RADAR KUDUS - Nama Mulyono kini menjadi perbincangan hangat, baik di kalangan politikus maupun di jagat maya.
Sosok ini, yang dulu mungkin asing bagi sebagian besar masyarakat, kini kerap disebut dalam berbagai diskusi politik, tak terkecuali oleh Ketua DPD PDIP Jawa Barat, Ono Surono.
Dalam sebuah pernyataan, Ono menyebut bahwa Mulyono-lah yang menjadi alasan balik batalnya Anies Baswedan mengikuti kontestasi Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2024.
Namun, siapakah sebenarnya Mulyono yang mendadak populer ini?
Baca Juga: Viral di Medsos, Presiden Jokowi Dipanggil dengan Nama Mulyono oleh Warga saat Berkunjung ke Sleman
Kolumnis dan penulis kawakan, Dhimam Abror Juraid, yang lebih dikenal sebagai Cak Abror, pernah menyinggung nama Mulyono dalam sebuah tulisan yang bertajuk "Selamat Ulang Tahun, Presiden Mulyono".
Dalam artikel yang dirilis pada 21 Juni 2023 tersebut, Cak Abror mengungkapkan sebuah fakta menarik bahwa nama Mulyono sebenarnya adalah nama lahir dari Presiden Joko Widodo, Presiden Ketujuh Republik Indonesia.
"Tak banyak yang mengenal Mulyono, tapi kalau Joko Widodo, hampir semua orang di Indonesia mengenalnya," tulis Cak Abror, menggambarkan bagaimana nama tersebut begitu asing, namun memiliki keterkaitan erat dengan sosok yang sangat terkenal di negeri ini.
Dalam tradisi masyarakat pedesaan Jawa, pergantian nama adalah hal yang biasa, terutama bagi anak-anak yang sering sakit-sakitan.
Nama dianggap memiliki kekuatan yang dapat mempengaruhi nasib seseorang.
Nama Mulyono, yang berarti “ada kemuliaan” atau “ono kamulyan” dalam bahasa Jawa, ternyata dianggap terlalu berat untuk ditanggung oleh anak yang super-ramping itu.
Akhirnya, namanya diganti menjadi Joko Widodo, yang memiliki arti lebih sederhana: Joko berarti anak muda, dan Widodo berarti sejahtera.
Cak Abror mencatat bahwa perubahan nama ini ternyata membawa keberuntungan luar biasa.
Nama Joko Widodo, yang begitu umum di Jawa, seakan menjadi unik dan tak tertandingi ketika digabung menjadi "Jokowi".
Sosok yang kini dikenal sebagai Presiden Republik Indonesia ini, memulai kariernya bukan sebagai seorang aktivis atau politikus yang terlibat dalam gerakan mahasiswa.
Di masa mudanya, Joko Widodo dikenal hanya sebagai seorang mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada yang gemar mendaki gunung.
Baca Juga: Gugat Ijazah Palsu Jokowi, Bambang Tri Mulyono dan Gus Nur Ditangkap Polisi
Namun, perjalanan hidup Joko Widodo berubah drastis. Karier politiknya melesat dengan kecepatan yang luar biasa, seolah menembus batasan-batasan yang ada.
Dari pengusaha kayu dan mebel, ia naik ke panggung politik nasional dan akhirnya terpilih sebagai Presiden Indonesia.
Cak Abror menyebut perjalanan hidup Jokowi sebagai sesuatu yang hampir ajaib, sebuah transformasi dari anak desa dengan nama sederhana menjadi pemimpin negara yang diakui dunia.
Baca Juga: Forza! Hak Siar Serie A Resmi bakal Masuk Indonesia, Begini Cara Akses Linknya
Cak Abror juga menyinggung ambisi Joko Widodo untuk memastikan bahwa warisan politiknya akan terus berlanjut, bahkan ketika masa jabatannya sebagai presiden semakin dekat.
Hal ini mencerminkan komitmen dan komitmen Jokowi untuk tidak hanya meninggalkan jejak, tetapi juga memastikan bahwa warisannya akan bertahan lama setelah ia pensiun dari panggung politik.
Baca Juga: Wow! Ini Jumlah Uang Pensiun yang Didapat 2 Menteri Jokowi yang Hanya Bekerja 2 Bulan
Nama Mulyono, yang dulu hanya dikenal dalam lingkup kecil, kini mendapat sorotan karena keterkaitannya dengan tokoh besar dalam sejarah politik Indonesia.
Mulyono, dalam sosok Joko Widodo, telah menunjukkan bahwa di balik nama sederhana, bisa tersembunyi potensi besar yang mampu mengubah sejarah.
Kisah ini, seperti yang diceritakan oleh Cak Abror, mengingatkan kita bahwa nama bukan sekadar identitas, tetapi juga cerminan dari perjalanan hidup yang penuh makna dan tantangan.
Baca Juga: Jagonya Daftar Bupati, Pedagang Pentol di Grobogan Ini Gratiskan Dagangannya
Asal Usul Nama Mulyono
Nama Mulyono diberikan oleh kedua orang tua Jokowi, Widjiatno Notomihardjo dan Sudjitami Notomihardjo, saat ia lahir pada tahun 1961 di Rumah Sakit Brayat Minulyo, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Nama ini, yang bermakna "mulia," mencerminkan harapan orang tuanya agar putra sulung mereka tumbuh menjadi seseorang yang dihormati dan berjasa.
Jokowi adalah anak pertama dari empat bersaudara, dengan tiga adik perempuan. Ayahnya bekerja sebagai tukang kayu, sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga.
Keluarga Jokowi hidup dalam kesederhanaan, bahkan harus berpindah-pindah tempat tinggal karena keterbatasan ekonomi.
Mereka pernah tinggal di bantaran Kali Anyar, Solo, sebelum akhirnya tergusur oleh Pemerintah Kota Solo dan menumpang di rumah kerabat di daerah Gondang.
Perubahan Nama dari Mulyono ke Joko Widodo
Masa kecil Jokowi tidaklah mudah. Seperti diungkapkannya dalam buku "Jokowi Menuju Cahaya" yang diterbitkan pada tahun 2018, Jokowi sering kali mengalami masalah kesehatan saat masih bayi.
Kondisi inilah yang membuat kedua orang tuanya mempertimbangkan ulang nama Mulyono yang sebelumnya diberikan.
Menyadari bahwa nama tersebut mungkin kurang cocok dengan kondisi kesehatan putra mereka, Widjiatno dan Sudjitami akhirnya mengganti nama Mulyono menjadi Joko Widodo.
Nama baru ini dipilih dengan harapan Jokowi akan tumbuh sehat dan sejahtera, sesuai dengan makna "selamat dan sejahtera" yang terkandung dalam nama Joko Widodo.
Perjalanan Pendidikan dan Karier
Meski tumbuh dalam kondisi yang serba sulit, Jokowi berhasil menempuh pendidikan formal dengan baik.
Ia menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 112 Tirtoyoso, Solo, pada tahun 1973, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Surakarta hingga lulus pada tahun 1976.
Setelah itu, Jokowi bersekolah di SMA Negeri 6 Surakarta dan lulus pada tahun 1980. Pendidikan tingginya ditempuh di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, di mana ia mengambil program studi teknologi kayu.
Keputusannya untuk mendalami teknologi kayu bukanlah kebetulan. Sejak kecil, Jokowi sudah akrab dengan dunia perkayuan berkat pekerjaan ayahnya sebagai tukang kayu.
Di UGM, ia mempelajari berbagai aspek mengenai kayu, mulai dari pemanfaatan hingga teknologi yang digunakan dalam pengolahan kayu, yang kemudian menjadi landasan kuat bagi kariernya di bidang usaha meubel sebelum terjun ke dunia politik.
Asal Usul Nama "Jokowi"
Nama panggilan "Jokowi" yang kini menjadi identitas populer Presiden Joko Widodo juga memiliki cerita tersendiri.
Panggilan ini berasal dari seorang sahabatnya asal Prancis, Bernard Chene, yang menjadi mitra bisnisnya ketika Jokowi masih berkecimpung dalam usaha meubel di Solo.
Mereka bertemu pada tahun 1999, saat Jokowi mulai merambah bisnis ekspor mebel ke pasar Eropa melalui Bernard Chene.
Untuk memudahkan komunikasi dan mengenali Jokowi di tengah banyaknya pengusaha lain, Bernard Chene memberi Jokowi panggilan "Jokowi," yang kemudian melekat dan dikenal luas hingga kini.
Perjalanan nama dari Mulyono ke Joko Widodo, hingga akhirnya dikenal sebagai Jokowi, mencerminkan perjalanan hidup yang penuh liku-liku dan perjuangan.
Nama tersebut bukan hanya sebuah identitas, tetapi juga menggambarkan harapan, keteguhan, dan perjalanan seorang anak tukang kayu yang berhasil menjadi pemimpin bangsa. (ury)
Editor : Noor Syafaatul Udhma