Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Hidup Estetik, Dompet Panik: Pengeluaran Makan Gen Z Membengkak

Redaksi Radar Kudus • Rabu, 15 Oktober 2025 | 22:33 WIB

Nongkrong, Selfie, Cafe
Nongkrong, Selfie, Cafe

Radar Kudus - Dalam beberapa tahun terakhir, kebiasaan konsumsi Generasi Z menjadi sorotan, terutama soal pengeluaran untuk makanan.

Nongkrong di kafe kekinian, berburu kuliner viral, hingga rutin menggunakan layanan pesan antar—semuanya seolah sudah menjadi rutinitas harian. Tapi mengapa kebutuhan makan bisa menjadi pengeluaran terbesar mereka?

1. Media Sosial Bentuk Cara Konsumsi Baru

Gen Z tumbuh dalam lingkungan digital yang penuh visual. Instagram dan TikTok memengaruhi cara mereka memaknai makanan—bukan hanya sebagai kebutuhan fisik, tapi juga simbol gaya hidup.

Makanan yang tampil menarik dan suasana tempat makan yang “Instagrammable” mendorong mereka untuk mengejar pengalaman visual, bukan hanya rasa. 

Baca Juga: Gen Z dan Godaan Diskon Online: Mengapa Kita Sulit Menahan Diri?

Seorang anggota Gen Z mengungkapkan bahwa menurutnya sayang sekali jika berada di tempat yang estetik namun tidak diabadikan dalam foto.

2. Pengalaman = Investasi Sosial

Alih-alih mengoleksi barang, Gen Z lebih memilih mengumpulkan momen. Mereka rela menghabiskan dana besar untuk mencoba makanan unik atau menghadiri event kuliner bersama teman. Aktivitas ini dianggap memberikan nilai sosial dan memori yang lebih berkesan dibandingkan barang.

3. Serba Praktis dan Cepat

Mobilitas tinggi dan ritme hidup cepat membuat memasak jadi opsi terakhir. Gen Z lebih sering mengandalkan pesan-antar makanan sebagai solusi praktis di tengah kesibukan. Sayangnya, kemudahan ini seringkali membuat pengeluaran membengkak tanpa disadari.

Survei kecil terhadap 100 responden Gen Z menunjukkan bahwa 40% dari mereka menghabiskan antara 30% hingga 50% penghasilan atau uang bulanan hanya untuk makanan.

4. Kurangnya Kontrol Anggaran

Di balik gaya hidup yang seru, ada sisi yang kurang diperhatikan: pengaturan keuangan. Banyak Gen Z merasa kesulitan menabung karena pengeluaran untuk makan dan gaya hidup lainnya menguras sebagian besar dana mereka. Hal ini berisiko menyulitkan mereka dalam membangun stabilitas finansial di masa depan.

5. Menuju Gaya Hidup yang Lebih Seimbang

Untuk menghindari krisis keuangan sejak dini, penggunaan aplikasi pengelola keuangan bisa jadi solusi. Aplikasi seperti ini membantu pengguna menetapkan anggaran makan dan melacak pengeluaran harian.

Laporan JPMorgan Chase & Co. tahun 2022 menyebutkan bahwa 61% Gen Z mulai memperhatikan kondisi keuangan setelah bekerja. Ini menjadi sinyal positif bahwa kesadaran finansial perlahan tumbuh, meskipun godaan konsumtif masih tinggi.

Baca Juga: Tren Belanja Gen Z 2025: Dari Skincare hingga Gadget Kekinian

Penutup: Makan Enak, Tapi Jangan Lupa Masa Depan

Makanan kini telah melampaui perannya sebagai pemenuh kebutuhan dasar—ia juga menjadi bagian dari identitas sosial dan pengalaman.

Tapi di tengah semua kesenangan itu, penting bagi Gen Z untuk mengembangkan pola pikir finansial yang lebih dewasa. Karena keputusan hari ini, sekecil apa pun, berdampak pada hari esok.(laura)

Editor : Mahendra Aditya
#Investasi Sosial #Konsumsi kuliner #Gaya hidup Gen Z #Pengaruh media sosial #Trend media sosial