RADAR KUDUS – Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) angkat bicara setelah kasus bunuh diri yang dilakukan seorang dokter yang tengah menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mencuat.
PB IDI menilai penting adanya dukungan kesehatan mental selama pendidikan berlangsung.
Melansir dari Jawapos.com, PB IDI mendorong pembentukan Pusat Trauma dan evaluasi kesehatan mental secara berkala terhadap mahasiswa yang sedang menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).
"Kami mendorong pembentukan Pusat Trauma dan evaluasi kesehatan mental secara berkala untuk memastikan bahwa mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan kedokteran dan spesialis menerima perawatan dan dukungan yang diperlukan," jelas Ketua Umum PB IDI Dr dr. Moh. Adib Khumaidi, SpOT, dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (15/8).
Pihaknya juga menyatakan, IDI menghormati proses penyelidikan yang masih berlangsung oleh aparat yang berwenang terhadap penyebab bunuh diri yang dilakukan mahasiswi Undip tersebut.
Karena menurutnya dengan bekerja sama, pihaknya bisa membantu dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman dan lebih mendukung bagi mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan kedokteran dan spesialis.
Selain itu, ia juga meminta agar masyarakat tidak membuat spekulasi apa pun tentang penyebab insiden tersebut hingga penyelidikan selesai.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menerbitkan surat tentang pemberhentian sementara kegiatan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anastesi Universitas Diponegoro (Undip) di RSUP Kariadi.
Hal ini terkait dengan kasus dugaan bunuh diri yang dilakukan mahasiswi Undip karena dugaan bullying.
Korban, yang merupakan dokter di RSUD Kardinah Tegal ditemukan bunuh diri pada Senin (12/8/2024) di kamar kos nya di Jalan Lempongsari Raya,Kelurahan Lempongsari, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang sekitar pukul 23.00.
Editor : Abdul Rokhim