RADARKUDUS - Socrates adalah seorang filsuf besar dari Yunani Kuno yang hidup sekitar abad ke-5 SM.
Filsuf dikenal sebagai bapak filsafat Barat yang mengajarkan pentingnya berpikir kritis, kebenaran, dan kesederhanaan dalam hidup.
Meski tidak pernah menuliskan ajarannya sendiri, gagasan Socrates tetap abadi berkat murid-muridnya seperti Plato dan Aristoteles.
Baca Juga: Mengenal Makna Ungkapan Yang Terkenal Aku Berpikir, Maka Aku Ada
Salah satu pandangannya yang mendalam adalah tentang cinta: “Cinta sejati lahir dari jiwa, bukan dari tubuh," katanya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa cinta sejati bukanlah sekadar ketertarikan fisik. Wajah rupawan atau tubuh yang menarik memang bisa memikat hati, tetapi itu hanya sementara.
Tubuh akan menua, kecantikan bisa pudar, namun jiwa yang indah akan tetap abadi.
Baca Juga: Punya Pikiran Cemerlang Tidaklah Cukup, Yang Penting Bagaimana Kita Bisa Gunakan dengan Baik
Cinta yang hanya lahir dari tubuh mudah hilang, tapi cinta yang lahir dari jiwa akan bertahan meski waktu terus berjalan.
Dalam kehidupan modern, kita sering melihat bagaimana hubungan bisa goyah hanya karena faktor fisik atau materi.
Banyak orang terjebak dalam standar kecantikan atau penampilan semata, sehingga melupakan esensi terdalam dari cinta itu sendiri.
Baca Juga: Ini 5 Alasan Mengapa Kita Harus Menjaga Perasaan Seseorang
Socrates ingin mengingatkan bahwa cinta sejati justru lahir dari kepribadian, hati yang tulus, dan keselarasan jiwa.
Cinta yang lahir dari jiwa membuat kita melihat pasangan bukan hanya dari apa yang terlihat mata, tetapi dari siapa dia sebenarnya.
Sifat sabar, ketulusan, kejujuran, dan kebaikan adalah magnet sejati yang membuat cinta bertahan. Saat tubuh melemah, ketika rambut memutih, jiwa yang tulus tetap akan membuat cinta terasa indah.
Baca Juga: Mengapa Abdi Dalem Keraton Tidak Memakai Alas Kaki? Begini Penjelasannya
Pernyataan ini juga mengajarkan kita untuk lebih menghargai makna cinta. Jangan hanya terpikat pada apa yang terlihat, tapi dalami nilai-nilai yang ada di baliknya. Jiwa yang indah adalah pondasi yang membuat hubungan langgeng.
Maka, dalam memilih pasangan, kita tidak hanya perlu bertanya: “Apakah dia menarik?” tetapi juga, “Apakah dia baik hatinya?”
Dalam era media sosial, banyak orang menampilkan sisi luar yang serba indah. Namun Socrates seakan mengingatkan kita, jangan terkecoh pada penampilan semata.
Cinta yang sejati adalah tentang bagaimana kita terhubung hati ke hati, jiwa ke jiwa. Itulah yang membuat dua orang mampu melewati badai kehidupan bersama.
Lebih dalam lagi, cinta dari jiwa juga mengajarkan tentang penerimaan. Kita belajar untuk mencintai kekurangan pasangan, melihat keindahan dalam ketidaksempurnaan, dan tetap setia meski godaan datang.
Jiwa yang saling terhubung akan lebih kuat daripada sekadar ikatan fisik.
Baca Juga: Makna Andhap Asor Sebagai Adab Masyarakat Jawa Untuk Rendah Hati
Pada akhirnya, cinta sejati adalah perjalanan jiwa, bukan hanya kenikmatan tubuh.
Jika kita mau membangun cinta dari kedalaman jiwa, maka cinta itu akan bertahan, tulus, dan penuh makna.
Mari kita belajar dari Socrates: "Cintailah seseorang karena jiwanya, karena di situlah letak keindahan yang sebenarnya."
Editor : Ali Mustofa