Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Fast Fashion Tak Lagi Fashionable: Saat Tren Murah Menguras Bumi

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 13 November 2025 | 21:58 WIB
Ilustrasi Fast Fashion
Ilustrasi Fast Fashion

RADAR KUDUS - Dalam beberapa tahun terakhir, industri mode berubah drastis. Pakaian kini tak lagi dibuat untuk bertahan lama, melainkan untuk diganti secepat tren berganti.

Fenomena inilah yang dikenal dengan fast fashion — sistem produksi pakaian murah, cepat, dan massal yang mengedepankan kuantitas dibanding kualitas.

Setiap minggu, koleksi baru bermunculan, menggoda konsumen untuk terus membeli.

Namun, di balik harga terjangkau dan desain kekinian, tersembunyi masalah besar bagi lingkungan: limbah, polusi, dan pemborosan sumber daya alam.

Baca Juga: Tekanan Sosial dan Finansial, Dua Penghalang Gen Z Punya Hunian Pribadi

Baju Murah, Biaya Alam yang Mahal

Sebagian besar pakaian fast fashion dibuat dari bahan sintetis seperti polyester, nilon, atau akrilik — turunan minyak bumi yang sulit terurai.

Saat dicuci, serat-serat mikro dari bahan ini terlepas dan mencemari laut. Partikel mikroplastik itu kemudian masuk ke rantai makanan, bahkan bisa kembali ke tubuh manusia.

Proses produksinya juga boros energi dan menghasilkan banyak gas rumah kaca. Industri tekstil kini menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia.

Masalah tak berhenti di situ. Pola konsumsi cepat mendorong perilaku “pakai lalu buang”.

Banyak pakaian hanya digunakan beberapa kali sebelum berakhir di tempat pembuangan akhir.

Bahan sintetis yang digunakan bisa membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai, menambah beban limbah global yang sudah mengkhawatirkan.

Air, Tanah, dan Udara Jadi Korban

Tahap pewarnaan dan penyelesaian kain melibatkan bahan kimia berbahaya.

Di banyak negara berkembang, limbah cair dari pabrik tekstil kerap dibuang tanpa pengolahan memadai, mencemari sungai dan ekosistem air.

Untuk bahan alami seperti katun pun, dampaknya tak kalah besar. Diperlukan hingga 2.700 liter air hanya untuk membuat satu kaus.

Jumlah itu cukup untuk memenuhi kebutuhan minum satu orang selama lebih dari dua tahun.

Jika dikalikan jutaan produk, dapat dibayangkan betapa besarnya air dan energi yang tersedot demi industri mode cepat ini.

Dunia Mulai Melawan

Kekhawatiran terhadap dampak lingkungan membuat beberapa negara mengambil langkah tegas.

Salah satu yang paling progresif adalah Prancis. Negara itu melarang iklan fast fashion dan menerapkan pajak lingkungan bagi produk yang memiliki jejak karbon tinggi.

Setiap merek dinilai melalui sistem eco-score, yang mengukur emisi karbon, konsumsi sumber daya, serta potensi daur ulang.

Produk dengan skor rendah akan dikenai pajak tinggi. Hasilnya akan dialokasikan untuk pengembangan mode berkelanjutan.

Uni Eropa juga sedang menyusun kebijakan sejenis, termasuk larangan membuang stok tak terjual dan kewajiban transparansi rantai pasok melalui paspor produk digital.

Dunia sepakat: mode masa depan harus ramah bumi, bukan sekadar cepat dan murah.

Gaya Hidup Cepat Menular ke Indonesia

Di Indonesia, tren thrifting haul dan belanja pakaian daring murah semakin digemari.

Banyak yang tergoda karena harga rendah dan model beragam. Namun tanpa disadari, perilaku konsumtif ini memperbesar tumpukan limbah tekstil dan menekan pelaku industri lokal.

Padahal, langkah sederhana seperti membeli seperlunya, memilih bahan tahan lama, atau memperbaiki pakaian rusak sudah menjadi bentuk nyata menjaga lingkungan.

Dari Fast Fashion ke Slow Fashion

Fast fashion menawarkan kesenangan instan, tapi meninggalkan jejak panjang bagi bumi.

Kini muncul gerakan slow fashion, yang menekankan kualitas, keberlanjutan, dan tanggung jawab sosial dalam proses produksinya.

Gerakan ini mengajak masyarakat untuk melihat pakaian bukan sekadar tren, tapi investasi jangka panjang — sesuatu yang dirawat, bukan dibuang.

Karena mode sejati bukan tentang siapa yang paling cepat berganti pakaian, melainkan siapa yang paling lama menjaga bumi. (rani)

Editor : Ali Mustofa
#fashion #sampah #fast fashion #Style #limbah