RADAR KUDUS - Berikut ini kumpulan puisi spesial untuk merayakan Hari Guru Nasional 2023 yang diperingati setiap tanggal 25 November.
Salah satu cara merayakan Hari Guru Nasional adalah pembacaan puisi atau lomba puisi yang didedikasikan khusus untuk guru.
Puisi dapat menjadi penyampai pesan. Kata-kata indah dalam bentuk puisi bisa merangkai rasa syukur, kebanggaan, dan rasa terima kasih.
Berikut ini kumpulan puisi yang bermakna dan menyentuh hati, dapat anda persembahkan untuk guru sebagai cara merayakan Hari Guru Nasional 2023.
Kumpulan puisi Hari Guru Nasional berikut ini dkutip dari buku Untukmu Guru:Kumpulan Puisi oleh Sudiandika.
Puisi 1
Judul: Pahlawan yang Terlupakan
Cermatilah sajak sederhana ini, kawan
Sajak yang terkisah dari sosok sederhana pula
Sosok yang terkadang terlupakan
Sosok yang sering tak dianggap
Ialah pahlawan yang tak ingin disebut pahlawan
Terka-lah kiranya siapa pahlawan ini
Ingatlah lagi kiranya apa jasanya
Ia tak paham genggam senjata api Ia tak bertarung di medan perang
Ucap, sabar dan kata hati menjadi senjatanya
Keberhasilanmu kawan, itulah jasanya
Cerdasmu dan cerdasku itu pula jasanya
Bukan ia yang diharap menang
Namun suksesmu dan sukseskulah menangnya
Dapatkah kiranya jawab siapa pahlawan ini
Karenanyalah kudapat tulis sajak ini
Karenanyalah kau dapat baca sajak ini
Juluknya ialah pahlawan tanpa tanda jasa
Mungkin telah teringat olehmu kawan
Mungkin telah kau terka jawabnya
Ialah pahlawan dan orang tua kedua
Ialah guru, sang pahlawan yang terlupakan.
Oleh: Ahmad Muslim Mabrur Umar.
Baca Juga: Apa Itu Nyamuk Wolbachia yang Dipercaya Bisa Meredam DBD?, Begini Penjelasan Dinas Kesehatan!
Puisi 2
Judul : Guruku, Melati di Ujung Laman
Bersamamu rekah yang berketap di puncak malam
Tidak jua ranum di ujung pagi
Namun titis embun masih jua mampu hembuskan harap
Padamu yang masih igaukan fitri
Dalam dekap yang erat di buhul lelap
Langkah kakimu telah pecah di dalam leach
Berkubang segala lantang
Tentang suara yang tak jua pikirkan siang
Bertekak membentuk luka
Bertukak hingga kau tersiksa
Setelah riuh tengkujuh subuh
Kau masih hangat menyeduh tadah
Manis gula di ujung madah
Ada aku diselip dalam ratibmu
Senyummu tetap manis melati di ujung laman
Tingkahmu rentak zapin zaman berzaman
Segalamu adalah pedoma.
Oleh: Adin
Puisi 3
Judul: Sebatang Rotan
Kalau bukanlah disebabkan sebatang rotan itu
Tak akan mungkin aku mengenal namamu
Saat sebatang rotan melecut di tubuhku
Disitulah aku memahami rasa sakit
Rasa sakit yang mengajar dan menuntunku pada kehidupan sesungguhnya
Dia adalah guru mengajiku
Di setiap malamnya, ia selalu melirihkan doa
Agar muridnya kelas menjadi manusia yang berakhlak mulia
Sebesar apapun namamu nanti
Jangan kau lupa dengan sebatang rotan itu
Biarpun kini rotan itu telah rapuh dan patah
Rotan itu juga yang telah membesarkan namamu
Oleh: Muhammad Sapikri
Editor : Dzikrina Abdillah