RADAR KUDUS - Secara harfiah, memiliki pikiran cemerlang berarti dikaruniai kemampuan nalar yang tajam dan cepat dalam memahami, menganalisis, atau menciptakan ide.
Namun, Descartes, sebagai Bapak Filsafat Modern yang dikenal dengan penekanannya pada rasionalisme dan metode berpikir yang sistematis, ingin menyampaikan bahwa kecemerlangan itu akan sia-sia jika hanya berhenti sebagai potensi di dalam kepala.
"Kemampuan intelektual atau kecerdasan bawaan hanyalah potensi awal, dan nilai sesungguhnya dari kecerdasan tersebut terletak pada aksi dan implementasinya yang terarah serta metodis," ungkap Rene Descartes.
Pemanfaatan yang baik merujuk pada disiplin untuk menggunakan akal dalam mencari kebenaran, memecahkan masalah, dan membuat keputusan yang bijaksana.
Baca Juga: Mengapa Abdi Dalem Keraton Tidak Memakai Alas Kaki? Begini Penjelasannya
Bagi Descartes sangat terkait dengan penggunaan metode yang benar (seperti yang dijelaskan dalam Discourse on the Method).
Makna utama ungkapan ini adalah penekanan pada aplikasi praktis, metodologi, dan disiplin diri dalam berpikir.
Pikiran cemerlang tanpa metode dan penerapannya yang tepat ibarat memiliki mesin yang sangat kuat tetapi tidak tahu cara mengoperasikannya atau ke mana harus mengarahkannya.
Kecerdasan yang baik harus diimbangi dengan ketepatan cara kerja—yakni, kemampuan untuk meragukan secara metodis, menganalisis masalah menjadi bagian-bagian terkecil, menyusun pemikiran secara logis dari yang sederhana hingga kompleks, dan melakukan peninjauan menyeluruh.
Oleh karena itu, bagi Descartes, keunggulan seseorang bukan hanya ditentukan oleh kualitas ide bawaannya, melainkan oleh kemauan keras untuk mengendalikan, mengarahkan, dan memanfaatkan nalar secara konsisten.
Serta konstruktif untuk mencapai pengetahuan yang pasti dan bertindak secara rasional dalam kehidupan sehari-hari.
Editor : Mahendra Aditya