Guru Honorer Dapat Tunjangan Rp500 Ribu Mulai 2 Mei! Kado Presiden Prabowo di Hari Pendidikan?
Mahendra Aditya Restiawan• Kamis, 24 April 2025 | 13:30 WIB
Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia
RADAR KUDUS – Sebuah kabar menggembirakan berhembus kencang dari Istana.
Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2025, Prabowo disebut akan meluncurkan program tunjangan khusus bagi guru non-PNS (guru honorer) dengan nominal yang cukup menggiurkan: Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per bulan!
Kabar ini muncul dari pernyataan Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, usai rapat tertutup bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (22/4).
Lalu menyebut bahwa tunjangan ini merupakan bentuk nyata perhatian Presiden Prabowo terhadap dunia pendidikan, khususnya kesejahteraan para guru non-ASN yang selama ini seringkali merasa seperti "anak tiri" dalam sistem penggajian nasional.
Menurut Lalu, program ini sedang dalam tahap finalisasi, terutama dalam hal perhitungan jumlah penerima dan besaran pasti tunjangannya.
Namun, yang sudah pasti, kebijakan ini akan diumumkan langsung oleh Prabowo pada 2 Mei mendatang.
"Ini akan diumumkan resmi secara langsung oleh Presiden Prabowo tanggal 2 Mei. Ini bentuk perhatian beliau terhadap dunia pendidikan kita,” ujar Lalu.
Meskipun angka pastinya masih dirapatkan, Lalu memastikan bahwa rentang tunjangan berada di kisaran Rp300 ribu hingga Rp500 ribu.
Pemerintah saat ini tengah memetakan jumlah guru non-PNS yang berhak menerima bantuan ini, berdasarkan kualifikasi dan kriteria tertentu.
Guru Honorer: Gaji Pas-Pasan, Beban Segunung
Selama bertahun-tahun, guru non-PNS atau honorer telah menjadi tulang punggung pendidikan di pelosok Indonesia.
Sayangnya, mereka sering harus berjuang dengan penghasilan yang tidak layak, tanpa tunjangan tetap, dan minim perlindungan sosial.
Beberapa dari mereka bahkan hanya menerima honor di bawah Rp500 ribu per bulan—jumlah yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup, apalagi jika mereka tinggal di daerah urban.
Kebijakan tunjangan dari Presiden Prabowo ini pun dianggap sebagai angin segar di tengah beban panjang yang mereka pikul.
Walau jumlahnya belum sepenuhnya ideal, namun pengakuan resmi dari negara terhadap perjuangan mereka menjadi hal yang sangat dinanti.
INTERAKTIF: Para siswa di SDN 1 Srobyong ikuti fun learning oleh salah satu guru.
Mengapa Ini Penting?
Kesejahteraan guru adalah fondasi kualitas pendidikan. Saat guru mendapatkan dukungan yang layak dari negara, maka mereka dapat mengajar dengan tenang, fokus, dan sepenuh hati.
Sebaliknya, guru yang tertekan karena gaji minim akan sulit memberikan kualitas terbaik dalam proses belajar-mengajar.
Dengan langkah ini, Prabowo tidak hanya mengumumkan tunjangan—ia sedang membangun pondasi kepercayaan antara pemerintah dan dunia pendidikan.
Ia mengirimkan pesan bahwa guru non-PNS tidak lagi dilupakan.
Tantangan di Depan Mata
Kendati kabar ini menggembirakan, banyak pihak mengingatkan agar program ini tidak berhenti di tataran wacana.
Pemerintah harus memastikan bahwa mekanisme penyaluran dana jelas, adil, dan transparan.
Jangan sampai guru yang benar-benar berhak justru luput, sementara yang tidak memenuhi syarat justru kebagian.
Selain itu, penting juga agar program ini berkelanjutan. Tunjangan jangan hanya hadir di tahun pertama pemerintahan, lalu menghilang di tengah jalan.