Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pernikahan di Mata Gen Z: Antara Kekhawatiran, Ekspektasi, dan Kesiapan Diri

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 4 Desember 2025 | 22:29 WIB
Photo
Photo

RADAR KUDUS - Pernikahan sejak lama dipandang sebagai tujuan hidup banyak orang. Proses ini dianggap sakral, penuh suka cita, dan menjadi simbol kesiapan seseorang membangun masa depan.

Namun bagi Generasi Z, makna itu tidak lagi sebaku dulu. Mereka melihat pernikahan sebagai pilihan hidup, bukan kewajiban atau penentu kebahagiaan utama.

Cindy Aulia Sari dari LSM Bali Sruti, mewakili pandangan sebagian besar anak muda, menilai bahwa kebahagiaan dapat berasal dari banyak hal.

Baca Juga: Alasan Gen Z Pilih Stabil Finansial Dulu, Menikah Urusan Belakangan

Mulai perkembangan karier, kestabilan ekonomi, sampai kebebasan mengembangkan minat pribadi.

Menurutnya, hidup tetap bisa berjalan penuh makna meski tanpa ikatan pernikahan.

Salah satu alasan Gen Z berpikir lebih panjang sebelum menikah adalah derasnya arus informasi.

Dari media sosial hingga platform digital, mereka sering menemukan kisah perselingkuhan maupun kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Konten-konten itu membuat banyak di antara mereka merasa ragu dan tidak yakin bahwa pernikahan menjamin rasa aman.

Cindy menambahkan, budaya “swipe” dari aplikasi kencan juga berpengaruh.

 

Baca Juga: Mengapa Gen Z 2025 Makin Memilih Childfree? Ini 5 Alasan Utamanya Menurut Psikolog

Banyaknya pilihan pasangan dan citra orang yang terlihat “sempurna” membuat standar semakin tinggi, tetapi sulit ditemui dalam kehidupan nyata.

Inilah yang membuat anak muda dinilai lebih selektif dalam menentukan pasangan.

Selain itu, fenomena micro-cheating turut memperumit hubungan.

Perilaku seperti diam-diam mengobrol dengan perempuan lain, meski sudah memiliki pasangan, dianggap bentuk ketidaksetiaan yang sering terjadi.

Hal-hal seperti ini membuat sebagian Gen Z tidak lagi menempatkan pernikahan sebagai prioritas utama.

Baca Juga: Tol Demak–Jepara Alami Revisi Timeline, Jepara Harus Menunggu Lebih Lama, Kapan Mulai Digarap?

Bagi Gen Z, kesiapan menikah lebih ditentukan oleh kematangan mental dan kondisi finansial daripada sekadar usia.

Cindy menilai seseorang dianggap siap jika memiliki pekerjaan stabil, tabungan, jaminan kesehatan, serta bebas dari utang.

Sementara dari sisi emosional, mereka melihat kedewasaan dari kemampuan mengelola konflik—baik secara pribadi maupun bersama pasangan.

Karena itu, tidak ada umur tertentu yang dianggap tepat untuk menikah; semuanya kembali pada kesiapan masing-masing individu.(laura)

Editor : Ali Mustofa
#pernikahan #Gen Z #Micro Cheating #Kesiapan finansial dan emosional #Swipe Culture