RADAR KUDUS - Hujan yang saat ini mengguyur sejumlah wilayah di Indonesia, tidak menandakan peralihan dari musim kemarau menuju musim penghujan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa fenomena hujan yang terjadi akhir-akhir ini lebih disebabkan oleh gangguan atmosfer, bukan karena transisi menuju musim penghujan yang umumnya dimulai pada Oktober.
Kepala Kelompok Operasi (Kapoksi) Stasiun Geofisika III BMKG Nganjuk, Tekad Sumardi, menjelaskan bahwa hujan yang terjadi saat ini dipicu oleh sejumlah fenomena atmosfer global, seperti aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Rossby Equatorial.
Baca Juga: Gandeng BMKG, Kominfo Segera Siapkan Sistem Peringatan Dini Gempa Megathrust ke WhatsApp dan TV
“Gangguan atmosfer ini memicu pertumbuhan hujan awan di beberapa wilayah, namun hujan tersebut bersifat lokal dan tidak menandakan pelestarian musim,” jelas Tekad, Senin (10/9).
Pengaruh Madden Julian Oscillation (MJO) dan Gelombang Kelvin
Tekad menuturkan, Madden Julian Oscillation (MJO) adalah salah satu faktor utama yang berperan dalam meningkatkan curah hujan di wilayah tropis seperti Indonesia.
MJO merupakan gelombang atmosfer yang bergerak dari barat ke timur melintasi Samudra Hindia dan Pasifik, menyebabkan peningkatan aktivitas konvektif yang mendorong terbentuknya awan hujan.
Selain itu, Gelombang Kelvin dan Rossby Equatorial juga berkontribusi terhadap terbentuknya pola cuaca yang tidak stabil di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur.
“Keberadaan Gelombang Kelvin dan Rossby Equatorial belakangan ini menyebabkan peningkatan pertumbuhan awan yang kemudian memicu terjadinya hujan lokal. Hal ini sering kali terjadi pada periode transisi antara musim kemarau dan musim penghujan, namun belum bisa dianggap sebagai tanda pasti peralihan musim,” tambahnya.
Baca Juga: Heboh, Peta Pulau Jawa berwarna Merah, Ini Penjelasan BMKG
Meskipun hujan yang turun memberikan kesegaran di tengah cuaca panas yang melanda banyak wilayah, BMKG menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh menganggap hujan ini sebagai awal musim penghujan.
Berdasarkan data meteorologi, musim kemarau diperkirakan masih akan berlanjut hingga setidaknya bulan Oktober.
Hujan yang turun saat ini lebih bersifat sementara dan dipengaruhi oleh faktor gangguan atmosfer.
Musim Kemarau Diprediksi Berlanjut hingga Oktober
Tekad menambahkan bahwa musim kemarau di Indonesia belum sepenuhnya berakhir. Berdasarkan pantauan cuaca BMKG, musim kemarau diperkirakan akan bertahan hingga akhir Oktober, sebelum memasuki musim penghujan yang biasanya terjadi pada kuartal terakhir tahun.
“Musim penghujan baru akan mulai dirasakan secara luas pada bulan Oktober, sehingga masyarakat perlu memahami bahwa hujan saat ini hanya fenomena sementara,” kata Tekad.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk tidak terkecoh dengan hujan yang turun di beberapa wilayah.
Meskipun terlihat seperti indikasi datangnya musim hujan, curah hujan saat ini belum merata dan intensitasnya cenderung rendah.
Baca Juga: Terkait Zona Merah Megathrust, BMKG Ungkap Daerah yang Terancam Gempa Besar Berulang, Mana Saja?
Hujan yang turun disebabkan oleh gangguan atmosfer dan tidak memiliki kaitan langsung dengan perubahan musim. “Fenomena seperti ini sering kali terjadi saat terjadi anomali cuaca di lapisan atmosfer atas, namun tidak berarti musim kemarau sudah berakhir,” lanjutnya.
Dengan musim kemarau yang masih berlangsung, BMKG meminta masyarakat untuk tetap waspada terhadap kondisi cuaca yang tidak menentu.
Meski hujan turun di beberapa wilayah, risiko cuaca ekstrem, seperti angin kencang, masih bisa terjadi, terutama di daerah-daerah yang sedang dilanda kekeringan.
Angin kencang sering kali mendahului hujan lokal, yang dapat menimbulkan kerusakan jika tidak diantisipasi dengan baik.
“Potensi angin kencang masih tinggi selama periode ini, terutama di wilayah yang kering. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memperhatikan informasi cuaca terbaru dari BMKG agar dapat mempersiapkan diri terhadap perubahan cuaca yang cepat,” ujar Tekad.
Selain itu, BMKG juga menyarankan masyarakat untuk tidak sembarangan menafsirkan perubahan cuaca.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca BMKG, Hujan dan Kondisi Berawan di Berbagai Wilayah di Indonesia
Informasi cuaca yang akurat dan diperbarui secara berkala sangat penting untuk menghindari kesalahan persepsi mengenai musim dan potensi cuaca ekstrem.
“Informasi cuaca resmi dari BMKG harus menjadi acuan utama bagi masyarakat dalam merencanakan aktivitas mereka selama masa transisi ini,” tutup Tekad.
Editor : Noor Syafaatul Udhma