RADAR KUDUS - Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day, momen bersejarah bagi jutaan pekerja di seluruh dunia.
Tapi tahukah kamu bahwa di balik perayaan ini, tersimpan kisah kelam, perjuangan berdarah, hingga keputusan berani dari pemerintah Indonesia?
Di tanah air, May Day identik dengan aksi turun ke jalan. Para buruh menyuarakan aspirasi dan tuntutan mereka, berharap pemerintah dan pemangku kebijakan mau mendengar dan bertindak.
Baca Juga: Ini 6 Tuntutan Utama dari Para Buruh saat Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Monas
Sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tepatnya pada 2013, 1 Mei resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Ini bukan sekadar hari libur biasa—ini simbol perjuangan panjang buruh Indonesia.
Sejarah yang Tak Banyak Diketahui: May Day di Indonesia
Peringatan Hari Buruh pertama kali digelar pada 1 Mei 1920, saat Indonesia masih dijajah Belanda.
Buruh waktu itu melawan sistem yang menindas dan menuntut hak dasar mereka. Namun, aksi-aksi tersebut kerap berakhir ricuh.
Pemerintah kolonial merespons dengan pembatasan, hingga pada 1926 perayaan ini dilarang.
Selama masa pendudukan Jepang, dan juga era Orde Baru, peringatan Hari Buruh makin tertekan.
Baca Juga: Lestari Moerdijat: Jadikan Peringatan Hari Buruh Momentum untuk Mengakselerasi Lahirnya UU PPRT
Bahkan dicap sebagai gerakan politik yang membahayakan stabilitas negara. Namun, semangat itu tak padam.
Setelah kemerdekaan, pada 1946, Kabinet Sjahrir mengizinkan kembali perayaan Hari Buruh sebagai bentuk penghormatan terhadap para pekerja.
Puncaknya terjadi di era SBY, saat Keppres No. 24/2013 diteken. Sejak itu, Hari Buruh menjadi hari libur resmi di Indonesia—sebuah pengakuan nyata terhadap kontribusi buruh bagi negeri ini.
Ledakan, Darah, dan Perlawanan: Asal Usul Hari Buruh Dunia
Sejarah internasional May Day jauh lebih dramatis. Bermula dari kegelisahan para pekerja di Amerika dan Eropa pada akhir abad ke-19, akibat eksploitasi besar-besaran selama Revolusi Industri.
Jam kerja tak manusiawi, upah rendah, dan kondisi kerja berbahaya mendorong buruh melakukan perlawanan.
Pada 1 Mei 1886, ratusan ribu pekerja di Amerika Serikat turun ke jalan. Di Chicago, terjadi peristiwa legendaris: Kerusuhan Haymarket.
Aksi damai berubah menjadi tragedi saat sebuah bom meledak pada 4 Mei, menewaskan satu orang.
Polisi merespons dengan brutal—tembakan dilepaskan, banyak yang gugur, dan sejumlah aktivis buruh dihukum berat.
Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah. Meski penuh luka, dunia tak melupakannya.
Setidaknya 66 negara kini menjadikan Hari Buruh sebagai hari libur resmi. Indonesia salah satunya.
May Day bukan sekadar tanggal merah di kalender. Ia adalah simbol perjuangan, pengorbanan, dan harapan akan kehidupan kerja yang lebih adil.
Jadi, saat kamu menikmati libur 1 Mei, ingatlah: hak itu tak datang begitu saja. Ia diperjuangkan—dengan keringat, suara, bahkan darah. (*/him)
Editor : Ali Mustofa