Bahaya Iri dan Dengki: Musuh Tak Kasat Mata yang Menghancurkan Hidup
Ali Mustofa• Kamis, 4 September 2025 | 17:26 WIB
Ilustrasi seseorang yang diam-diam merasa iri hati pada pencapaian temannya.
RADAR KUDUS – Banyak orang sibuk mencari siapa lawan atau pesaing mereka di luar sana.
Namun, pernahkah kita sadar bahwa musuh paling berbahaya justru bersarang dalam diri sendiri?
Rasa iri, dengki, dendam, dan kebencian ternyata menjadi racun yang perlahan merampas ketenangan jiwa, menghancurkan kebahagiaan, bahkan bisa merusak tatanan sosial masyarakat.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap berhadapan dengan orang-orang sulit. Ada yang temperamental, pendendam, suka meremehkan, bahkan gemar menyalahkan tanpa henti.
Kondisi ini sering memicu konflik dan perselisihan. Namun, menurut nasihat seorang kiai, cara terbaik menghadapi orang semacam itu bukan dengan permusuhan.
“Orang yang hatinya dipenuhi hasad jangan dijadikan sahabat, tapi juga jangan dijadikan musuh. Cukup jaga jarak sewajarnya, bertegur sapa seperlunya, lalu selesai,” pesannya.
Hasad atau iri hati disebut sebagai penyakit hati paling berbahaya. Orang yang dikuasai hasad tidak hanya tersiksa dengan kegelisahan batin, tetapi juga kehilangan fokus untuk memperbaiki dirinya.
Mereka lebih sibuk berharap orang lain gagal daripada berusaha meningkatkan kualitas diri sendiri.
Kisah nyata di masyarakat pun membuktikan hal ini. Seorang pedagang mengeluh karena warungnya kalah ramai dibandingkan tetangganya.
Setelah diselidiki, ternyata bukan hanya harga yang membuat tetangga lebih laris, tapi juga pelayanan ramah dan sikap mudah dipercaya.
Alih-alih introspeksi, pedagang itu justru larut dalam rasa iri. Padahal kunci sukses ada pada perbaikan diri, bukan pada kejatuhan orang lain.
Sementara itu, Islam mengajarkan fastabiqul khoirot, yaitu berlomba-lomba dalam kebaikan.
Artinya, persaingan seharusnya dilakukan dengan meningkatkan amal, memperbanyak pelayanan, dan menunjukkan kepedulian sosial, bukan menebar kebencian.
Perbedaan agama, bangsa, bahkan budaya seharusnya memperkaya kehidupan, bukan menjadi alasan untuk saling menjatuhkan.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayat Al-Hidayah menegaskan, ada tiga penyakit hati yang sangat berbahaya: hasad (iri hati), riya (pamer), dan ujub (sombong).
Dari ketiganya, hasad dianggap paling dahsyat karena mampu memicu permusuhan, percekcokan, bahkan peperangan yang menelan korban.
Rasulullah Saw pun memberikan peringatan keras: “Jauhilah hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud).
Bahkan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (QS. Al-Falaq: 5).
Secara psikologis, hasad adalah bom waktu. Orang yang iri hati cenderung tidak mampu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.
Hidup dalam kegelisahan karena tidak nyaman melihat kebahagiaan orang lain.
Mudah terjerumus dalam ghibah, fitnah, dan adu domba yang merusak ikatan persaudaraan.
Serta, menumbuhkan kebencian dan permusuhan yang bisa memicu kerusakan sosial berkepanjangan.
Ironisnya, orang yang hasad lebih banyak menyiksa dirinya sendiri.
Mereka tidak bisa tidur nyenyak, hatinya penuh prasangka, dan pikirannya dipenuhi kebencian. Kebahagiaan pun menjauh, berganti kegelisahan yang tak berujung.
Meski tidak terlihat, hasad adalah energi negatif yang nyata dampaknya. Ia bisa menghancurkan individu, merusak hubungan sosial, bahkan melumpuhkan peradaban.
Betapa banyak perseteruan keluarga, konflik antar tetangga, hingga peperangan antar bangsa, berawal dari sifat iri hati.
Pesan pentingnya adalah sebelum menuding orang lain sebagai musuh, periksalah hati kita sendiri.
Jangan sampai hasad, iri, dan dengki justru menjadi senjata yang menusuk balik diri kita tanpa kita sadari.