FOMO Bikin Boros? Ini Dilema Anak Muda Mengikuti Tren

Azka Ilham Najan • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 11:33 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

RADAR KUDUS – Mengikuti tren pakaian, mencoba tempat nongkrong yang sedang ramai, hingga membeli aksesori viral menjadi bagian dari gaya hidup sebagian anak muda.

Namun, keinginan untuk tetap mengikuti perkembangan tren terkadang membuat pengeluaran meningkat, bahkan untuk barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Media sosial turut mempercepat penyebaran tren di kalangan anak muda.

Konten tentang pakaian terbaru, rekomendasi kafe, sepatu, hingga aksesori tertentu dapat dengan mudah menarik perhatian.

Ketika banyak orang membicarakan atau menggunakan barang serupa, muncul keinginan untuk ikut mencoba agar tidak merasa tertinggal.

Fenomena tersebut berkaitan dengan istilah fear of missing out (FOMO), yaitu perasaan takut melewatkan pengalaman atau sesuatu yang dianggap penting dan menarik.

Dalam konteks konsumsi, FOMO dapat mendorong seseorang membeli barang atau mengikuti aktivitas tertentu karena melihat orang lain melakukannya.

Keinginan mengikuti tren juga dapat dipengaruhi oleh kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan pertemanan.

Memakai pakaian yang sedang populer, mengunjungi tempat yang ramai diperbincangkan, atau memiliki aksesori viral terkadang dianggap sebagai cara untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.

Baca Juga: FOMO dan Gaya Hidup Murah Meriah, Kopi Jalanan Makin Digandrungi Gen Z

Di sisi lain, tren yang terus berganti dapat membuat pengeluaran sulit dikendalikan.

Barang yang baru dibeli mungkin hanya digunakan beberapa kali sebelum muncul produk lain yang lebih populer.

Jika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus, uang untuk kebutuhan utama, tabungan, atau keperluan mendadak bisa ikut berkurang.

Meski demikian, mengikuti tren bukan berarti selalu menjadi kebiasaan buruk.

Mencoba gaya baru atau mengunjungi tempat menarik tetap dapat menjadi bentuk hiburan selama disesuaikan dengan kemampuan finansial.

Persoalannya muncul ketika keputusan membeli lebih banyak didorong oleh tekanan sosial daripada kebutuhan dan keinginan pribadi.

Salah satu cara menyikapinya adalah membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan dorongan sesaat.

Sebelum membeli barang viral atau mengikuti tren tertentu, seseorang dapat mempertimbangkan manfaatnya, anggaran yang tersedia, serta apakah barang tersebut benar-benar akan digunakan dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, mengikuti tren tidak harus berarti membeli semua hal yang sedang populer.

Anak muda tetap bisa menikmati perkembangan gaya hidup tanpa mengorbankan kondisi keuangan.

Memilih sesuai kebutuhan dan kemampuan menjadi langkah penting agar keinginan untuk tampil mengikuti zaman tidak berujung pada pengeluaran berlebihan.

Editor : Ali Mustofa
FOMO anak muda perilaku konsumtif mengatur keuangan Gaya hidup Gen Z Tren viral