Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Profil Kardinal Suharyo, Satu-satunya Wakil Indonesia di Konklaf

Zakarias Fariury • Selasa, 6 Mei 2025 | 15:50 WIB
Kardinal Ignatius Suharyo. (Tiziana Fabi/AFP)
Kardinal Ignatius Suharyo. (Tiziana Fabi/AFP)

RADAR KUDUS - Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta, telah tiba di Roma untuk mengikuti Konklaf, forum tertutup pemilihan Paus baru yang dijadwalkan berlangsung mulai Rabu, 7 Mei 2024.

Ia menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang memiliki hak suara dalam prosesi sakral tersebut, menyusul wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April lalu.

Kedatangan Kardinal Suharyo di Bandara Fiumicino, Roma, pada Minggu pagi (4/5) pukul 08.15 waktu setempat disambut langsung oleh Duta Besar RI untuk Vatikan, Trias Kuncahyono, beserta sejumlah imam Indonesia yang tengah menempuh studi atau menjalani tugas di Italia.

Baca Juga: Mengenal Ignatius Suharyo, Perjalanan Menjadi Kardinal hingga Wakil Indonesia yang Bisa Jadi Paus

Keberangkatan Suharyo semula dijadwalkan pada 4 Mei, namun dimajukan sehari lebih awal atas permintaan Dewan Kardinal.

“Para kardinal harus sudah berkumpul pada 5 Mei untuk memulai rangkaian konklaf,” ujar Susyana Suwadie, Humas Gereja Katedral Jakarta.

Kardinal Suharyo bertolak dari Jakarta pada Sabtu sore (3/5) dengan penerbangan transit melalui Doha.

Sebelum berangkat, ia sempat melayani pertanyaan media dan dengan senyum khasnya menunjukkan sebuah pulpen dari saku sebagai simbol kesiapan.

“Persiapannya: membawa diri dan pulpen,” ujarnya ringan.

Sebelum konklaf resmi dimulai, seluruh pejabat dan staf yang terlibat dijadwalkan menandatangani sumpah kerahasiaan pada Senin (5/5) pukul 17.30 waktu setempat

Kemudian, Misa khusus akan digelar pada Rabu pagi (7/5) pukul 10.00 di Basilika Santo Petrus, disusul prosesi pembukaan konklaf pukul 16.30 di Kapel Paulus.

Baca Juga: Ini Syarat Agar Ignatius Suharyo Bisa Menjadi Paus, Kardinal Asal Indonesia

Para kardinal yang berhak memilih termasuk Suharyo yang kini berusia 73 tahun akan mengikuti prosesi menuju Kapel Sistina untuk mengucap sumpah menjaga kerahasiaan.

Mereka mengenakan jubah sesuai ritus gereja masing-masing, baik Latin maupun Timur. Konklaf akan berlangsung tertutup hingga terpilih seorang Paus baru.

Setibanya di Roma, Kardinal Suharyo turut memimpin Misa Paskah bersama komunitas IRRIKA dan PODI, dua komunitas rohani Indonesia di Italia.

Perayaan Ekaristi yang berlangsung di Roma itu juga dihadiri oleh Dubes RI untuk Italia, Junimart, serta Dubes RI untuk Tahta Suci Vatikan, Trias Kuncahyono.

Perjalanan Panjang Sang Kardinal

Kardinal Ignatius Suharyo lahir di Sedayu, Bantul, Yogyakarta, pada 9 Juli 1950. Masa kecilnya tak lepas dari dinamika spiritual.

Ia sempat bercita-cita menjadi polisi, namun panggilan pastoral datang setelah pertemuan singkat dengan seorang pastor.

Jawaban “iya” yang ia ucapkan pada saat itu membawanya ke Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, pada 1961.

Baca Juga: Suharyo Hardjoatmodjo, Satu-satunya Kardinal Asal Indonesia yang Memenuhi Syarat ikut Konklaf di Vatikan

Latar belakang keluarga juga sarat nuansa religius. Kakaknya, mendiang RP Suitbertus Ari Sunardi OCSO, adalah seorang pastor pertapa di Pertapaan Trappist Rawaseneng.

Jejak spiritual keluarga ini kian kuat ketika Suharyo melanjutkan pendidikan ke Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan, Yogyakarta, dan ditahbiskan menjadi imam pada 26 Januari 1976.

Ia kemudian dikirim ke Roma untuk melanjutkan studi teologi dan meraih gelar doktor dalam bidang Teologi Biblis di Universitas Urbaniana pada 1981.

Sepulang dari Italia, Suharyo aktif sebagai dosen dan pengajar di berbagai institusi, termasuk Sekolah Tinggi Filsafat Kateketik Pradnyawidya dan IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta.

Tonggak baru karier spiritualnya terjadi pada 22 Agustus 1997 ketika ia diangkat sebagai Uskup Agung Semarang menggantikan Mgr Julius Darmaatmadja SJ.

Selanjutnya, pada 29 Juni 2010, ia dipilih sebagai Uskup Agung Jakarta menggantikan pendahulunya yang pensiun.

Baca Juga: Konklaf, Tradisi Pemilihan Paus Baru setelah Paus Fransiskus Meninggal

Kiprah Suharyo dalam dunia Gereja tak hanya terpatri dalam pelayanan pastoral, tetapi juga dalam literasi.

Pada 2017, ia menerbitkan buku biografi berjudul “Terima Kasih, Baik, Lanjutkan”, menandai 20 tahun perjalanannya sebagai uskup.

Pengangkatan tertinggi datang pada 1 September 2019 saat Paus Fransiskus mengangkatnya sebagai kardinal dalam upacara Angelus di Vatikan.

Kini, dengan kehadirannya di Konklaf 2024, Kardinal Suharyo bukan sekadar mewakili Indonesia, tetapi juga membawa harapan umat Katolik Nusantara dalam persimpangan sejarah Gereja Katolik dunia. (*)

Editor : Mahendra Aditya
#ignatius suharyo #indonesia #vatikan #kardinal #sosok #Konklaf #paus baru #kardinal suharyo #profil