RADAR KUDUS - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan adanya potensi gempa di zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.
Isu ini kembali ramai diperbincangkan, meski BMKG menegaskan bahwa pembahasan ini bukan merupakan bentuk peringatan dini.
1. Potensi Gempa Sudah Dibahas sebelum Tsunami Aceh 2004
Menurut BMKG, diskusi tentang potensi gempa besar di dua zona megathrust ini sudah ada sebelum terjadi gempa dan tsunami Aceh pada 2004.
Pembahasan yang kembali mencuat saat ini bukanlah indikasi akan terjadi gempa besar dalam waktu dekat.
2. Perhatian Terhadap Seismic Gap
Dalam konteks penelitian gempa, istilah seismic gap merujuk pada zona yang belum mengalami gempa besar dalam jangka waktu yang lama.
Daryono menegaskan bahwa Indonesia harus mewaspadai seismic gap ini sebagai bagian dari upaya mitigasi untuk mencegah korban saat gempa besar terjadi.
3. Mentawai-Siberut: Ratusan Tahun Tanpa Gempa Besar
Daryono menjelaskan bahwa wilayah Selat Sunda dan Mentawai-Siberut belum mengalami gempa besar selama ratusan tahun, meski daerah sekitarnya sudah mengalami pelepasan energi gempa.
Hal ini yang membuat wilayah tersebut 'tinggal menunggu waktu' untuk mengalami gempa besar. Namun, Daryono mengingatkan, belum ada teknologi yang mampu memprediksi dengan tepat kapan gempa tersebut akan terjadi.
Dia juga menegaskan bahwa informasi ini bukanlah prediksi atau peringatan dini, sehingga masyarakat diminta untuk tidak salah memaknainya.
4. Tidak Terkait dengan Gempa M 7,1 di Tunjaman Nankai
BMKG menegaskan bahwa pembahasan mengenai potensi gempa di zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut tidak terkait dengan gempa kuat berkekuatan Magnitudo (M) 7,1 yang terjadi di Tunjaman Nankai, Jepang, baru-baru ini.
Meski demikian, gempa yang memicu tsunami kecil tersebut telah menciptakan kekhawatiran akan potensi gempa besar di Megathrust Nankai, sehingga menjadi momen yang tepat untuk mengingatkan kembali potensi gempa di Indonesia.
Sejarah mencatat bahwa gempa besar terakhir di Tunjaman Nankai terjadi pada 1946 (seismic gap 78 tahun), sementara di Selat Sunda pada 1757 (seismic gap 267 tahun) dan di Mentawai-Siberut pada 1797 (seismic gap 227 tahun). (ury)
Editor : Noor Syafaatul Udhma