Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Makna Seni Mencintai dari Socrates, Bapak Filsuf Besar Yunani Kuno

Nayla Karima • Senin, 20 Oktober 2025 | 21:53 WIB
Ilustrasi sepasang kekasih memberikan cinta dengan tulus
Ilustrasi sepasang kekasih memberikan cinta dengan tulus

RADARKUDUS - Socrates adalah seorang filsuf besar dari Yunani Kuno yang hidup sekitar abad ke-5 SM.

Filsuf dikenal sebagai bapak filsafat Barat yang mengajarkan pentingnya berpikir kritis, kebenaran, dan kesederhanaan dalam hidup.

Meski tidak pernah menuliskan ajarannya sendiri, gagasan Socrates tetap abadi berkat murid-muridnya seperti Plato dan Aristoteles.

 Baca Juga: Mengenal Makna Ungkapan Yang Terkenal Aku Berpikir, Maka Aku Ada

Salah satu pandangannya yang mendalam adalah tentang cinta: “Cinta sejati lahir dari jiwa, bukan dari tubuh," katanya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa cinta sejati bukanlah sekadar ketertarikan fisik. Wajah rupawan atau tubuh yang menarik memang bisa memikat hati, tetapi itu hanya sementara.

Tubuh akan menua, kecantikan bisa pudar, namun jiwa yang indah akan tetap abadi.

 Baca Juga: Punya Pikiran Cemerlang Tidaklah Cukup, Yang Penting Bagaimana Kita Bisa Gunakan dengan Baik

Cinta yang hanya lahir dari tubuh mudah hilang, tapi cinta yang lahir dari jiwa akan bertahan meski waktu terus berjalan.

Dalam kehidupan modern, kita sering melihat bagaimana hubungan bisa goyah hanya karena faktor fisik atau materi.

Banyak orang terjebak dalam standar kecantikan atau penampilan semata, sehingga melupakan esensi terdalam dari cinta itu sendiri.

 Baca Juga: Ini 5 Alasan Mengapa Kita Harus Menjaga Perasaan Seseorang

Socrates ingin mengingatkan bahwa cinta sejati justru lahir dari kepribadian, hati yang tulus, dan keselarasan jiwa.

Cinta yang lahir dari jiwa membuat kita melihat pasangan bukan hanya dari apa yang terlihat mata, tetapi dari siapa dia sebenarnya.

Sifat sabar, ketulusan, kejujuran, dan kebaikan adalah magnet sejati yang membuat cinta bertahan. Saat tubuh melemah, ketika rambut memutih, jiwa yang tulus tetap akan membuat cinta terasa indah.

 Baca Juga: Mengapa Abdi Dalem Keraton Tidak Memakai Alas Kaki? Begini Penjelasannya

Pernyataan ini juga mengajarkan kita untuk lebih menghargai makna cinta. Jangan hanya terpikat pada apa yang terlihat, tapi dalami nilai-nilai yang ada di baliknya. Jiwa yang indah adalah pondasi yang membuat hubungan langgeng.

Maka, dalam memilih pasangan, kita tidak hanya perlu bertanya: “Apakah dia menarik?” tetapi juga, “Apakah dia baik hatinya?”

Dalam era media sosial, banyak orang menampilkan sisi luar yang serba indah. Namun Socrates seakan mengingatkan kita, jangan terkecoh pada penampilan semata.

 Baca Juga: Zainul Maarif, Tokoh Muda NU yang Kunjungi Presiden Israel Pamer Foto di Instagram Sebut Dirinya Filsuf-Agamawan: Kini Gembok Akun

Cinta yang sejati adalah tentang bagaimana kita terhubung hati ke hati, jiwa ke jiwa. Itulah yang membuat dua orang mampu melewati badai kehidupan bersama.

Lebih dalam lagi, cinta dari jiwa juga mengajarkan tentang penerimaan. Kita belajar untuk mencintai kekurangan pasangan, melihat keindahan dalam ketidaksempurnaan, dan tetap setia meski godaan datang.

Jiwa yang saling terhubung akan lebih kuat daripada sekadar ikatan fisik.

 Baca Juga: Makna Andhap Asor Sebagai Adab Masyarakat Jawa Untuk Rendah Hati

Pada akhirnya, cinta sejati adalah perjalanan jiwa, bukan hanya kenikmatan tubuh.

Jika kita mau membangun cinta dari kedalaman jiwa, maka cinta itu akan bertahan, tulus, dan penuh makna.

Mari kita belajar dari Socrates: "Cintailah seseorang karena jiwanya, karena di situlah letak keindahan yang sebenarnya."

Editor : Ali Mustofa
#filsuf Yunani kuno #filsuf kuno #Bunga makna cinta #makna cinta #Makna cinta sejati