RADAR KUDUS – Sudah mencoba berbagai jenis diet, tapi tidak turun juga? Ingin berat turun, tanpa diet yang menyiksa? Mungkin kamu perlu mencoba metode intermitten fasting .
Intermitten fasting itu sendiri merupakan pengaturan pola makan dengan cara berpuasa atau menggunakan jeda waktu untuk bisa mengonsumsi makanan.
Puasa intermiten biasanya memiliki waktu berpuasa 16 jam dan 8 jam untuk mengonsumsi makanan. Waktu berpuasa bisa ditambah menyesuaikan dengan kondisi tubuh. Saat puasa intermiten , kamu masih bisa mengonsumi air putih.
Baca Juga: Lebih dari Sepekan, Pelaku Pengeroyokan Bos Rental Jakarta di Sukolilo Pati Masih Berkeliaran?
Baca Juga: Razia Warung Remang-Remang di Margorejo Pati, Satpol PP Justru Temukan Kamar Esek-Esek
Jenis diet sehat ini juga tidak mengatur jenis makanan tertentu untuk dikurangi atau tidak dikonsumsi saat fase makan. Inilah alasan memilih diet Intermitten fasting.
Aulia Elva Amanda, salah satu orang yang menjalani metode intermitten fasting mengaku, sudah mencoba berbagai diet, tetapi merasa berat lalu berhenti. Setelah itu Amand mencoba puasa intermiten. Sebelum menjalani metode puasa ini berat badannya 60 kg, setelah menjalani metode ini selama tiga bulan, berat badannya kini menjadi 50 kg
“Per minggu turun satu kilogram. Saya intermitten fasting dengan menerapkan waktu puasa 16 jam. Dulu, saya pukul 18.00 sudah berhenti makan, hingga sampai pukul 10.00 baru saya makan. Tapi, disela-sela saya puasa makan masih diperbolehkan minun yang non-kalori,” jelasnya.
Dia mengaku masih minum air putih sebanyak satu liter. Kalau ingin minum teh biasanya tanpa gula atau disiasati menggunakan gula rendah kalori.
Pada saat selai makan, Amanda memilih memperbanyak sayuran dan lauk pauk hewani dan nabati, seperti ikan laut, tahu tempe dan masih menggunakan nasi, tapi dengan takaran yang sedikit.
Baca Juga: REVIEW Film Animasi Inside Out 2, Bukankah Cocok Untuk Anak-anak?
“Nyemil masih bisa, tapi waktunya sakit. Pada pukul 18.00 kembali tidak melakukan makan berat atapun nyemil. Yang membuat berat itu konsisten, tapi kalau terbiasa lama-lama mudah. Alhamdulillah berat badan saya stabil 50 kilogram sampai sekarang, imbangi dengan ikut senam zumba,” jelasnya.
Ditempat terpisah Kepala Instalasi Gizi RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus Yulianto menjelaskan intermitten fasting ini salah satu metode diet dengan cara puasa. Berdasarkan penilitian para ahli, metode ini aman untuk dijalani.
“Dengan catatan tidak memiliki riwayat penyakit Diabetes Militus (DM), stroke berat dan memiliki riwayat jantung berat. Justru tidak dianjurkan untuk diet puasa intermiten . Kalau ada riwayat hipertensi atau tekanan darah boleh melakukan diet tersebut, karena bisa mengurangi tekanan darah tinggi,” jelasnya.
Puasa itu berpuasa, jeda waktu puasa intermitten atau mengatur waktu makana, mengatur jenis makanan, dalam periode waktu tertentu. Puasa berselang ada beberapa pengaturan makan, 12 jam berpuasa kemudian 12 jam boleh makan, yang kedua 14 jam berpuasa 10 jam boleh makan, yang ketiga 16 jam berpuasa dan delapan jam boleh makan.
Baca Juga: Usulan Kota Pusaka Lasem Jadi Cagar Budaya Mandek di Provinsi, Ini Penyebabnya
Baca Juga: Diduga Gelapkan Mobil Rental, Oknum Guru SD di Tambakromo Pati Terancam Dicopot Tidak Hormat
“Untuk penentuan waktunya sebenarnya fleksibel, tergantung kesukaan orang yang menjalani diet mengatur jamnya makannya selai berapa. Namun, ada jam yang sebetulnya disarankan malamnya tidak makan sampai siang, setelah itu boleh makan sampai malam,” jelasnya.
Yulianto juga sekedar menambahi, bagi orang muslim sebenarnya sudah ada yang namanya Puasa Ramadhan, Puasa Senin Kamis, atau Puasa Daud. Bedanya pada penentuan waktu, yakni mulai berpuasa makan dari mulai pukul 04.00 hingga pukul 18.00, selebihnya boleh makan kurang lebih 14 jam. Sedangkan untuk metode Intermitten Fasting ada tambahan dua jam yakni 16 jam berpuasa.
”Bagi yang menjalani puasa intermitten tidak dianjurkan terlalu ekstrem sampai 22 jam dan hanya memiliki waktu dua jam untuk makan, berarti hanya makan satu kali sehari. Ini sangat tidak dianjurkan, bisa berakibat Hipoglekimia (kadar glukosa darah yang rendah)” terangnya. (san/x)
Editor : Noor Syafaatul Udhma