

Meskipun praktik tradisi Suro tidak sepenuhnya bersumber dari ajaran Islam, banyak ritual yang dilakukan tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, asalkan tidak mengandung unsur syirik atau khurafat.

Bulan Suro dalam Budaya Islam-Jawa

Di kalangan masyarakat Jawa, istilah Suro bukan hanya sekadar penanggalan, tetapi juga mengandung makna spiritual dan budaya yang kuat.

Sepuluh hari pertama bulan Suro dianggap paling keramat, terutama dari tanggal 1 hingga 10 Muharram.

Persepsi kesakralan ini lebih banyak dipengaruhi oleh tradisi dan budaya keraton daripada doktrin keagamaan yang murni.

Bulan Suro juga dianggap sebagai waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri, yang merupakan bagian dari nilai spiritualitas Jawa yang menggabungkan unsur sufistik Islam dengan budaya lokal.

Oleh karena itu, malam 1 Suro sering diperingati dengan tirakat, doa bersama, dan kegiatan keagamaan lainnya.

Penetapan Kalender Jawa oleh Sultan Agung

Kalender bulan Suro dalam tradisi Jawa ditetapkan oleh Sultan Agung dari Mataram pada tahun 1633 M.

Ia mengganti kalender Saka (Hindu) dengan kalender Jawa-Islami yang mengikuti sistem komariyah atau peredaran bulan, mirip dengan kalender Hijriah.

Kalender Jawa yang ditetapkan Sultan Agung dimulai pada 1 Suro tahun Alip 1555, yang bertepatan dengan 1 Muharram 1043 Hijriah.

Sejak saat itu, penanggalan Jawa mengadopsi konsep waktu Islam, namun tetap mempertahankan unsur budaya lokal.

Keistimewaan 10 Muharram dalam Islam

Tanggal 10 Muharram atau Hari Asyura memiliki makna penting dalam sejarah Islam.

Berbagai peristiwa besar yang berkaitan dengan para Nabi diyakini terjadi pada tanggal ini, seperti yang dicatat dalam kitab Mukasyafah al-Qulub karya Imam Al-Ghazali.

Beberapa peristiwa tersebut antara lain: penciptaan Nabi Adam AS, pengangkatan Nabi Idris AS ke langit, keselamatan Nabi Nuh AS dari banjir besar, dan banyak lagi.

Rasulullah SAW menganjurkan puasa Asyura sebagai bentuk ibadah dan rasa syukur atas peristiwa-peristiwa agung tersebut.

Dalam hadis riwayat Bukhari, disebutkan bahwa puasa Asyura dapat menghapus dosa-dosa kecil selama satu tahun sebelumnya.

Tradisi Satu Suro di Tanah Jawa

Malam 1 Suro diperingati dengan nuansa spiritual dan mistik dalam budaya Jawa.

Pergantian tahun baru Jawa dimulai saat matahari terbenam, berbeda dengan sistem Masehi yang dimulai pukul 00.00.

Masyarakat Jawa menganggap 1 Suro sebagai saat sakral untuk memulai hidup baru, membersihkan diri secara batin, dan merenungkan perjalanan hidup.

Perayaan malam Satu Suro sering diisi dengan tirakat, zikir, ritual keheningan, serta kegiatan budaya seperti kirab pusaka, terutama di wilayah keraton seperti Yogyakarta dan Surakarta.

Bulan Suro atau Muharram menjadi momentum yang kaya akan nilai historis dan spiritual, baik dalam ajaran Islam maupun budaya lokal Jawa.

Dengan berbagai peristiwa besar yang diyakini terjadi pada bulan ini, umat Islam diimbau untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak doa, dan melakukan refleksi diri.

Tradisi Suro menjadi contoh nyata bagaimana nilai-nilai Islam dapat bersinergi dengan budaya lokal masyarakat Indonesia. (Nilna Hibran)

Editor : Ali Mustofa
#suro #Bulan Sura #Suro 2025 #asyura #tahun baru islam 1 muharram #tradisi suroan #bulan Suro #muharram