Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Generasi Z Tak Lagi Anggap Pernikahan Sebagai Prioritas: Fenomena Micro-Cheating Jadi Penyebabnya

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 23 September 2025 | 22:11 WIB
MESRA: Lee Seung Gi Bersama Istrinya dalam foto pernikahan mereka.
MESRA: Lee Seung Gi Bersama Istrinya dalam foto pernikahan mereka.

RADAR KUDUS - Selama puluhan tahun, pernikahan di Indonesia kerap dipandang sebagai tonggak penting sekaligus tujuan akhir dalam kehidupan seseorang.

Upacara yang dianggap sakral ini identik dengan kebahagiaan, pembentukan keluarga, dan legitimasi sosial.

Namun, di tengah perubahan nilai dan gaya hidup modern, Generasi Z (Gen Z) mulai menunjukkan cara pandang baru terhadap pernikahan.

 

Bagi banyak anggota Gen Z, menikah bukan lagi kewajiban atau satu-satunya jalan menuju kebahagiaan.

Mereka melihatnya sebagai salah satu opsi di antara banyak pilihan hidup lainnya, sejajar dengan pengembangan karier, kebebasan finansial, dan eksplorasi diri. 

Ada sejumlah faktor yang membuat Gen Z lebih berhati-hati sebelum memutuskan menikah.

Paparan informasi yang luas dan cepat melalui media sosial membuat mereka semakin sadar bahwa pernikahan tidak selalu identik dengan kebahagiaan.

Kasus perselingkuhan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang viral menjadi pengingat bahwa risiko dalam hubungan serius tetap ada.

 

Fenomena “swipe culture” dari aplikasi kencan juga memengaruhi cara pandang mereka.

Banyaknya pilihan pasangan dan gambaran “pasangan sempurna” di dunia maya menciptakan standar tinggi yang sulit ditemukan di dunia nyata.

Hal ini membuat sebagian Gen Z cenderung lebih selektif atau “picky” dalam memilih pasangan.

Selain itu, fenomena “micro-cheating”—seperti pasangan diam-diam mengirim pesan ke orang lain meski sudah memiliki hubungan—menambah keraguan mereka terhadap komitmen jangka panjang.

Faktor-faktor tersebut membuat pernikahan bukan prioritas utama.

Gen Z juga memandang kesiapan menikah tidak lagi diukur dari usia, melainkan dari kematangan finansial dan emosional.

Bagi mereka, tanda seseorang siap menikah antara lain sudah memiliki tabungan, pekerjaan yang stabil, asuransi, serta terbebas dari utang.

Secara emosional, mereka mengukur kesiapan dari kemampuan menyelesaikan masalah secara dewasa baik secara individu maupun bersama pasangan.

Ini berarti tidak ada batasan usia tertentu untuk menikah; keputusan tersebut lebih fleksibel, bergantung pada kesiapan tiap orang.

Cara pandang baru ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai tradisional tentang pernikahan terus berevolusi seiring perkembangan zaman.

Gen Z bukan menolak pernikahan, melainkan menempatkannya dalam konteks yang lebih realistis dan personal, sesuai kebutuhan serta prioritas hidup masing-masing.

 

Editor : Ali Mustofa
#pernikahan #Gen Z #Micro Cheating #Swipe Culture #generasi z