RADAR KUDUS - Banyak orang percaya bahwa seorang ibu memiliki “firasat” yang sulit dijelaskan.
Ibu bisa tiba-tiba gelisah tanpa sebab, merasa anaknya tidak baik-baik saja, atau langsung tahu saat anaknya membutuhkan pertolongan—bahkan ketika berjauhan.
Selama ini, hal itu sering dianggap sebagai insting semata atau ikatan batin yang bersifat emosional.
Namun, ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa hubungan ini lebih dari sekadar perasaan.
Ada proses biologis nyata di balik kedekatan luar biasa antara ibu dan anak, yang dikenal sebagai mikrokimerisme fetomaternal.
Baca Juga: Punya Anak Bukan Kewajiban: Perempuan Masih Dibayangi Tekanan Sosial untuk Menjadi Ibu
Sel Anak Tinggal di Tubuh Ibu
Saat seorang perempuan hamil, bukan hanya nutrisi yang berpindah dari ibu ke janin.
Sel-sel janin juga dapat masuk ke dalam tubuh ibu dan menetap di berbagai organ, seperti jantung, paru-paru, bahkan otak.
Yang mengejutkan, sel-sel ini bisa bertahan puluhan tahun setelah melahirkan.
Artinya, secara biologis, tubuh ibu tidak pernah benar-benar “sendiri” lagi setelah memiliki anak.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sel-sel tersebut dapat berinteraksi dengan jaringan tubuh ibu.
Di otak, sel janin bahkan diduga ikut berperan dalam sistem saraf, membantu ibu menjadi lebih peka terhadap kebutuhan anaknya.
Kenangan yang Tidak Pernah Pergi
Keberadaan sel anak di tubuh ibu sering disebut sebagai bentuk “memori biologis”.
Ini bukan kenangan seperti ingatan di kepala, tetapi jejak kehidupan anak yang benar-benar tertanam di dalam tubuh ibu.
Inilah salah satu alasan mengapa hubungan ibu dan anak terasa begitu dalam dan tidak mudah putus, bahkan ketika anak sudah dewasa, tinggal jauh, atau jarang berkomunikasi.
Secara biologis, tubuh ibu masih membawa bagian dari anaknya.
Firasat Ibu, Ada Dasarnya?
Banyak ibu yang mengaku bisa “merasakan” saat anaknya sakit, sedih, atau dalam bahaya.
Meski penelitian tentang ini masih terus berkembang, para ilmuwan menduga bahwa keberadaan sel anak di tubuh ibu bisa memicu respons bawah sadar tertentu.
Tubuh ibu menjadi sangat sensitif terhadap perubahan, seolah selalu siaga terhadap kondisi anaknya.
Ini menjelaskan mengapa reaksi ibu sering kali terasa cepat, spontan, dan tepat—bahkan sebelum ada tanda yang jelas.
Menariknya, sel janin juga ditemukan dapat bergerak menuju area tubuh ibu yang terluka dan membantu proses pemulihan.
Ini menunjukkan bahwa hubungan ibu dan anak bukan hanya emosional, tetapi saling melindungi secara biologis.
Otak Ibu yang Berubah Setelah Melahirkan
Kehamilan dan persalinan juga mengubah struktur otak ibu.
Proses ini membuat ibu lebih peka terhadap tangisan bayi, ekspresi wajah, dan perubahan emosi anak.
Otak ibu dilatih secara alami untuk merespons, menenangkan, dan melindungi.
Inilah sebabnya mengapa seorang ibu sering terlihat memiliki “indra keenam” dalam mengasuh anak—padahal sebenarnya itu adalah hasil dari perubahan biologis yang sangat kompleks dan luar biasa.
Ikatan yang Tidak Bisa Digantikan
Hubungan ibu dan anak bukan hanya dibangun oleh cinta dan kebersamaan, tetapi juga oleh hubungan seluler yang nyata.
Sains membuktikan bahwa perasaan kuat seorang ibu terhadap anaknya bukan hal berlebihan, bukan pula mitos.
Tubuh ibu secara harfiah membawa anaknya, bukan hanya selama sembilan bulan, tetapi mungkin seumur hidup. (rani)
Editor : Ali Mustofa