Mengapa Ada Orang yang Lebih Memilih Diam daripada Meluapkan Amarah?

Azka Ilham Najan • Dipublikasikan Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:54 WIB
Diam menjadi cara sebagian orang menghadapi amarah
Diam menjadi cara sebagian orang menghadapi amarah

RADAR KUDUS – Tidak semua orang meluapkan kemarahan dengan suara keras atau kata-kata tajam. Sebagian justru memilih diam, menjauh sejenak, atau mengurangi percakapan ketika sedang kesal.

Sikap ini terkadang dianggap sebagai tanda tidak peduli, padahal ada berbagai alasan seseorang menahan diri untuk tidak langsung berbicara.

Dalam psikologi, diam saat marah dapat berkaitan dengan upaya mengelola emosi, menghindari pertengkaran, atau kesulitan mengungkapkan perasaan.

Tinjauan penelitian tentang silent treatment yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Psychology pada 2026 juga menemukan bahwa perilaku diam dalam hubungan memiliki beragam motif dan dampak.

1. Takut Mengucapkan Kata-Kata yang Menyakitkan

Ketika emosi sedang memuncak, seseorang mungkin khawatir akan mengatakan sesuatu yang disesali setelah amarah mereda.

Karena itu, mereka memilih menahan ucapan sampai perasaannya lebih terkendali.

Dalam kondisi ini, diam dapat menjadi jeda untuk mencegah konflik semakin besar.

Namun, akan lebih baik jika seseorang menjelaskan bahwa dirinya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.

Baca Juga: Psikologi di Balik Kebiasaan Berimajinasi dan Membuat Skenario Palsu Sebelum Tidur

2. Membutuhkan Waktu untuk Memahami Perasaan

Tidak semua orang langsung memahami penyebab kemarahannya. Ada yang membutuhkan waktu untuk memikirkan kejadian, mengenali perasaan yang muncul, dan menentukan cara menyampaikan keberatan.

Diam sejenak dapat membantu proses tersebut. Akan tetapi, jika masalah terus dipendam tanpa pernah dibicarakan, kesalahpahaman justru berpotensi semakin besar.

3. Kesulitan Mengungkapkan Kekecewaan

Sebagian orang terbiasa menyimpan perasaan karena tidak nyaman menghadapi konfrontasi atau khawatir tidak dipahami.

Akibatnya, mereka memilih diam daripada menjelaskan apa yang membuatnya terluka.

Jika terus berlangsung, kebiasaan ini dapat membuat kebutuhan dan persoalan dalam hubungan tidak tersampaikan dengan jelas.

Penelitian mengenai silent treatment juga menunjukkan bahwa penarikan diri berkepanjangan dapat berkaitan dengan tekanan emosional dan menurunnya kepuasan hubungan.

4. Diam untuk Menghukum Orang Lain

Berbeda dengan mengambil jeda untuk menenangkan diri, silent treatment terjadi ketika seseorang sengaja menolak berkomunikasi atau mengabaikan orang lain sebagai bentuk hukuman maupun tekanan.

Perbedaannya terletak pada tujuan dan cara melakukannya. Mengambil waktu untuk menenangkan diri dapat disertai penjelasan dan kesediaan melanjutkan pembicaraan.

Sebaliknya, mengabaikan seseorang terus-menerus tanpa kejelasan dapat memperburuk hubungan.

Pada akhirnya, diam saat marah tidak selalu berarti seseorang tidak peduli. Hal terpenting adalah bagaimana diam tersebut digunakan.

Jika membutuhkan waktu, sampaikan dengan jelas dan bicarakan masalah setelah lebih tenang agar emosi tidak berakhir menjadi kesalahpahaman.

Editor : Ali Mustofa
diam saat marah psikologi emosi mengelola amarah Silent treatment Hubungan Sosial