Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Strava Jadi Tren di Kalangan Anak Muda: Olahraga Serius atau Ajang Eksistensi?

Redaksi Radar Kudus • Rabu, 2 Juli 2025 | 21:51 WIB
Strava aplikasi yang tengah viral dikalangan anak muda
Strava aplikasi yang tengah viral dikalangan anak muda

RADAR KUDUS - Di tengah perkembangan teknologi digital yang pesat dan peran media sosial yang semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan fisik seperti lari dan bersepeda mulai mengalami perubahan fungsi.

Aktivitas yang sebelumnya murni bertujuan menjaga kebugaran kini juga dimanfaatkan sebagai sarana membentuk citra diri.

Fenomena ini tampak jelas melalui meningkatnya popularitas aplikasi pemantau aktivitas olahraga seperti Strava di kalangan anak muda Indonesia.

Strava awalnya dikembangkan untuk mendorong penggunanya hidup sehat melalui pencatatan aktivitas olahraga secara digital.

Namun dalam praktiknya, aplikasi ini berkembang menjadi media validasi sosial, di mana data olahraga digunakan sebagai simbol gaya hidup sehat di ruang digital.

Setiap kilometer yang ditaklukkan, rute unik yang diambil, hingga statistik kecepatan dan durasi kini kerap dibagikan ke platform seperti Instagram, bukan sekadar untuk dokumentasi, melainkan demi mendapatkan apresiasi dalam bentuk likes, komentar, dan pengakuan sosial.

Media Sosial dan Budaya Tampilan Diri

Menurut para ahli sosiologi, olahraga kini tidak lagi bersifat pribadi, melainkan menjadi semacam pertunjukan virtual.

Konten kegiatan olahraga dipoles seapik mungkin—dilengkapi statistik dan foto yang estetik.

Tak sedikit anak muda bahkan menyewa jasa fotografer khusus seperti FOTOYU yang hadir di acara Car Free Day (CFD), demi konten visual yang bisa diedit menjadi video pendek dengan musik cepat dan efek dramatis.

Dalam beberapa kasus, demi menciptakan narasi sporty yang menarik, ada yang melakukan tindakan ekstrem seperti mengambil minuman dari kulkas minimarket tanpa membayar, hanya untuk konten.

Setelah pengambilan gambar selesai, minuman tersebut dikembalikan begitu saja.

Perilaku ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah olahraga masih dilakukan untuk kesehatan, atau hanya demi citra?

Identitas Digital dan Strategi Self-Branding

Dari sudut pandang interaksionisme simbolik, simbol-simbol sosial seperti angka kilometer, rute GPS, busana olahraga, hingga konten video menjadi alat bagi anak muda untuk membentuk identitas sebagai sosok modern, aktif, dan peduli kesehatan.

Seorang sosiolog menyebut bahwa melalui Strava, mereka tak hanya menunjukkan aktivitas fisik, tapi juga menyampaikan pesan implisit: “Saya disiplin, saya keren, dan saya patut diapresiasi.”

Kebiasaan membagikan aktivitas olahraga secara konsisten menjadi bagian dari proses self-branding, yakni membentuk citra diri yang positif dan aktif di dunia maya.

Ini menciptakan tekanan sosial tak kasat mata—siapa yang tidak terlihat aktif di media sosial, dianggap tidak melakukan apa-apa.

Kreativitas Digital dan Praktik Tidak Etis

Tren ini turut melahirkan berbagai ekspresi kreatif, seperti membentuk rute lari yang menyerupai gambar hati atau wajah kartun.

Namun di sisi lain, muncul pula praktik yang menyalahi nilai kejujuran, seperti fenomena “joki Strava.”

Dalam kasus ini, seseorang menyewa orang lain untuk berlari atas namanya, lalu mengunggah hasilnya demi membangun citra aktif.

Ini menggambarkan sisi kelam dari budaya pencitraan digital, di mana prestasi bisa dibeli dan identitas bisa dikonstruksi, demi pengakuan sosial.

Akibatnya, batas antara keaslian dan kepalsuan semakin kabur.

Panggung Kehidupan Sosial di Era Media Sosial

Melalui lensa dramaturgi ala Erving Goffman, media sosial menjadi panggung utama tempat individu memainkan peran ideal mereka.

Para pemuda menjadi “aktor” yang mengenakan perlengkapan olahraga keren, berlari di lokasi ikonik, menyewa fotografer, dan mengedit konten agar seolah-olah mencerminkan gaya hidup sehat.

Namun di balik panggung (backstage), mungkin saja mereka hanya hadir sebentar untuk membuat konten tanpa benar-benar berolahraga. Ini menunjukkan bahwa tampilan visual sering kali lebih diutamakan dibanding kenyataan sebenarnya.

Konsumerisme Visual dan Algoritma Sosial

Fenomena Strava tak lepas dari pengaruh budaya konsumerisme digital. Identitas kini disusun dan dipasarkan lewat media sosial.

Jam tangan pintar, baju olahraga premium, dan konten estetik menjadi alat untuk menunjukkan gaya hidup urban yang dianggap ideal.

Anak muda pun beralih dari pelaku reflektif menjadi konsumen citra diri yang mereka ciptakan.

Algoritma media sosial memperkuat hal ini dengan mendorong konten visual yang indah lebih cepat viral.

Hasilnya, status sosial digital dibentuk dari seberapa aktif seseorang tampil di dunia maya.

Dampak Psikologis dari Tuntutan Tampil Sempurna

Tekanan untuk terus tampil sempurna di media sosial menimbulkan dampak psikologis seperti kecemasan, perasaan rendah diri, hingga gejala depresi ringan.

Banyak pemuda merasa harus terus menciptakan konten olahraga agar citra mereka tetap terjaga.

Akhirnya, tujuan utama olahraga untuk kesehatan pribadi menjadi terpinggirkan, digantikan oleh kebutuhan akan perhatian, validasi, dan eksistensi digital.

Sisi Positif: Membangun Komunitas dan Motivasi

Meski begitu, tidak semua dampak dari tren Strava bersifat negatif. Bagi sebagian pemuda, tren ini justru memicu semangat untuk hidup lebih aktif.

Beberapa berhasil membentuk komunitas lari yang memperkuat solidaritas dan menciptakan ruang interaksi positif di luar media sosial.

Dengan fitur pelacakan dan visualisasi progres, Strava membantu pengguna menetapkan target pribadi serta menjaga motivasi.

Dukungan dari teman-teman virtual pun bisa menjadi dorongan untuk tetap konsisten menjalani gaya hidup sehat.

Peran Dunia Pendidikan dan Keluarga

Lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam merespons fenomena ini.

Sekolah harus mendorong literasi digital yang kritis dan menanamkan nilai-nilai etika dalam berinteraksi secara daring.

Perilaku seperti mengambil barang tanpa izin demi konten menjadi indikator perlunya pendidikan karakter yang lebih kuat.

Guru perlu menyediakan ruang aman bagi siswa untuk membangun jati diri yang autentik serta menanamkan bahwa nilai seseorang tak ditentukan oleh jumlah likes, melainkan oleh kejujuran dan tanggung jawab sosial.

Strava, Olahraga, dan Refleksi Sosial

Fenomena Strava merefleksikan kompleksitas kehidupan sosial anak muda di era digital.

Di satu sisi, ia menjadi sarana pemberdayaan, namun di sisi lain juga menyimpan potensi jebakan eksistensial.

Maka penting bagi generasi muda, pendidik, dan masyarakat secara luas untuk kembali bertanya: Apakah kita berolahraga untuk menjadi sehat, atau agar tampak sehat di mata orang lain?

Dalam dunia yang serba daring ini, membedakan antara kenyataan dan pencitraan menjadi langkah awal menuju hidup yang lebih jujur, sehat, dan bermakna. (Octa Afriana A)

Editor : Ali Mustofa
#strava #gaya hidup #Budaya Konsumerisme #media sosial #Backstage #olahraga #anak muda