RADAR KUDUS - Pernahkakah kalian mencoba membaca sebuah jurnal atau artikel ilmiah, lalu menyerah di paragraf pertama hanya karena kalimatnya terasa sangat panjang, kaku, dan dipenuhi istilah-istilah asing yang bikin dahi berkerut? Jangan berkecil hati dulu.
Pengalaman tersebut adalah realitas umum yang dialami hampir semua orang di luar tembok perguruan tinggi. Sebuah pertanyaan mendasar pun muncul: mengapa ilmu pengetahuan yang begitu bernilai harus dibungkus dengan bahasa yang sangat rumit? Apakah karya ilmiah memang diciptakan khusus untuk konsumsi eksklusif kaum akademisi saja?
Jika kita membedah anatomi penulisan akademik, penggunaan bahasa yang rumit sebenarnya berakar dari tuntutan presisi dan ketepatan makna. Dalam dunia sains, sebuah kata memiliki definisi operasional yang sangat spesifik dan tidak boleh menimbulkan penafsiran ganda (ambiguity).
Jargon-jargon teknis yang sering kali dianggap "pamer bahasa tinggi" oleh masyarakat awam, sejatinya berfungsi sebagai bahasa ringkas (shorthand) antarsesama peneliti. Satu istilah teknis dalam metodologi penelitian bisa mewakili kerangka teori kompleks yang jika dijelaskan dengan bahasa sehari-hari justru akan menghabiskan puluhan halaman.
Namun, ada sisi gelap dari tradisi ini yang tidak bisa ditutup-tutupi. Banyak ilmuwan sosial mengkritik bahwa gaya penulisan ilmiah yang terlalu kaku dan berbelit-belit sering kali terjebak dalam fenomena elitisme akademik. Bahasa dijadikan benteng pemisah antara mereka yang berada di dalam "menara gading" perguruan tinggi dengan masyarakat luas di luar sana.
Ada semacam tekanan tak tertulis di dunia akademis bahwa semakin rumit kalimat yang digunakan, makin berbobot dan prestisius riset tersebut terlihat. Padahal, kompleksitas bahasa tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman gagasan.
Baca Juga: Tanpa Metode Ini, Semua Rencana Hanya Akan Jadi Tulisan di Kertas!
Lantas, apakah karya ilmiah memang diperuntukkan hanya untuk kalangan akademis saja? Secara Historis dan format, jawabannya adalah ya. Jurnal ilmiah memang dirancang sebagai ruang diskusi internal antarahli untuk saling menguji temuan, mengkritik metodologi, dan membangun pilar ilmu baru.
Masalahnya, ketika hasil riset tersebut hanya berhenti di perpustakaan kampus atau terkunci di balik tembok jurnal berbayar, ilmu pengetahuan kehilangan fungsi utamanya untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas. (nuril baiti amiliah)
Editor : Mahendra Aditya