Pendiri Geng Jalanan Ini Ingin Jadi Taruna Akmil, Curhat ke Dedi Mulyadi: “Ayah Hilang, Ibu Tak Bekerja” – Balasan Sang Gubernur Bikin Haru!
Mahendra Aditya Restiawan• Kamis, 8 Mei 2025 | 18:45 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi
RADAR KUDUS – Tak semua anak muda yang terjebak dalam dunia kelam geng jalanan benar-benar tak bisa kembali.
Kisah seorang remaja di Bandung ini membuktikan, bahwa niat untuk berubah bisa datang dari siapa saja, bahkan dari pendiri geng itu sendiri.
Dalam kunjungannya ke barak militer tempat rehabilitasi pelajar bermasalah, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bertemu dengan seorang siswa yang pernah menjadi pentolan geng jalanan di kawasan Mohammad Toha, Bandung.
Namun, yang membuat Dedi terkejut bukan hanya pengakuannya sebagai pendiri geng, tapi juga mimpinya yang mulia: menjadi Taruna Akademi Militer (Akmil).
Dari Jalanan ke Barak Militer
Siswa ini mengaku pernah terlibat dalam bentrokan berdarah antar geng. Bahkan, dalam percakapannya dengan Dedi, ia jujur mengatakan biasa menggunakan senjata tajam jenis mandau saat tawuran.
“Pernah nyakitin orang?” tanya Dedi. “Pernah, tapi saya kabur, enggak ketangkep,” jawab siswa itu dengan suara pelan.
Tapi yang membuat hati luluh, adalah jawabannya saat ditanya alasan datang ke barak militer ini: “Saya pengin berubah.”
Mimpi Besar dari Anak Jalanan
Dalam suasana haru, Dedi Mulyadi menggali lebih dalam tentang impian siswa tersebut. Ketika ditanya soal cita-cita, jawabannya membuat ruangan hening: ia ingin menjadi Taruna Akmil.
“Hebat. Anak IPA ya? Bisa itu mah. Semangat, ya,” ujar Dedi dengan tatapan hangat.
Namun di balik keberaniannya berdiri di hadapan gubernur dan mengakui masa lalunya, tersimpan luka yang mendalam.
Sang siswa ternyata tidak pernah mengenal sosok ayah karena orang tuanya bercerai saat ia masih bayi. Sang ibu pun tak memiliki pekerjaan.
Untuk bertahan hidup dan menyelesaikan sekolah, ia hanya bergantung pada bantuan sebuah yayasan sosial.
Dukungan Penuh dari Dedi Mulyadi
Tanpa banyak basa-basi, Dedi langsung menawarkan bantuan finansial untuk pendidikan dan kebutuhan siswa itu, asalkan ia serius meninggalkan dunia kelamnya.
“Kamu enggak usah sedih. Yang penting kamu sungguh-sungguh berubah. Biaya sekolah dan kebutuhan ke depan, kita bantu,” ujar Dedi.
Tak hanya janji kosong, Dedi juga memberi pesan moral yang menyentuh. Ia meminta sang siswa disiplin seperti layaknya calon prajurit—tidak merokok, rajin olahraga, tidur dan bangun tepat waktu.
PENAMPAKAN KEHIDUPAN SISWA BINAAN DODIK RINDAM 3 SILIWANGI ATAS INISIASI PROGRAM GUBERNUR JAWA BARAT
Sosok Pemimpin yang Hadir Saat Dibutuhkan
Di tengah keprihatinan atas maraknya kenakalan remaja di Jawa Barat, kehadiran Dedi Mulyadi di barak militer ini bukan sekadar simbolis. Ia datang, mendengar, dan benar-benar merespons dengan hati.
Program rehabilitasi pelajar melalui pendekatan semi-militer ini menjadi upaya serius dari Pemprov Jabar dalam menyelamatkan generasi muda dari pergaulan destruktif.
Dedi Mulyadi tak hanya memberi arahan dari podium, tapi menyentuh langsung hati anak-anak yang tersesat di jalur kekerasan, dan mengarahkan mereka kembali ke jalan cita-cita.
Di tengah kerasnya kehidupan jalanan, seorang anak muda yang pernah memegang mandau kini menggenggam harapan baru.
Ia tak hanya ingin lepas dari masa lalu kelamnya, tapi juga membuktikan bahwa dari luka dan kehilangan, seseorang bisa bangkit dan bermimpi besar.
Dan di balik kisah itu, ada Dedi Mulyadi—sosok pemimpin yang tak hanya hadir di atas kertas, tapi benar-benar mengulurkan tangan saat dibutuhkan.