Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bahayanya Iri dan Dendam, Penyakit Hati yang Bisa Meretakkan Tali Persaudaraan

Ali Mustofa • Senin, 8 September 2025 | 18:31 WIB
Ilustrasi seseorang yang diam-diam menyimpan dendan pada orang lain.
Ilustrasi seseorang yang diam-diam menyimpan dendan pada orang lain.

RADAR KUDUS – Sejarah mencatat bahwa dosa pertama yang terjadi di surga maupun di bumi lahir dari satu penyakit hati: hasad.

Iblis terusir dari rahmat Allah karena dengki terhadap Nabi Adam ‘alaihissalam, sementara di muka bumi Qabil tega membunuh saudaranya Habil akibat iri hati.

Dua kisah itu menjadi bukti betapa berbahayanya hasad, karena ia mampu menjerumuskan manusia ke dalam kehancuran yang panjang.

Para ulama menyebut hasad sebagai penyakit hati yang amat berbahaya, karena ia melahirkan kebencian, permusuhan, dan perbuatan buruk lainnya.

Hasad bukan sekadar perasaan tidak suka terhadap nikmat yang dimiliki orang lain.

Tetapi juga keinginan agar nikmat itu hilang, bahkan disertai upaya nyata untuk melenyapkannya.

Inilah bentuk hasad yang diharamkan, sebagaimana telah diperingatkan Rasulullah SAW dalam berbagai hadits.

Dalam sebuah riwayat sahih, Rasulullah SAW bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menegaskan bahwa kebersihan hati menjadi kunci utama kebaikan manusia.

Hati yang bersih akan memunculkan amal saleh, sementara hati yang kotor karena iri dan dengki akan menjerumuskan pelakunya dalam perbuatan tercela.

Rasulullah SAW bahkan melarang umatnya saling membenci, saling mendengki, dan saling memutuskan hubungan, karena sejatinya kaum Muslimin adalah bersaudara.

Rasulullah SAW juga bersabda: “Janganlah kalian saling membenci, jangan saling mendengki, dan jangan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hasad Mengikis Pahala dan Merusak Persaudaraan

Bahaya hasad tidak berhenti pada perasaan pribadi. Jika dibiarkan, hasad akan melahirkan permusuhan, memutus tali silaturahmi, serta mengikis pahala amal baik.

Nabi Muhammad SAW memperingatkan: “Jauhilah hasad, karena sesungguhnya hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud).

Artinya, seseorang yang rajin beribadah sekalipun bisa kehilangan pahala amalnya jika hatinya masih dikuasai iri dengki.

Hal ini menunjukkan betapa besar kerugian spiritual yang ditimbulkan oleh hasad.

Di sisi lain, dendam juga menjadi penyakit hati yang tidak kalah berbahaya.

Dendam adalah amarah yang disimpan dalam hati, disertai keinginan kuat untuk membalas keburukan dengan keburukan yang lebih besar.

Sikap pendendam menyebabkan seseorang sulit memaafkan, bahkan menjerumuskan dirinya dalam dosa berulang-ulang.

Nabi SAW bersabda: “Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang menyimpan dendam kesumat.” (HR. Muslim).

Dendam bukan hanya merusak jiwa pelakunya, tetapi juga menghancurkan hubungan sosial.

Silaturahmi terputus, kasih sayang hilang, dan permusuhan pun tumbuh subur. Padahal, orang yang memutus tali silaturahmi diancam tidak akan masuk surga (HR. Bukhari dan Muslim).

Melawan Hawa Nafsu, Menjaga Kebersihan Hati

Para ulama menekankan, cara terbaik untuk menyelamatkan diri dari hasad dan dendam adalah dengan melawan hawa nafsu.

Perjuangan melawan nafsu inilah yang menjadi jalan para wali Allah hingga mencapai derajat kewalian.

Nafsu yang dikendalikan akan menuntun hati untuk rela, sabar, dan ridha terhadap ketentuan Allah.

Al-Qur’an sendiri telah memberikan petunjuk jelas tentang pentingnya membalas keburukan dengan kebaikan.

Dalam QS. Fushshilat ayat 34, Allah berfirman: “Tidaklah sama antara kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara engkau dan dia ada permusuhan seakan-akan menjadi teman yang sangat setia.”

Ayat ini mengajarkan bahwa jalan menuju perdamaian adalah dengan kesabaran dan memaafkan.

Membalas kejahatan dengan kebaikan justru akan melahirkan persahabatan baru, bukan permusuhan berkepanjangan.

Selain itu, Allah SWT juga berjanji dalam QS. Ali Imran ayat 133-134.

Artinya: “Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarah, dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Ayat ini menegaskan bahwa surga disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, salah satu cirinya adalah mampu menahan amarah dan memaafkan.

Pada akhirnya, semua ujian hati ini harus dipandang dari perspektif akhirat.

Dunia hanyalah tempat singgah sementara, sementara surga adalah kenikmatan abadi.

Semua rasa iri, dengki, dan dendam yang dibiarkan tumbuh dalam hati hanya akan menjauhkan manusia dari kebahagiaan yang sejati.

Rasulullah SAW dan para ulama berulang kali menekankan bahwa bekal menuju surga adalah takwa.

Dengan takwa, seseorang akan mampu menjaga dirinya dari penyakit hati, melawan hawa nafsu, dan menempuh jalan yang diridai Allah SWT.

Hasad, dendam, dan penyakit hati lainnya hanyalah racun yang menghancurkan diri sendiri.

Sebaliknya, hati yang bersih, penuh kesabaran, kasih sayang, dan rasa syukur akan menjadi kunci kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Editor : Ali Mustofa
#iri hati #Persaudaraan #dendam #dengki #nafsu #hasad