RADAR KUDUS – Kuasa Hukum Keluarga Dokter Aulia PPDS Misyal Achmad menceritakan bagaimana almarhum sempat melakukan tugas biasa sebelum dirinya meninggal.
Dokter Aulia diketahui sempat visit ICU dan melakukan “pekerjaan biasa”nya sebagai dokter PPDS: menyiapkan makanan, mengangkat kasur, mengangkat galon pada tanggal 12 Agustus sebelum akhirnya ia meninggal pada keesokan harinya.
Ini disampaikan Misyal Achmad saat hadir menjadi narasumber dalam acara Hotroom Hotman Paris yang diunggah di kanal Youtube pada Rabu (4/9/2024).
Misyal bercerita, setelah melakukan operasi saraf, almarhumah tetap mendapat tugas dengan beban seperti pertama saat dia sebelum dioperasi.
Seperti, membawa makanan, membagi makanan untuk senior dokter yang bertugas di ruang operasi.
“Dari hasil-hasil yang kami sampaikan ke Polda itu menunjukkan intimidasi yang luar biasa,” jelas Misyal.
Misyal juga menduga sakitnya dokter Aulia juga dipicu oleh pola pengajaran yang diberikan oleh senior yang ada disana (PPDS Undip / RSUP Kariadi).
“Beliau nangis dan merasa kesakitan satu badan karena kurangnya waktu untuk istirahat, ya sekali lagi itu tidak digubris (oleh Kaprodi). Pada tanggal 12 agustus beliau masih visit ke ruang ICU. Itu disuruh menyiapkan makanan, mengangkat kasur, mengangkat galon. Itu keluhan-keluhan almarhum sampai tanggal 13 beliau ditemukan meninggal,” jelas Misya.
Dalam wawancara tersebut, Misyal juga bercerita bagaimana dokter Aulia Risma awal menjadi PPDS dan sudah mendapat beban belajar yang tidak wajar.
“Tahun 2022 masuk jadi anggota PPDS (almarhumah) sudah dapat jam belajar yang tidak normal. Dari jam 3 pagi atau ke kampus sampai pukul 1 atau setengah 2 dini hari itu setiap hari,” kata Misyal.
Baca Juga: Cek Rekening Sekarang! Gaji Guru PPPK Provinsi Riau Sudah Cair, Hore...
Lalu ia juga menyebut ada voice-note yang direkam bagaimana almarhumah menjalani PPDS-nya hingga akhirnya dokter Aulia sempat jatuh di suatu jalan hingga masukke selokan dan itu mengenai saraf tulang belakangnya. Hingga ia harus menjalani operasi.
Ia juga mengakui, kliennya sempat melapor ke Kepala Prodi Anestesi atas nama bapak Taufik namun tidak mendapat tanggapan yang baik.
Baca Juga: 7 Most Popular Brand of the Year 2024, 75 Tahun Jawa Pos Menemani Brand Menjaga Reputasi
Editor : Noor Syafaatul Udhma