Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Gengsi di Dunia Kerja: Cara Gen Z Menentukan Nilai Sebuah Profesi

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 4 Desember 2025 | 22:15 WIB
Photo
Photo

RADAR KUDUS - Generasi Z—yang lahir antara 1997 hingga awal 2010-an—sering dianggap sebagai generasi yang serba terkoneksi, kreatif, dan akrab dengan dunia digital.

Cara mereka memandang pekerjaan pun berbeda: bukan hanya sumber pendapatan, tetapi juga sarana menunjukkan identitas dan memperoleh pengakuan sosial.

Gengsi dalam Perspektif Gen Z

Tumbuh di tengah budaya media sosial membuat Gen Z sangat mempertimbangkan citra diri.

Bagi mereka, pekerjaan sering kali terkait dengan bagaimana aktivitas tersebut dapat ditampilkan secara menarik di internet.

Jika generasi sebelumnya lebih mengejar kestabilan finansial, Gen Z justru melihat pekerjaan dari aspek estetika, makna, dan relevansi dengan minat pribadi.

Baca Juga: Mengapa Gen Z Lebih Memilih Jadi Freelancer? Ini Alasan Lengkapnya

Profesi yang dahulu terlihat biasa kini naik kelas ketika bisa dijadikan konten atau punya nilai visual yang “keren”.

Pekerjaan pun tak lagi semata soal gaji, melainkan bagaimana profesi itu mencerminkan karakter mereka.

Pekerjaan yang Dipandang Bergengsi

Profesi berbasis kreativitas dan visual—seperti fotografer, desainer, kreator konten, atau influencer—menjadi favorit Gen Z.

Fleksibilitas kerja, kebebasan berkreasi, serta peluang untuk bekerja dari mana saja menjadi daya tarik besar. Rutinitas kantoran delapan jam sehari dianggap kurang menarik.

Tak hanya soal gaya, Gen Z juga menghargai pekerjaan dengan dampak sosial.

Aktivis lingkungan, relawan, hingga wirausahawan sosial kini dipandang terhormat karena memberikan kontribusi nyata.

Pengaruh Media Sosial

Platform seperti TikTok, Instagram, dan LinkedIn membuat profesi dengan nilai estetika tinggi semakin populer.

Contohnya, barista yang dulu dianggap pekerjaan biasa kini dianggap “kece” jika bisa menampilkan latte art, outfit stylish, atau suasana kafe yang estetik. Visual yang menarik meningkatkan nilai sosial pekerjaan itu di mata sesama Gen Z.

Pekerjaan sebagai Bentuk Aktualisasi

Gen Z mendambakan pekerjaan yang memberi ruang berekspresi dan relevan dengan bakat mereka.

Karier di dunia kreatif, teknologi, dan digital menjadi pilihan karena dinamis dan terus berkembang.

Pekerjaan seperti vlogger, pengembang aplikasi, hingga desainer web dianggap memberikan kebebasan sekaligus peluang penghasilan tanpa batas.

Baca Juga: Tekanan Sosial dan Finansial, Dua Penghalang Gen Z Punya Hunian Pribadi

Dampak Positif dan Negatif “Gengsi”

Fenomena ini membawa dua sisi. Gen Z berhasil menghapus stigma bahwa beberapa pekerjaan “kurang bergengsi” dan memberikan apresiasi baru pada profesi kreatif maupun pekerjaan freelance.

Namun, fokus berlebihan pada citra sering menimbulkan tekanan: tuntutan tampil sempurna, takut terlihat kurang sukses, hingga merasa harus selalu memiliki pekerjaan yang menarik secara visual.

Walau demikian, yang paling penting tetaplah pekerjaan yang memberikan kepuasan personal dan sesuai dengan nilai diri—bukan sekadar bagaimana profesi itu dipandang di media sosial.(laura)

Editor : Ali Mustofa
#Pekerjaan kreatif #Gengsi pekerjaan #Aktualisasi diri #Gen Z #media sosial