Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Duka Gontor 5 Magelang: Tembok Tandon Air Roboh Tewaskan 4 Santri, Ini Fakta dan Identitas Korban!

Asri Kurniawati • Sabtu, 26 April 2025 | 17:40 WIB

Proses evakuasi korban runtuhnya tembok tandon air di Pondok Gontor 5.
Proses evakuasi korban runtuhnya tembok tandon air di Pondok Gontor 5.

 

RADAR KUDUS - Tragedi memilukan melanda Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 5 Darul Qiyam, Dusun Gadingsari, Desa Mangunsari, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Pada Jumat, 25 April 2025, pukul 10:30 WIB, tembok tandon air roboh, menewaskan empat santri, melukai 11 lainnya, dan merusak fasilitas pesantren.

Identitas korban telah diumumkan, sementara proses evakuasi dan penyelidikan terus berlangsung di tengah duka mendalam.

 

Baca Juga: Breaking News! BMKG Peringatkan Kembali tentang Gempa Megathrust yang Ancam Indonesia. Kapan?

Insiden tragis ini terjadi saat puluhan santri sedang antre mandi di belakang kamar mandi asrama untuk mempersiapkan salat Jumat.

Menurut Imam Haryadi, M.Si, Pengasuh Pondok Modern Gontor 5 Sawangan, tandon air yang terletak di belakang kamar mandi tiba-tiba runtuh, menimpa santri yang sedang mengantre.

“Kejadiannya sangat cepat. Beberapa santri terjebak di bawah reruntuhan, sementara yang lain berhasil diselamatkan,” ujarnya, seperti dilaporkan situs resmi BPBD Kabupaten Magelang.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang mencatat, total 29 santri terdampak kejadian ini.

 

Baca Juga: Diadili di Pengadilan Tipikor Semarang, Kepala Disnakerperinkop UKM Kudus Rini Kartika Didakwa Korupsi Rp5,2 Miliar

Yaitu 4 santri meninggal dunia (MD), 11 santri luka-luka dan harus menjalani perawatan intensif di RSUD Merah Putih Magelang.

Serta 14 santri dinyatakan sehat dan tidak memerlukan perawatan medis.

Tim gabungan dari Kepolisian, TNI, BPBD, Tim SAR, Damkar, PMI, Puskesmas, dan relawan segera dikerahkan untuk mengevakuasi korban.

Proses evakuasi berlangsung hingga malam hari karena beberapa korban terjebak di bawah puing-puing beton.

Identitas Korban Meninggal

Berdasarkan laporan resmi BPBD Kabupaten Magelang, keempat santri yang meninggal dunia berhasil dievakuasi pada waktu berbeda.

Berikut identitas mereka:

1. Wildan, asal Surabaya, dievakuasi pukul 18:00 WIB.

2. Reyfhan Hafidz, asal Tangerang, dievakuasi pukul 19:20 WIB.

3. Bima Arya, asal Surabaya, dievakuasi pukul 20:00 WIB.

4.Fadil Hanafi, asal Depok, dievakuasi pukul 23:30 WIB.

Sementara itu, sebanyak 11 santri yang luka-luka kini dirawat di RSUD Merah Putih Magelang.

Direktur RSUD Merah Putih, dr. Leli Puspitowati, menyatakan bahwa beberapa korban mengalami patah tulang, termasuk satu pasien dengan patah tulang terbuka yang dirujuk ke rumah sakit lain untuk penanganan lebih lanjut.

 

Baca Juga: Yang Ditunggu Akhirnya Datang, BPBD Kudus Ungkap Normalisasi Sungai JU1 Dikerjakan Tahun Ini

“Kami memastikan perawatan intensif bagi semua korban. Sebagian besar stabil, tapi ada yang perlu observasi lebih lanjut,” ujarnya.

Selain korban jiwa dan luka, kejadian ini menyebabkan kerusakan signifikan pada tandon air dan kamar mandi di area asrama.

Struktur tembok yang runtuh, dengan tinggi sekitar 3-4 meter dan panjang 10 meter, meninggalkan puing-puing yang menghambat evakuasi.

Pihak pondok segera menjalin koordinasi dengan BPBD dan instansi terkait untuk melaksanakan kaji cepat serta penanganan darurat.

Tragedi ini mendapat perhatian besar dari Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Magelang.

Bupati Magelang Grengseng Pamuji, Kapolresta Magelang, Dandim 0705/Magelang, dan Ketua DPRD Kabupaten Magelang turun langsung ke lokasi untuk mendampingi evakuasi dan memberikan dukungan kepada keluarga korban.

“Kami ikut berduka dan akan memastikan penanganan terbaik bagi korban,” ujar Bupati Grengseng.

Polres Magelang sedang menyelidiki penyebab runtuhnya tandon air.

Dugaan awal yang diungkapkan oleh Guru Senior Gontor 5, Muhib Huda Muhammadi, menyatakan bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh tanah longsor yang telah melemahkan struktur tembok.

“Tanah di area itu longsor, mungkin karena tekanan air atau faktor lain,” katanya.

Penyelidikan juga mencakup pemeriksaan kualitas konstruksi dan riwayat perawatan fasilitas.

Pihak Pondok Gontor 5 menyampaikan duka cita mendalam dan berkomitmen mendampingi keluarga korban.

“Kami menganggap ini bencana yang tidak terduga. Kami akan bekerja sama penuh dengan pihak berwenang,” ujar Imam Haryadi.

Baca Juga: Skandal Besar! Sekjend PDIP Hasto Kristiyanto Dituduh Talangi Rp1,5 M dan Suruh Tenggelamkan Ponsel demi Harun Masiku

Pihak pesantren dan pemerintah daerah berjanji untuk mengevaluasi keamanan fasilitas di Gontor 5 dan lembaga pendidikan lainnya di Magelang.

BPBD Kabupaten Magelang akan terus memantau situasi, sementara hasil penyelidikan diharapkan memberikan kejelasan tentang penyebab tragedi, termasuk kemungkinan kelalaian dalam pemeliharaan bangunan.

"Kami mengajak masyarakat untuk mendoakan agar para santri yang meninggal dunia diterima di sisi Allah SWT, korban luka segera pulih, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," ujarnya. (Asri Kurniawati)

Editor : Ali Mustofa
#santri gontor meninggal #magelang #santri gontor tewas #Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor 5 #gontor. santri meninggal #Gontor 5 Magelang #Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 5 Magelang #Santri #Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Kampus 5 Darul Qiyam #santri gontor #BPBD Kab Magelang