RADAR KUDUS - Tragedi memilukan kembali mengguncang tanah air. Gunung Kuda di Kabupaten Cirebon menjadi saksi bisu longsor maut yang merenggut 17 nyawa pada Jumat, 30 Mei 2025.
Kejadian ini membuka borok kelalaian dalam sistem pertambangan yang selama ini luput dari perhatian. Kini, dua orang bertanggung jawab resmi ditetapkan sebagai tersangka.
Polresta Cirebon bergerak cepat. Abdul Karim, pemilik tambang sekaligus Ketua Koperasi Pondok Pesantren Al-Azhariyah, bersama dengan Ade Rahman, Kepala Teknik Tambang (KTT), kini harus mempertanggungjawabkan peran mereka dalam insiden ini.
Baca Juga: Longsor di Galian C Gunung Kuda Makan 14 Korban, Tambang Ilegal di Cirebon Akhirnya Ditutup Total!
Kepolisian menyebut, keduanya diduga mengabaikan prosedur keselamatan dan melakukan praktik tambang yang tidak sesuai aturan.
“Kami telah menerima hasil investigasi dari para ahli. Jelas bahwa SOP dan metode penambangan yang digunakan sangat bermasalah,” tegas Kapolresta Cirebon, Kombes Pol Sumarni, kepada wartawan.
Selain 17 korban jiwa yang ditemukan, delapan pekerja lainnya masih dinyatakan hilang dan diduga tertimbun material longsor. Proses evakuasi masih berlangsung hingga kini, meski terkendala cuaca ekstrem dan kondisi tanah yang tidak stabil.
Dedi Mulyadi: “Ini Bukan Lagi Kesalahan Teknis, Tapi Kejahatan Kemanusiaan!”
Menanggapi kejadian tersebut, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tak tinggal diam.
Dalam pernyataannya, ia memberikan apresiasi penuh kepada jajaran kepolisian atas penanganan tegas dan cepat terhadap pengelola tambang yang dinilai lalai.
“Terima kasih kepada Kapolda Jabar, Kapolresta Cirebon, dan seluruh tim yang bergerak cepat menetapkan tersangka dan melakukan penahanan. Ini langkah penting,” kata Dedi dengan nada serius.
Namun, Dedi tak berhenti di sana. Ia langsung mencabut izin operasional tambang Gunung Kuda.
Tak hanya itu, tiga tambang lain di wilayah Jawa Barat juga ikut diberhentikan karena dianggap menyalahi aturan dan tidak menjalankan kewajiban berbasis risiko.
Tindakan ini diambil sebagai bentuk peringatan keras terhadap industri pertambangan yang kerap mengorbankan keselamatan manusia dan alam.
“Saya harap tragedi ini jadi pelajaran menyakitkan tapi penting. Tidak boleh lagi ada pengelola tambang yang mengabaikan keselamatan pekerja dan lingkungan,” tegas Dedi.
Perhutani Kena Semprot: "Urus Hutan, Bukan Tambang!"
Selain itu, Dedi juga menyoroti peran Perhutani dalam kerja sama pengelolaan tambang di kawasan hutan.
Ia mendesak lembaga itu untuk kembali ke fungsi awal sebagai pelindung hutan, bukan justru membuka peluang eksploitasi berisiko tinggi.
“Perhutani harus kembali ke jati dirinya. Fokus lindungi hutan, bukan malah jadi makelar tambang,” ujarnya lantang.
Langkah-langkah keras yang diambil Dedi ini mendapatkan sorotan luas dari publik. Banyak pihak mendukung tindakan tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral dan kepemimpinan yang berani di tengah bencana.
Evakuasi Belum Usai: Harapan dan Duka di Tengah Puing
Sementara itu, tim SAR gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, dan para relawan terus berjibaku di medan berat demi mencari delapan korban yang masih hilang.
Meskipun menghadapi hujan deras dan tanah yang rawan longsor, semangat untuk menyelamatkan nyawa tetap membara.
“Proses ini tak mudah, tapi kami tidak akan menyerah,” kata seorang anggota tim SAR.
Kasus longsor di Gunung Kuda kini menjadi cermin suram wajah industri pertambangan Indonesia yang belum sepenuhnya berpihak pada keselamatan dan keberlanjutan.
Banyak yang berharap tragedi ini menjadi titik balik, agar regulasi dan pengawasan lebih diperketat, serta pengelolaan sumber daya alam dilakukan secara lebih manusiawi dan bertanggung jawab.
Kesimpulan: Teguran Keras untuk Dunia Tambang
Insiden di Gunung Kuda adalah alarm keras bagi semua pihak—dari pemerintah daerah, pemilik tambang, hingga lembaga kehutanan.
Bahwa keselamatan pekerja bukan sekadar formalitas dalam dokumen izin, melainkan harga mati yang harus diprioritaskan.
Ketika nyawa manusia dipertaruhkan demi keuntungan ekonomi, maka saatnya negara turun tangan.
Dengan 17 nyawa yang melayang dan delapan lagi yang belum ditemukan, Gunung Kuda mengingatkan kita bahwa ketamakan bisa membawa petaka jika tidak dibarengi tanggung jawab.
Dan seperti yang dikatakan Dedi Mulyadi: “Jangan pernah lagi bermain-main dengan nyawa dan alam hanya demi cuan tambang.”
Editor : Mahendra Aditya