Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Gebrakan Baru Kang Dedi Mulyadi: Pindah Pelat Nomor Kendaraan dari Luar Jawa Barat Kita Gratiskan Biaya Mutasi

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 9 April 2025 | 17:03 WIB

 

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi

RADAR KUDUS – Gedung Sate pagi itu mendadak riuh dengan berbagai arahan dan interaksi langsung Gubernur Jawa Barat yang penuh semangat.

Bukan hanya sekadar inspeksi mendadak (sidak), namun lebih menyerupai sebuah orasi berenergi tinggi.

Dari soal tambang liar, anak-anak jalanan, hingga strategi penanganan pasien gangguan jiwa pasca perawatan, semua dibahas lugas dan tanpa basa-basi.


Pajak Kendaraan Gratis: Jangan Rusak Jalan Jabar, Bayar Pajak di Daerah Asal!

Gebrakan pertama yang diumumkan adalah insentif pajak kendaraan.

Mulai 9 April hingga 30 Juni 2025, warga maupun perusahaan yang memindahkan pelat nomor kendaraan dari luar Jawa Barat ke dalam provinsi akan dibebaskan dari pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama (BBNKB).

"Mobil-mobil beroperasi di Jabar tapi bayar pajaknya di luar daerah? Jalan kita rusak, pajaknya dinikmati provinsi lain. Mulai sekarang, kita gratiskan biaya mutasi,” tegasnya.

Baca Juga: Gaji PNS, TNI, Polri dan Pensiunan Naik 16 Persen? Ini Penjelasan Sri Mulyani


Tindakan Tegas untuk Bangunan yang Cemari Lingkungan

Dalam dialog santai namun serius, Gubernur Dedi Mulyadi juga menyinggung soal bangunan di kawasan resapan air yang sudah mengantongi izin, namun masih berdampak negatif terhadap lingkungan.

“Meski sudah berizin, kalau ada dampak lingkungan yang nyata, kita bisa segel. Bidang Gakkum (Penegakan Hukum) harus bergerak cepat!” ujarnya kepada jajaran dinas terkait.


RSJ dan Pasien Pasca Rawat: Obat Tak Boleh Putus

Persoalan kesehatan mental juga tak luput dari perhatian. Menurut Gubernur, pasien gangguan jiwa yang sudah stabil kerap kambuh kembali karena tak bisa membeli obat.

“Kita harus cari skema bantuan, bisa dari CSR perusahaan atau dari dana dinas. Obat tidak boleh putus! Jangan sampai keluarga bingung dan pasien mengamuk di rumah,” tegasnya.


Sampah, Desa, dan Bantuan Provinsi: Satu Paket!

Isu pengelolaan sampah pun menjadi sorotan. Kini, desa-desa hanya akan mendapatkan bantuan provinsi jika sudah mampu mengelola sampah dengan baik.

“Kalau sampah aja belum bisa kelola, masa harus Gubernur yang turun tangan ke desa? Kita akan sinkronisasi dan verifikasi desa yang siap,” ujarnya kepada perwakilan DPMD.


120.000 Warga Jabar Belum Punya Listrik: 80 Tahun Merdeka, Tapi Masih Gelap?

Fakta mencengangkan juga muncul: masih ada 120 ribu warga Jabar yang belum menikmati listrik. Alasannya terbagi dua—tak mampu bayar dan wilayahnya belum terjangkau jaringan.

“Kita cari solusinya. Kalau jaringan belum masuk, pakai solar cell. Masa 80 tahun merdeka masih ada warga hidup tanpa listrik?” serunya lantang.


Dari Kotoran Sapi Jadi Gas: Desa Mandiri Energi

Dengan semangat inovasi, Gubernur menceritakan pengalamannya mengalirkan gas rumah tangga dari kandang sapi.

Ia menantang dinas terkait untuk menciptakan desa mandiri energi berbasis limbah ternak dan pertanian.

“Kalau tiap daerah punya sapi dan bisa dimanfaatkan gasnya, itu energi mandiri. Pupuknya juga organik,” ujarnya penuh antusias.


Teguran Keras untuk Dinas Perlindungan Perempuan: “Kalau Anak Jalanan Masih Banyak, Saya Tutup Dinassnya!”

Salah satu momen paling mengejutkan adalah saat Gubernur menegur langsung Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

“Kalau di Bandung saja masih banyak anak jalanan, dinas ini saya tutup! Turun ke lapangan, masing-masing ambil satu anak, jadikan tukang sapu, itu baru kerja nyata!” katanya penuh emosi.

Arahan itu direspons dengan janji langsung dari para pejabat terkait untuk bergerak hari itu juga.

Baca Juga: Dua Tendangan Bebas Declan Rice Hancurkan Real Madrid! Arsenal Tancapkan Satu Kaki di Semifinal Liga Champions


Literasi dan Perpustakaan: Baca Buku Lebih Baik daripada Layar

Kepada Dinas Perpustakaan, Gubernur meminta agar literasi kembali digaungkan. Buku-buku harus diperbanyak dan minat baca ditingkatkan.

“Orang baca buku itu lebih kuat nempelnya dibanding baca dari HP. Sekarang saatnya dorong anak-anak baca buku lagi!” katanya.


Reformasi Dunia Tenaga Kerja: Tak Boleh Ada Lagi Diskriminasi Usia!

Menutup serangkaian kritik dan arahan, Gubernur juga mengingatkan Dinas Ketenagakerjaan agar memperjuangkan penghapusan batasan usia kerja yang sering jadi hambatan, khususnya di sektor swasta.

“Orang tua lebih rajin, lebih loyal. Jangan diskriminatif! Dan tolong, jangan hanya aktif waktu demo buruh saja,” sindirnya tajam.


Sawah dan Pertanian: Dari Panen Seremonial ke Percontohan Serius

Gubernur juga mendorong pertanian berbasis edukasi dan percontohan. Salah satunya dengan membina langsung sawah-sawah yang masih aktif di perkotaan seperti di Kota Bandung.

“Kepala dinasnya punya sawah atau tidak? Harus langsung praktik, jangan hanya teori,” katanya sembari menyindir dengan nada guyon.


Kesimpulan: Bukan Cuma Gagasan, Tapi Tindakan!

Pidato penuh energi ini tidak hanya menyajikan sederet wacana, tetapi juga perintah eksekusi. Semua dinas diinstruksikan untuk turun langsung ke masyarakat.

“Ini bukan soal seremoni. Ini soal jadi petarung! Kalau cuma kerja administratif, semua bisa. Tapi kerja nyata? Itu baru luar biasa!” pungkasnya.

Dengan gaya kepemimpinan yang blak-blakan dan aksi cepat, Gubernur Jabar kembali menegaskan komitmennya: melayani rakyat bukan dengan teori, tapi dengan aksi nyata.

Editor : Mahendra Aditya
#Dedi Mulyadi #Gubernur Jabar Dedi Mulyadi #gubernur jawa barat dedi mulyadi #Dedi Mulyadi Pendidikan #Gubernur Dedi Mulyadi #Dedi Mulyadi Minta PTPN Hentikan Alih Fungsi Lahan di Puncak #pemerintahan Dedi Mulyadi #teguran Dedi Mulyadi #tanggapan dedi mulyadi soal ridwan kamil #Dedi Mulyadi Larang Wisuda TK #Dedi Mulyadi Hapus PR