Program Barak Militer Dedi Mulyadi Bikin Geger: Warga Bermasalah Tak Dikirim ke Penjara, Tapi Justru Dapat Pelatihan dan Gaji
Mahendra Aditya Restiawan• Kamis, 8 Mei 2025 | 18:56 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi
RADAR KUDUS – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali jadi sorotan publik. Bukan karena kontroversi, tapi karena gebrakan barunya yang mengubah pendekatan terhadap warga bermasalah.
Alih-alih menempuh jalur hukum yang kaku dan seringkali tak menyelesaikan akar persoalan, Dedi mengambil langkah berani: mendidik warga yang bermasalah secara militer, lalu memberi mereka pekerjaan dan penghasilan tetap.
Langkah ini bukan hanya mengejutkan, tapi juga menggugah perdebatan tentang model pembinaan sosial yang lebih manusiawi namun tegas.
Pendidikan Militer untuk Rakyat, Bukan Sekadar Tentara
Usai menggulirkan program serupa untuk para pelajar yang terlibat kenakalan remaja, Dedi kini memperluas cakupan ke masyarakat umum.
Menurutnya, banyak warga yang terseret masalah hukum bukan semata karena kriminalitas, tapi karena keterbatasan pendidikan karakter dan ekonomi.
“Daripada mereka terus-menerus terlibat urusan hukum, lebih baik kita didik mereka. Bukan dihukum, tapi dibina. Dan setelah mereka lulus dari pelatihan, kita beri pekerjaan dan gaji,” tegas Dedi.
Program ini dirancang layaknya pelatihan militer—disiplin, terstruktur, dan membentuk mental tahan banting.
Tapi muara akhirnya bukan menjadi prajurit, melainkan warga sipil yang siap kerja dan mampu berdikari.
Gurbernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat KUNJUNGI BARAK RESIMEN 1 KOSTRAD
Dari Masalah Jadi Harapan
Gagasan ini lahir dari keresahan Dedi melihat tingginya angka kenakalan dan pelanggaran hukum skala kecil yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.
Ia menilai bahwa solusi bukan sekadar penjara atau sanksi administratif, melainkan perubahan mentalitas.
Pelatihan di barak militer ini bukan sekadar ‘hukuman gaya baru’, tapi transformasi gaya hidup. Mereka diajari bangun pagi, disiplin waktu, kerja sama tim, dan hidup sehat.
Setelahnya, Pemprov Jawa Barat akan mengarahkan mereka ke sektor pekerjaan formal atau kerja sosial yang sudah disiapkan oleh pemerintah daerah maupun mitra swasta.
“Kita tidak hanya marah atau menghukum, kita hadir untuk memperbaiki. Kalau mereka niat berubah, kita fasilitasi. Yang penting ada kemauan,” ucap Dedi penuh keyakinan.
Solusi Sosial atau Kontroversi Baru?
Meski menuai banyak pujian, tak sedikit pula yang mempertanyakan pendekatan ini. Apakah program ini berpotensi melanggar hak asasi manusia?
Apakah semua warga bermasalah bisa disatukan dalam satu pola pendekatan militer?
Namun bagi Dedi, semua sudah diperhitungkan dengan matang. Program ini bersifat sukarela dan hanya berlaku bagi warga yang terbukti melanggar aturan namun masih dalam skala yang bisa dibina. Mereka tidak dikriminalisasi, tapi diselamatkan dari potensi kehancuran masa depan.
TINJAU: Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (baju putih) ketika meninjau tumpukan sampah di Pasar Gede Bage, Bandung. (YOUTUBE DEDI MULYADI)
Gaji dan Pekerjaan Jadi Hadiah Perubahan
Yang membuat program ini berbeda dari sekadar pelatihan adalah adanya jaminan pekerjaan dan gaji.
Setelah lulus dari barak pelatihan, para peserta tidak dibiarkan terlunta. Mereka akan ditempatkan sesuai dengan bakat dan minat—baik sebagai tenaga kerja teknis, petugas lapangan, atau bahkan relawan sosial bergaji.
Langkah ini tidak hanya mendorong perubahan perilaku, tapi juga memutus mata rantai kemiskinan struktural yang selama ini jadi akar banyak pelanggaran kecil.
Dedi Mulyadi, Pemimpin dengan Arah Tak Biasa
Sosok Dedi memang dikenal unik dalam memimpin. Ia tidak banyak duduk di kantor, tapi turun langsung ke lapangan.
Ia tidak mengikuti arus pendekatan birokrasi lama, tapi menciptakan solusi yang terkesan “liar”, namun penuh logika dan empati sosial.
Program barak militer untuk warga bermasalah ini adalah bukti bahwa pendekatan berbasis keadilan sosial bisa hadir tanpa kekerasan, tanpa stigmatisasi, dan tanpa meninggalkan nilai kemanusiaan.
Saat banyak pemimpin mengandalkan pidato dan pidana, Dedi Mulyadi memilih tindakan dan pembinaan.
Ia menjawab persoalan sosial dengan keberanian dan empati, memberikan jalan baru bagi mereka yang pernah tersesat untuk kembali—tak hanya ke masyarakat, tapi juga ke kehidupan yang lebih bermakna.