RADAR KUDUS - Zainul Maarif, dosen filsafat UNUSIA Jakarta yang sempat viral karena telah berkunjung ke Israel muncul ke hadapan publik dan meminta maaf.
Pihaknya memberikan statement kepada media dan pernyataan itu tayang pada Jumat (18/7).
Melansir dari laman facebook miliknya "Zen Maarif", Zainal memberikan 10 pernyataan terkait kunjungan dan pertemuannya dengan Presiden Israel.
Berikut redaksi merangkup pernyataan tersebut dari akun miliknya:
SURAT PERNYATAAN TERKAIT PERTEMUAN DENGAN PRESIDEN ISRAEL DALAM KEGIATAN DI ISRAEL-PALESTINA
Oleh Zainul Maarif
(Peneliti, Pengajar dan Pelaku Dialog Lintas Iman untuk Perdamaian)
1. SAYA MEMINTA MAAF kepada masyarakat Indonesia, umat Islam, warga Nahdlatul Ulama' dan institusi-institusi di mana saya bekerja/berorganisasi atas
ketidaknyamanan yang terjadi setelah saya bertemu dengan Presiden Israel, Isaac Herzog, tanggal 3 Juli 2024.
2. Pertemuan dengan Presiden Israel itu hanya pertemuan tambahan (tentatif) dari kegiatan inti "PENELITIAN LAPANGAN DAN DIALOG LINTAS IMAN UNTUK PERDAMAIAN", yang diselenggarakan di Palestina dan Israel, 30 Juni -5 Juli 2024.
Baca Juga: Produknya Semakin Mendunia, Ini Kisah Klaster Rotan Trangsan yang Terbantu Berkat Pemberdayaan BRI
Baca Juga: Bikin Gempar! Willie Salim Bakal Tampil Perdana Memandu Shopee Live dengan Banyak Promo Fantastis
3. Penelitian yang saya lakukan mengenai "KEHIDUPAN MUSLIM DI ISRAEL", mengingat kondisi muslim di Palestina, khususnya di Gaza, sudah banyak dibahas.
4. Sebagai kegiatan lintas dialog iman, saya berangkat dari Indonesia ke Palestina dan Israel, tidak hanya dengan teman-teman muslim, tapi juga dengan rekan-rekan beragama Katolik, Kristen dan Yahudi.
5. Di Palestina dan Israel, KAMI, ROMBONGAN LINTAS IMAN DARI INDONESIA terutama bertemu dengan tokoh-tokoh lintas iman dari Palestina dan Israel.
Kami juga bertemu dengan warga sipil Palestina dan Israel, serta mendapat kesempatan bertemu dengan Presiden Israel.
6. Dalam pertemuan dengan Presiden Israel selama kurang lebih 20-30 menit, kami rombongan lintas iman dari Indonesia hadir menunjukkan kebhinekaan Indonesia yang hidup rukun, serta mengungkapkan pesan perdamaian.
Baca Juga: Irjen Pol Ahmad Luthfi Terima Penghargaan Atas Dedikasi Kemanusiaan dari Wanita Muslimah Indonesia
Baca Juga: Dua Dosen UMS Lecehkan Mahasiswi Lewat Chatting dan Bimbingan Skripsi, Begini Sanksi dari Kampus
7. Menyampaikan pesan ditempatkan di hadapan Presiden Israel berarti MEMINTA ISRAEL MENGHENTIKAN SERANGANNYA YANG MELAMPAUI BATAS TERHADAP WARGA PALESTINA DI GAZA.
8. Ketika meminta Presiden Israel untuk tidak lagi memerangi warga Palestina, saya menyadari bahwa diri saya bukanlah siapa-siapa yang dapat mempengaruhinya.
Namun saya merasa perlu memanfaatkan kesempatan untuk menjalankan ajaran Islam berupa hadits Nabi Muhammad saw., yang artinya
“JIHAD TERBAIK ADALAH MENYAMPAIKAN KEBENARAN DI HADAPAN PEMIMPIN YANG ZALIM”.
Baca Juga: Gibran Undur Diri Sebagai Walikota Solo, Warga: Matur Suwun Mas Gibran, Selamat Jadi Wapres
9. Saat menyampaikan kebenaran (berupa kebohongan perang) di hadapan Presiden Israel, saya mengerti bahwa Presiden Israel hanyalah pemimpin simbolis. Namun juga dia pemimpin Israel, yang bisa saya temui.
Lagipula saya bukan berpolitik, melainkan salah satu anggota rombongan lintas iman Indonesia.
Oleh karena itu, yang saya sampaikan hanya menyelarasi pesan moral agama saya, yaitu Islam, yang seakar dengan salam, yang berarti damai.
Baca Juga: Peduli Lingkungan Pesisir, PLN UIK Tanjung Jati B Tanam Ribuan Mangrove di Desa Mororejo Jepara
10. Semoga cahaya kecil sekalipun bisa memberikan penerangan. Semoga genosida rezim Netanyahu terhadap warga Palestina berakhir.
Semoga kemerdekaan Palestina teraih tanpa pertumpahan darah. Semoga kedamaian hidup dirasakan oleh orang-orang yang dizalimi.
Jakarta, 19 Juli 2024
Editor : Noor Syafaatul Udhma