Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Imbas Kasus Kematian Calon Dokter Spesialis, Rektor Undip Minta Kemenkes Juga Investigasi Rumah Sakit

Nibros Hassani • Senin, 2 September 2024 | 17:13 WIB
Ilustrasi dunia kedokteran. Foto: pixabay.com
Ilustrasi dunia kedokteran. Foto: pixabay.com

RADAR KUDUS – Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Suharnomo memberikan tanggapan mengenai investigasi dan kasus dugaan bullying yang dialami oleh salah satu mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS)nya—almarhum dokter Aulia Risma.

Pihaknya berharap Kementrian Kesehatan melakukan investigasi menyeluruh tak hanya kepada kampus yang ia pimpin namun juga Rumah Sakit terkait—RSUP Kariadi.

Baca Juga: Cerita Dokter yang Resign dari PPDS: Bullying Masih Terjadi Bahkan Setelah Lulus, Ada Senior yang Menghalangi Junior untuk Dapat Kerja

Hal ini berkaitan dengan temuan bahwa almarhum sempat melakukan operasi 24 jam tanpa henti di RS umum pemerintah tersebut.

Dalam sebuah wawancara Suharnomo kepada media, ia menduga almarhumah mengalami kelelahan berlebih seperti yang ditulis dalam surat.

Baca Juga: Cerita Keluarga Dokter Aulia Risma: Saat PPDS Minum Cairan Infus untuk Menahan Dehidrasi, Jual Sawah, dan Standby 24 Jam

“Karena mungkin exhausted (kelelahan berlebih--Red), mungkin berlebihan sebagaimana beliau tulis di surat gak kuat, karena operasinya benar-benar 24 jam. Monggo ini dijadikan laboratorium hidup dan universitas betul-betul sangat terbuka untuk seluruh investigasi dari Kementrian Kesehatan, Kemendikbud atau Kepolisian,” jelasnya.

Baca Juga: Terlalu Kaya! Terdapat 185 Ribu Nasabah Tajir BCA dengan Tabungan di Atas Rp 1 Miliar

Terkait pandangannya mengenai peran universitas dalam sistem sehingga menghasilkan korban seperti dokter Aulia, pihaknya mengusulkan evaluasi sistem secara menyeluruh.

“100 persen pendidikan ini ada di Rumah Sakit. Dokter atau Residen harus mengikuti siklus di RS yang bersangkutan. Kalau 24 jam harus operasi, dia kan harus mengikuti transfer of knowledge seniornya. Kalau dia ikut 1 jam kan nggak mungkin ditinggal juga. Apalagi dalam PPDS dia harus menyelesaikan atau mengikuti beberapa kasus,” jelasnya.

Baca Juga: Kemenkes Lakukan Investigasi di RS Kariadi Buntut Kasus Bunuh Diri Dokter PPDS FK Undip yang Diduga Dibully Senior

Baca Juga: Sebelum Kasus Dokter Bunuh Diri, Ternyata FK Undip Pernah Bikin Gerakan Zero Bullying dalam Acara Pengenalan PPDS

Baca Juga: Dokter PPDS Undip Semarang Tewas Bunuh Diri, Begini Respon PB IDI

Suharnomo lalu menyoroti beban kerja PPDS di RS yang sangat melelahkan. Sampai-sampai dokter tidak bisa beristirahat.

“Dari sisi beban 84 jam per minggu itu sudah 2x lipat dari umumnya karyawan biasa. Selain 84 jam seperti ini mohon ada investigasi kenapa operasi itu 24 jam sehingga menjadikan dokter senior/junior tidak bisa istirahat,” jelasnya.

Baca Juga: Asal Usul Nama Asli Presiden Jokowi Jadi Mulyono, Diberi Teman Kecilnya Asal Prancis?

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#semarang #bullying dokter #rektor undip #ppds anestesi undip #ppds #rsup kariadi #kemenkes