RADAR KUDUS – Presiden Jokowi merombak jajaran menterinya meski jabatannya tinggal bersisa dua bulan.
Banyak masyarakat mempertanyakan keputusan tersebut dan menilai Presiden Jokowi adalah satu-satunya Presiden yang rajin reshuffle Menteri.
Begini jawaban Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin terkait alasan Presiden masih melakukan reshuffle Menteri meski dua bulan lagi jabatannya akan berakhir.
Baca Juga: Seleksi CPNS Resmi Dibuka, Berapa Besaran Gaji PNS?
Jokowi dan Presiden Terpilih 2024 Prabowo Saling Terhubung Satu sama Lain
Ali Mochtar Ngabalin menyatakan, adanya proses reshuffle jabatan di akhir periode kepemimpinan ini menandakan adanya hubungan baik dari pemerintahan periode sebelumnya dan pemerintahan berikutnya.
Kata Ali, hal ini jarang ditemukan dalam sejarah politik pemerintahan RI.
Selain itu, menurutnya reshuffle di akhir masa jabatan adalah teladan dalam proses peralihan pemerintahan di Indonesia.
Baca Juga: Seleksi CPNS Dibuka, Guru Honorer bakal Dapat 7 Penghargaan, Apa saja?
“Dalam catatan sejarah RI baru ada dalam pemerintahan presiden Jokowi, dengan peralihan pemerintahan presiden Prabowo betul-betul connect dengan yang memimpin atau berkuasa ini, jadi menyatu dan connect dengan presiden terpilih ini ada satu legacy atau contoh, teladan yang sungguh sangat baik bagi peralihan pemerintahan,” kata Ali dalam wawancara kepada media (19/8/2024).
Selanjutnya, reshuffle Menteri, kata Ali, adalah sebuah proses penting dalam peralihan pemerintahan.
Baca Juga: Prabowo Subianto Bagikan Momen Upacara HUT ke-79 RI di Instagram, Foto Bareng Kaesang
Bukan Transisi Pemerintahan, Tapi Peralihan Pemerintahan
Menurut Ali, reshuffle ini terjadi dalam masa peralihan pemerintahan. Bukan transisi.
Kedua pilihan kata ini menurutnya memiliki arti dan konotasi yang berbeda.
Baginya, istilah transisi sangat identik digunakan dalam kondisi pemerintahan yang tidak stabil. Namun berbeda dengan peralihan.
“Sejak awal emang kami di Istana kepresidenan kami tidak menggunakan istilah transisi pemerintahan, karena diksi ini memang pengertiannya sangat menyasar pada pemerintahan yang tidak stabil. Jadi kita pakai peralihan, karena memang ada peralihan pemerintahan dari Presiden Jokowi ke Presiden terpilih yang baru (Prabowo),” jelasnya.
Editor : Noor Syafaatul Udhma