RADAR KUDUS – Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara. Kerajaan ini didikan oleh Raden Wijaya, cucu dari Raja Singasari.
Kerajaan ini didikan pada abad ke-13 dan berakhir pada adab ke-16. Kerajaan Mataram memiliki raja-raja yang memiliki dan disukai oleh masyarakat seperti Raden Wijaya, Hayam Wuruk, hingga Prabu Brawijaya.
Namun siapa sangka, kerajaan ini juga memiliki raja yang bertabiat buruk dan dibencai rakyat Majapahit.
Sosok itu yakni Raja Jayanegara, raja kedua kerajaan Majapahit sekaligus anak dari Raden Wijaya.
Profil Raja Jayanegara
Dalam kitab Negarakertagama, putra Raden Wijaya bernama Jayanegara. Namun dalam kitab Pararaton, dia dikenal dengan nama Kalagemet yang berarti “lemah” dan “buruk”.
Konon nama Kalagemet disematkan sebagai sindiran terhadap perilaku Jayanegara yang kerap menyakiti rakyat Majapahit.
Jayanegara merupakan putra dari raja pertama sekaligus pendiri kerajaan Majapahit yakni Raden Wijaya. Jayanegara merupakan anak Raden Wijaya dengan Dara Petak, seorang perempuan Melayu.
Sosok Jayanegara dikisahkan sebagai orang yang berbeda jauh dengan sang ayah. Dia memiliki tabiat buruk, sehingga banyak rakyat yang membencinya.
Selama memimpin (1309-1328), Kerajaan Majaphit dilanda banyak pergolakan dan pemberontakan.
Salah satu penyebabnya karena ketidaksenangan sebagai pejabat dan rakyat Majapahit kepada sang raja yang berdarah Melayu. Tak hanya itu, Jayanegara juga dianggap bertabiah buruk dan lemah.
Meski didampingi oleh pengawal setia bernama Gajah Mada, seorang mahapahit terkenal Kerajaan Majapahit (Raja Hayam Wuruk), tetapi Jayanegaratetap tidak terhindar dari pemberontakan.
Sejumlah pemberontakan besar terjadi pada masa kepemimpinany. Pemberontakan pertama dipimpin oleh Ranggalawe pada 1309, diikuti Lembu Sora pada 1311.
Ranggalawe dan Lembu Sore diketahui pengikut setia Raden Wijaya. Namun keduanya berbalik menentang Jayanegara karena kecwa dengan kepemimpinan Jayanegara.
Pemberontakan terbesar datang dari Kuti pada 1319 yang saat itu berhasil menduduki istana dan memaksa Jayanegara melarikan diri ke Bdamder. Namun berkat kecerdasan Gajah Mada, Kuti dan pasukannya berhasil dikalahkan.
Kisah tragis Jayanegara tidak berhenti pada pemberontakan saja. Meski berkali-kali selamat dari pemberontakan, Raja Jayanegara akhirnya tewas usai ditikam oleh Tanca, salah satu abdi ndalem kerajaan yang istrinya digoda oleh raja.
Dalam kitab Pararaton dikisahkan bahwa saat itu Raja Jayanegara sedang menderita bisul dan memanggil Tanca untuk mengobatinya. Saat menjalani pengobatan, Tanca malah menikam Jayanegara hingga tewas.
Kendati demikian, misteri kematian Raja Jayanegara masih menjadi perbedatan sejarawan. Ada versi yang menyebutkan bahwa Gajah Mada yang sebenarnya dalang di balik pembunuhan tersebut. Itu dilakukan agar bisa menyingkirkan Raja Jayanegara.
Versi satu ini diperkuat tafsir sejarah dalam buku Tafsir Sejarang Kertagama dan buku Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara.
Candi Bajang Ratu
Usai meninggal dunia, Raja Jayanegara pada 1328 didharmakan di Candi Srenggapura di Kapopongan. Kendati demikian, Candi Bajang Ratu di Desa Temon, Trowulan, Mojokerto dianggap sebagai tempat penghormatan untuk Raja Jayanegara.
Mitos lokal menyebutkan bahwa Raja Jayenegara merupakan raja gagal dan para pejabat yang mengunjungi Candi Bajang Ratu harus memutar dari sisi kiri atau kanan jika tidak ingin kehilangan jabatan.
Editor : Noor Syafaatul Udhma