RADAR KUDUS - Kabar duka menyelimuti dunia seni dan kuliner Daerah Istimewa Yogyakarta. Hamzah Sulaiman, pendiri restoran ikonik House of Raminten sekaligus tokoh sentral di balik karakter budaya “Raminten”, meninggal dunia pada Kamis (24/4/2025) dalam usia 75 tahun.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi mengenai penyebab wafatnya.
Hamzah dikenal luas tak hanya sebagai pengusaha sukses, namun juga sebagai seniman yang meninggalkan jejak kuat dalam dunia seni dan kebudayaan Yogyakarta.
Karakter “Raminten” yang ia perankan menjadi simbol unik dari perpaduan seni, kuliner, dan kearifan lokal yang berhasil memikat hati masyarakat.
Berikut fakta menarik tentang berdirinya Raminten:
Baca Juga: Ini Syarat Agar Ignatius Suharyo Bisa Menjadi Paus, Kardinal Asal Indonesia
1. Dari Mirota ke Hamzah Batik
Perjalanan panjang Hamzah Sulaiman dimulai sejak tahun 1979, ketika ia melanjutkan usaha toko makanan milik orang tuanya yang bernama Mirota.
Kecintaannya terhadap seni dan budaya, khususnya batik, mendorongnya untuk mengembangkan toko tersebut menjadi toko batik yang kini dikenal sebagai Hamzah Batik.
Perubahan nama dari Mirota ke Hamzah Batik bukan sekadar strategi bisnis, melainkan sebagai bentuk penghormatan terhadap dirinya sendiri yang kelak ingin dikenang melalui warisan budaya tersebut.
2. Lahirnya Sosok Raminten dari Dunia Ketoprak
Sosok Raminten pertama kali diperkenalkan oleh Hamzah dalam sebuah pertunjukan ketoprak di televisi lokal lebih dari dua dekade silam.
Dengan latar belakang sebagai seniman tari dan peran sejak masa sekolah, Hamzah menciptakan karakter fiktif perempuan Jawa yang lembut, humoris, dan cerdas.
Karakter tersebut dengan cepat meraih popularitas dan menjadi ikon pentas seni di berbagai acara, hingga kemudian menginspirasi Hamzah untuk membuka usaha berbasis karakter Raminten sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat.
3. Hamzah Batik Bangkit dari Kebakaran
Hamzah Batik sempat mengalami cobaan berat ketika bangunan utamanya terbakar habis. Namun, usaha ini berhasil bangkit dan direvitalisasi menjadi gedung tiga lantai yang lebih modern.
Kini, di dalam kompleks tersebut berdiri Raminten Resto dan Raminten Photography Studio, memperluas jangkauan usaha ke sektor kuliner dan seni visual.
Lantai pertama toko menyajikan aneka produk batik dan aksesoris, sementara lantai dua menyediakan beragam suvenir khas Yogyakarta.
Di lantai tiga, pengunjung dapat menikmati sajian makanan khas, pertunjukan kabaret, hingga layanan foto tematik.
4. Raminten Cabaret: Panggung Hiburan dan Ekspresi Budaya
Salah satu daya tarik utama di lantai tiga Hamzah Batik adalah Raminten Cabaret, sebuah pertunjukan seni panggung yang kini menjadi ikon hiburan malam di Yogyakarta.
Menampilkan para aktor cross-dresser dengan beragam peran dan karakter, cabaret ini memadukan komedi, parodi, dan budaya populer.
Pertunjukan tersebut menampilkan sosok-sosok mirip selebriti ternama seperti Agnez Mo, Anggun, hingga Nicki Minaj versi kabaret. Para pemainnya merupakan seniman lokal dengan dedikasi tinggi terhadap dunia seni pertunjukan.
Baca Juga: Profil Kardinal Peter Erdo, Kandidat Penerus Paus Fransiskus Asal Hungaria
5. The House of Raminten: Restoran Bernuansa Jawa
Tahun 2008 menjadi tonggak penting dalam perjalanan bisnis Hamzah. Ia mendirikan The House of Raminten, restoran bernuansa Jawa yang menghadirkan pengalaman budaya secara menyeluruh.
Mulai dari desain bangunan bergaya pendopo, alunan musik gendhing, hingga aroma dupa dan pakaian khas para pelayan, semuanya menciptakan atmosfer yang autentik.
Restoran ini kemudian berkembang menjadi jaringan bisnis lain seperti The Waroeng of Raminten, Raminten 3 Resto, hingga produk Bakpia Raminten.
Meski usahanya terus meluas, Hamzah menegaskan bahwa motivasi utamanya adalah membuka lapangan pekerjaan dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar, bukan mengejar keuntungan semata.
Baca Juga: Mengenal Kardinal Pietro Parolin, Salah Satu Kandidat Penerus Paus Fransiskus
Warisan Abadi Sang Budayawan
Kiprah Hamzah Sulaiman dalam dunia seni dan budaya Yogyakarta meninggalkan warisan yang tak ternilai.
Sosoknya tidak hanya dikenang sebagai pencipta karakter Raminten, tetapi juga sebagai pelopor dalam mengintegrasikan budaya lokal ke dalam dunia usaha dengan penuh dedikasi dan kecintaan.
Meninggalnya Hamzah menjadi kehilangan besar bagi dunia seni dan budaya Yogyakarta.
Namun, karakter Raminten yang ia lahirkan akan terus hidup dan menjadi bagian dari identitas budaya kota ini.
Raminten bukan sekadar nama, melainkan simbol dari semangat pelestarian budaya, inklusivitas, dan kreativitas yang abadi. (*)
Editor : Ali Mustofa