Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bacakan Puisi di Taman Budaya Solo, Gus Mus : Ada Keripik Rasa Keju dan Ikan, Ada Republik Rasa Kerajaan

Abdul Rokhim • Jumat, 3 November 2023 | 17:01 WIB

PUISI: KH Mustofa Bisri (Gus Mus) saat membacakan puisi di Taman Budaya Solo baru-baru ini.
PUISI: KH Mustofa Bisri (Gus Mus) saat membacakan puisi di Taman Budaya Solo baru-baru ini.


SOLO
- Pengasuh Ponpes Roudlatul Tholibin, Rembang, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) hadir menyemarakkan Gelar Sastra Jawa Tengah 2023 bertema Silaturahmi Indonesia, di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, Selasa (31/10) malam.

Dalam kesempatan itu, Gus Mus ikut membacakan puisi dan sajaknya.

Beberapa kutipan sajaknya pun viral. Yakni, tentang ''Republik Rasa Kerajaan''. Bahkan, sejumlah tokoh turut mengunggahnya di X (dulu Twitter). Di antaranya Ulil Abshar Abdalla dan Alissa Wahid (putri sulung Gus Dur).

Dikutip dari Kanal Mata Air YouTube, berikut pernyataan dan pusi lengkap Gus Mus yang juga dikenal sebagai budayawan Nusantara itu.

Sebelum membacakan sajak-sajak, kepada saudara-saudaraku yang beragama Islam, saya minta keikhlasan hati untuk membaca Fatihah, memohon kepada Allah SWT untuk merahmati Palestina dan rakyat Palestina. Untuk merahmati bangsa Indonesia dan Indonesia. Alfatihah…

Dulu pada zaman Orde Baru, saya membaca puisi berakibat ketua panitianya diamankan yang berwenang. Saya pada waktu itu membaca puisi katanya karena ada puisi yang saya baca. Padahal, saya membaca puisi cuma begini:


Zaman kemajuan/ Inilah zaman kemajuan/Ada sirup rasa jeruk dan durian/ Ada keripik rasa keju dan ikan/ Ada Republik rasa Kerajaan

Malam ini, saya tidak akan membaca yang begitu-begitu lagi. Saya akan membaca puisi-puisi cinta saja. Supaya tidak ada yang tersinggung. Sudah banyak yang tersinggung. Memang saya dahului dengan Fatihah tadi, karena apa namanya, saya termasuk yang risau. Mudah-mudahan yang risau dan galau di atas sana. Di sini enak-anak saja lah. Cinta-cinta saja di sini

(Setelah itu, Gus Mus membacakan sebuah puisi baru)

Bila kutitipkan dukaku pada langit/ Pastilah langit memanggil mendung/ Bila kutitipkan resahku pada angin/ Pastilah angin menyeru badai/ Bila kutitipkan geramku pada laut/ Pastilah laut menggiring gelombang/ Bila kutitipkan dendamku pada gunung/ Pastilah gunung meluapkan api.

Tapi, akan kusimpan sendiri mendung dukaku dalam langit dadaku/ Kusimpan sendiri badai resahku dalam angin desahku/ Kusimpan sendiri gelombang geramku dalam laut pahamku/ Kusimpan sendiri api dendamku dalam gunung resamku/ Kusimpan sendiri

Saya dulu pernah nulis puisi tentang negeriku.

Negeriku/ Mana ada sesubur negeriku/ Sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung/ Tapi, juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung/ Perabot-perabot orang kaya di dunia dan burung-burung indah piaraan mereka berasal dari hutanku

Ikan-ikan pilihan yang mereka santap bermula dari lautku/ Emas dan perak perhiasan mereka digali dari tambangku/ Air bersih yang mereka minum, bersumber dari keringatku/ Mana ada negeri sekaya negeriku/ Majikan-majikan bangsaku, memiliki buruh-buruh mancanegara/.

Brangkas-brangkas bank di mana-mana menyimpan harta-hartaku

Negeriku menumbuhkan konglomerat dan mengikis habis kaum melarat/ Rata-rata pemimpin negeriku dan handai taulannya terkaya di dunia/ Mana ada negeri semakmur negeriku/

Penganggur-penganggur diberi perumahan, gaji dan pensiun setiap bulan/ Rakyat-rakyat kecil menyumbang negara tanpa imbalan/ Perampok-perampok diberi rekomendasi dengan kop sakti instansi/ Maling-maling diberi konsesi/ Tikus dan kucing dengan asyik berkoalisi

(Gus Mus lantas membuang lembaran kertas berisi sajak tersebut itu ke lantai).

Ini puisi puisi zaman Orde Baru. Membaca puisi cinta sajalah. Puisi-puisi saya yang dulu-dulu itu isinya yang begitu-begitu itu. Ini juga ada puisi Islam. Ini saya buat ketika ada perlombaan puisi Islam. Jadi, di Indonesia itu aneh-aneh. Ada perlombaan membuat puisi Islam. Jadi saya ikutkan ini, tapi tidak dapat nomor karena tidak dinilai oleh juri-jurinya

Puisi Islam/ Islam agamaku nomor satu di dunia/ Islam benderaku berkibar di mana-mana/ Islam tempat ibadahku mewah bagai istana/ Islam tempat sekolahku tak kalah dengan lainnya/ Islam sorbanku, Islam sajadahku, Islam kitabku

Islam podiumku kelas eksklusif yang mengubah cara dunia memandangku/ tempat aku menusuk kanan kiri/ Islam media massaku, gaya komunikasi Islami masa kini/ Tempat aku menikam sana-sini.

Islam organisasiku, Islam perusahaanku, Islam yayasanku, Islam instansiku/ Menara dengan seribu pengeras suara/ Islam muktamarku forum hiruk pikuk tiada tara/ Islam bursaku, Islam warungku hanya menjual makanan surgawi/ Islam supermarketku melayani segala keperluan manusiawi.

Islam makananku, Islam titelku, menampilkan karakter-karakter suci/ Islam festivalku memeriahkan hari-hari mati/ Islam kausku, Islam pentasku, Islam seminarku membahas semua/

Islam upacaraku menyambut segala/ Islam puisiku menyanyikan apa saja/ Tuhan, Islamkah aku…


Cintaku kepadamu/ Belum pernah ada contohnya/ Cinta Romeo dan Juliet, cinta Majnun Qais kepada Laila belum apa-apa/ Temu kisah kita lebih bermakna dibandingkan kisah Yusuf dan

Zulaikha/ Rindu dendam kita melebihi rindu dendam Adam dan Hawa

Aku adalah ombak samudera yang lari datang bagimu/ Hujan yang berkilat dan berkuluh mendung/Aku adalah wangi bungamu/ Lukaku berdarah-darah durimu/ Semilir sampai badai angin/ Aku adalah kicau burungmu/ Kabut puncak gunungmu tuah tenungmu/ Aku adalah titik titik hurufmu, kata kata maknamu.

Aku adalah sinar silau panasmu, dan bayang-bayang hangat mentarimu/ Bumi pasrah langitmu/ Aku adalah jasad rohmu, fayakun kun mu/ Aku adalah a, k, u…. Kau

(Sajak yang terakhir dibawakan Gus Mus juga berkisah tentang cinta saat masa mudanya).

Senyum Subuh/ Wajahmu yang putih tampak sayu oleh warna Subuh/ Ketika kita berjalan agak berjauhan pulang dari surau/ Aku tahu Adin ketika itu kau sedang risau/ Meski kau mencoba menyembunyikan di matamu yang teduh

Senyummu memaksaku berhenti berjalan/ Sekali memandangmu mengharap Subuh pun ikut berhenti/ Risaukah yang membuat senyummu semakin menawan/ Ataukah karena aku terlalu

lama menanti/ Seingatku kau tidak berkata apa-apa/ Atau tak ada kata-kata yang dapat kutangkap dan aku setiap kali hanya asal berkata

Namun hari itu kita seperti terus bercakap-cakap/ Kini dalam sepi subuhku sendiri/ Aku melihat senyum seperti senyummu/ Berkelebat menghentikan langkahku/ Hatikupun memanggilmu.

 

Editor : Abdul Rokhim
#gus mus #rasa kerajaan #puisi #republik #solo #viral