Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ancaman Serius, Jakarta Dibayangi 2 Megathrust, Bisa Setara Gempa Aceh? Ini Penjelasannya

Zakarias Fariury • Kamis, 15 Agustus 2024 | 17:57 WIB
Peta Tematik Jakarta (WordPress.com)
Peta Tematik Jakarta (WordPress.com)

RADAR KUDUS - DKI Jakarta berada dalam bayang-bayang ancaman gempa besar akibat dua megathrust yang terdeteksi mengapit wilayah ini.

Salah satu megathrust tersebut berpotensi "pecah" dalam waktu dekat, yang dapat memicu gempa dahsyat serta tsunami.

Ancaman ini telah disampaikan sejak lama oleh para ahli, termasuk mantan Ketua Ikatan Alumni Akademi Meteorologi dan Geofisika (IKAMEGA), Subardjo, dalam acara Sarasehan Nasional IKAMEGA pada 2018 silam.

"Berdasarkan segmentasi megathrust pada Peta Gempa Bumi Nasional tahun 2017, kita ketahui ada dua megathrust yang dekat dengan Jakarta, yang bisa mempengaruhi kerusakan bangunan atau infrastruktur di Jakarta," ujar Subardjo saat itu.

Dua megathrust yang dimaksud adalah Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Jawa Tengah bagian barat, masing-masing dengan potensi magnitudo sebesar 8,7.

Menurut Subardjo, para ilmuwan telah memantau aktivitas kedua megathrust ini selama hampir dua dekade. Bahkan, peneliti dari Jepang telah mengadakan ekspedisi untuk menyusuri wilayah-wilayah tersebut, mulai dari Tanjung Priok hingga Teluk Benoa, guna memahami lebih dalam tentang aktivitas seismik yang terjadi.

Subardjo juga mengungkapkan bahwa pemasangan jaringan seismograf bawah laut atau Ocean-Bottom Seismometer (OBS) di sekitar Selat Sunda hingga selatan Sukabumi telah dilakukan untuk memantau aktivitas dua megathrust tersebut.

"Aktivitas Megathrust Jawa Barat-Jawa Tengah ini sudah cukup diketahui sejak tahun 2000, dari sejumlah peristiwa gempa, seperti gempa Pangandaran, Tasikmalaya, dan Lebak," jelasnya.

Meskipun demikian, kekhawatiran utama para ilmuwan saat ini tertuju pada Megathrust Selat Sunda. "Megathrust Selat Sunda sepanjang kurang lebih 350-550 kilometer hingga kini memiliki seismic gap, yakni zona sumber gempa potensial yang belum mengalami gempa besar dalam puluhan hingga ratusan tahun terakhir," papar Subardjo.

Dengan panjang 280 km dan lebar 200 km, serta pergeseran lempeng (slip rate) sebesar 4 cm per tahun, Megathrust Selat Sunda pernah "pecah" pada tahun 1699 dan 1780 dengan kekuatan gempa masing-masing sebesar M 8,5.

Jika megathrust ini kembali aktif, gempa berkekuatan M 8,7 atau setara dengan Magnitude Moment (MW) 9.0, serupa juga dengan gempa yang dapat memicu tsunami dahsyat ketika peristiwa di Aceh pada tahun 2004.

"Potensi ini sangat serius, dan dapat memicu tsunami yang cukup besar. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah getaran atau goncangan yang dihasilkan, mengingat jaraknya yang hanya sekitar 200-250 km dari Jakarta. Tanah aluvial di bawah Jakarta dapat memperkuat getaran tersebut," lanjutnya.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh Sri Widiyantoro, ahli seismologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia menyoroti potensi gempa akibat Megathrust Jawa Tengah bagian barat yang bisa berdampak signifikan bagi Jakarta.

"Meskipun jaraknya dari Jakarta kisaran 200-300 km, hal ini termasuk tetap dekat jika dibandingkan dengan gempa yang melanda Tohoku tahun 2011 di Jepang, di mana kota Tokyo yang jaraknya 400 km dari pusat gempa juga mengalami goncangan sangat kuat," ujar Widiyantoro dalam acara yang sama.

Langkah Mitigasi yang Diperlukan

Menghadapi ancaman ini, Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menekankan bahwa prediksi para ahli ini harus dijadikan peringatan serius, bukan untuk menakut-nakuti masyarakat.

"Prediksi ini tidak untuk menimbulkan ketakutan, tetapi untuk meningkatkan kewaspadaan. Sampai saat ini, tidak ada satu pun pihak yang bisa memastikan kapan gempa besar ini akan terjadi," jelas Dwikorita.

Ia juga menambahkan bahwa meskipun ada kepastian bahwa gempa besar akan terjadi di masa depan, belum ada cara untuk memprediksi dengan akurat kapan dan seberapa besar kekuatannya.

Dalam konteks ini, Dwikorita mendorong pemerintah dan pihak terkait untuk mengambil langkah mitigasi yang tepat. Ia menekankan pentingnya audit terhadap bangunan-bangunan tinggi di Jakarta untuk memastikan bahwa konstruksinya memenuhi standar bangunan tahan gempa.

"Kami mengimbau BPBD atau Pemprov DKI Jakarta segera menetapkan kebijakan-kebijakan mitigasi, seperti mengaudit gedung-gedung tinggi di Jakarta. Banyak gedung tinggi di sini, tetapi apakah konstruksinya sudah benar-benar memenuhi standar untuk daerah yang rentan gempa?" ungkapnya.

BMKG juga mengingatkan kembali potensi gempa dari dua megathrust yang sudah lama tidak melepaskan energi besarnya, yakni Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut.

Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 menunjukkan bahwa kedua segmen megathrust tersebut terakhir kali mengalami gempa besar lebih dari dua abad yang lalu.

Dengan latar belakang ini, BMKG terus memantau aktivitas seismik di wilayah-wilayah rawan dan mendorong pemerintah serta masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana yang mungkin terjadi. (ury)

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#Megathrust Mentawai #megathrust adalah #Megathrust Selat Sunda #Megathrust Nankai #megathrust enggano #megathrust