RADAR KUDUS – Kasus dugaan bunuh diri oleh salah satu dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) mencuat dan telah menjadi bahan perbincangan di media sosial.
Apalagi dugaan penyebabnya adalah karena bullying (perundungan) di kalangan PPDS oleh dokter yang lebih senior.
Publik pun turut menyoroti Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.
Saat ditelusuri kembali, ternyata FK salah satu kampus negeri di Semarang tersebut pernah mengadakan gerakan anti perundungan.
Hal ini dapat dilihat dalam laman resmi Universitas Diponegoro undip.ac.id.
Dalam judul artikel “Kualitas Pendidikan dan Layanan PPDS FK Undip Makin Berkelas” tersebut, terlihat para peserta PPDS membawa spanduk besar bertuliskan “Gerakan Zero Bullying”.
Baca Juga: Data dan Fakta Megathrust: Ancaman Gempa Besar di Indonesia yang Tinggal Menunggu Waktu
Berlanjut tulisan dibawahnya, ”DI LINGKUNGAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO”.
Kegiatan pengenalan dan gerakan tersebut berlangsung pada 23-24 Januari 2024 di Gedung A Fakultas Kedokteran Undip. Terjadi sebelum dokter PPDS bunuh diri.
“Kegiatan penerimaan mahasiswa PPDS FK Undip ini juga menyuarakan Gerakan Zero Bullying di lingkungan FK Undip. Gerakan ini merupakan sebuah gerakan moral bersama untuk perbaikan manajemen demi kesejahteraan bersama. Dr. dr. Yan Wisnu Prajoko, M.Kes., Sp.B.Subsp.-onk(K) selaku Dekan FK Undip menekankan untuk selalu menerapkan sikap dan perilaku etis kedokteran, serta mengajak peserta untuk menolak bullying utamanya di lingkungan Fakultas Kedokteran Undip,” demikian keterangan dalam acara tersebut sebagaimana dapat terlihat melalui channel Youtube Undip TV Official.
Baca Juga: Jadi Tersangka KDRT, Suami Cut Intan Nabila Akui Lakukan Kekerasan Lebih dari Lima Kali
Selain gerakan zero bullying, ternyata Fakultas Kedokteran UNDIP sempat meluncurkan aplikasi untuk mencegah bullying.
Melansir laman resmi fk.undip.ac.id, FK Undip telah meresmikan dua aplikasi, GAZEBU (Gerakan Zero Bullying) serta CURCOL (Curhat Online).
Acara peresmian tersebut dihadiri oleh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa FK UNDIP.
Sementara itu, dari perbincangan di media sosial, banyak pihak menyebut, budaya bullying telah ada di dunia pendidikan kedokteran sejak lama.
Banyak pihak merespon kejadian bunuh diri tersebut berasal dari budaya senioritas yang masih kental, terutama dari kakak tingkat.
“Temanku yang lagi belajar untuk ambil spesialis di RS Sang**h B*li juga kena bully terus. Disuru datang tengah malam cuma untuk rapikan tempat istirahat dokter senior. Pernah malah temannya jadi sial disuru bayarin semua pesanan pada saat dugem,” tulis akun @gunas***** melalui Twitter.
Baca Juga: Banyak Beredar Nomor dan Akun Palsu, BRI Imbau Nasabah Kenali Akun dan Kontak Resmi
Editor : Noor Syafaatul Udhma