RADAR KUDUS - Pertanyaan “kapan punya anak?” masih menjadi kalimat yang paling sering diterima perempuan, terutama mereka yang berada di usia 20 hingga 30-an dan berada dalam hubungan jangka panjang.
Di banyak negara, termasuk Indonesia dan Inggris, masyarakat masih menyimpan ekspektasi bahwa seorang perempuan pada akhirnya harus menjadi seorang ibu.
Memiliki anak bahkan sering dianggap sebagai fase hidup yang “wajib” untuk dilalui.
Tekanan ini datang dari berbagai arah, mulai dari keluarga yang menantikan cucu, lingkungan pertemanan, hingga gambaran ideal dalam film, televisi, dan media sosial yang menempatkan peran ibu sebagai pusat kebahagiaan keluarga.
Bahkan, lembaga kesehatan dunia pernah menyuarakan imbauan bahwa perempuan usia subur sebaiknya menghindari alkohol demi persiapan kehamilan, seakan-akan semua perempuan memang ditakdirkan untuk menjadi ibu.
Meski demikian, realitas menunjukkan adanya perubahan besar dalam pola hidup masyarakat. Usia rata-rata perempuan menjadi ibu semakin meningkat.
Tidak sedikit yang memilih menunda kehamilan untuk menyelesaikan pendidikan, membangun karier, mencari pasangan yang tepat, atau karena merasa belum siap secara mental dan ekonomi.
Namun sayangnya, keputusan ini kerap dibalas dengan stigma. Perempuan yang menjadi ibu di usia lebih tua dianggap egois dan dinilai mempertaruhkan kesehatan anaknya.
Sebaliknya, perempuan yang memiliki anak di usia muda pun tak luput dari cibiran.
Mereka sering dicap tidak bertanggung jawab atau dianggap belum matang secara emosional.
Stigma ini bahkan lebih berat dirasakan oleh perempuan dari kalangan ekonomi kelas bawah.
Di sisi laki-laki, tekanan serupa tidak terlalu dirasakan. Secara biologis, laki-laki bisa menjadi ayah hingga usia yang jauh lebih tua.
Masyarakat juga tidak membebani mereka dengan “tenggat waktu” seketat yang dialami perempuan.
Kesenjangan ini menunjukkan adanya standar ganda yang masih melekat kuat dalam budaya patriarki.
Kesenjangan itu berlanjut dalam praktik pengasuhan anak. Buku-buku parenting, iklan, dan bahkan kebijakan kerja masih lebih banyak menyasar para ibu sebagai sosok utama pengasuh anak.
Ayah sering kali hanya diposisikan sebagai “pembantu” atau figur pendukung, bukan pihak yang memiliki tanggung jawab setara dalam urusan domestik dan pengasuhan.
Padahal, mengasuh anak adalah tugas besar yang menyita waktu, tenaga, biaya, serta kesiapan mental.
Sayangnya, budaya kerja di banyak negara belum cukup ramah terhadap orang tua, khususnya ibu.
Banyak perempuan terpaksa mengurangi jam kerja, bahkan mengorbankan kariernya setelah melahirkan demi mengurus anak.
Menariknya, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa para ayah yang memilih menjadi pengasuh utama (stay-at-home fathers) justru melihat pengasuhan sebagai bentuk kemitraan yang setara dengan pasangannya.
Namun, media sering kali menggambarkan keputusan mereka sebagai akibat tekanan ekonomi, bukan pilihan yang sadar dan penuh tanggung jawab.
Di tengah semua tekanan itu, mulai muncul tren baru: memilih untuk tidak memiliki anak atau dikenal dengan istilah childfree by choice.
Generasi Milenial dan Gen Z semakin berani menyuarakan pilihan ini.
Di beberapa negara, setengah dari populasi perempuan bahkan belum memiliki anak hingga usia 30 tahun.
Keputusan untuk tidak memiliki anak sering kali diiringi stigma. Perempuan dianggap melawan “kodrat”, dicap egois, dan dinilai menghancurkan harapan keluarga maupun masyarakat.
Padahal, setiap individu memiliki hak penuh atas tubuh dan jalan hidupnya masing-masing.
Perubahan besar terjadi berkat media sosial. Kampanye seperti We Are Childfree dan komunitas daring membuat pilihan tidak memiliki anak lebih terlihat, diterima, bahkan dirayakan.
Kehadiran komunitas ini juga menguatkan banyak perempuan bahwa mereka tidak sendirian, terlepas dari pilihan hidup yang mereka ambil.
Pada akhirnya, memiliki anak atau tidak adalah keputusan personal — bukan kewajiban sosial.
Perempuan berhak menentukan jalannya sendiri, tanpa tekanan, tanpa stigma, dan tanpa rasa bersalah atas pilihan yang mereka anggap paling tepat untuk hidupnya. (rani)
Editor : Ali Mustofa