DI sudut Jalan HOS Cokroaminoto, Kauman, Kecamatan Jepara, aroma kacang sangrai bercampur dengan wangi petis yang khas menguar dari Warung Pecel Golkar Bu Wi.
Warung ini legendaris, karena telah ada sejak setidaknya 1999. Rintisan bu Sugiyarti. Tak jarang diburu para pelancong dari luar daerah.
Warung sederhana yang buka sejak pukul 07.00 WIB ini tak pernah benar-benar sepi, terutama saat jarum jam mendekati waktu makan siang.
Di atas pincuk, sembilan jenis sayuran tersaji rapi: kangkung, bayam, turi, kacang panjang, touge, kol, rebung, latoh, dan rumput laut.
Warna-warninya mencolok. Dari hijau tua kangkung, hijau muda kol, rebung putih kecoklatan, hingga butiran latoh yang bening kehijauan.
Begitu sambal disiram, lidah tak sabar ingin menyantap. Aroma gurih-manis yang menggoda.
Suapan pertama menghadirkan tekstur berlapis. Lembutnya bayam, renyah kacang panjang, sedikit pahit bunga turi yang justru memperkaya rasa. Lalu datang kejutan itu—latoh yang “meletus” di mulut.
Butirannya pecah halus, memercikkan sensasi asin-segar khas laut, membuat lidah bergetar dan ingin segera menyuap lagi.
“Latohnya itu bikin nagih. Ada sensasi cetar saat digigit. Tidak selalu ada (latoh, red). Tergantung musim,” ujar Yuli (31) sang penyaji.
Yang membuat cita rasanya semakin dalam adalah sentuhan sambal petis pada racikan kacangnya.
Petis—olahan hasil rebusan udang atau ikan yang dimasak hingga mengental—bukan sekadar penambah rasa. Di Jepara, petis mencerminkan identitas pesisir: kuat, pekat, dan khas.
Dalam seporsi pecel ini, sambal kacang yang fresh ditumbuk bersama cabai, gula merah, dan sedikit petis. Perpaduan itu menghadirkan filosofi harmoni antara hasil bumi dan hasil laut.
Sayuran melambangkan kesuburan daratan, sementara petis dan latoh membawa karakter bahari.
Keduanya bertemu dalam satu siraman sambal—simbol keseimbangan hidup masyarakat pesisir yang menggantungkan harapan pada laut sekaligus tanah.
Rasa petis yang legit memperdalam gurih kacang. Ia tidak mendominasi, melainkan menyatu, memberi lapisan rasa yang lebih “bulat”.
Pedasnya pun bisa diatur sesuai selera. Bahkan, terkadang, pelanggan yang meminta hingga 12 cabai setan untuk sensasi pedas membakar. Meski pedas menyengat, manis gula merah dan gurih petis tetap menjaga keseimbangan.
Warung ini menjaga resep dengan bumbu-bumbu yang segar. Asli. Sekaligus mempertahankan kualitas bahan.
Sayuran dipilih segar setiap pagi, sementara sambal baru dibuat ketika ada pesanan.
Harga seporsi pecel pun terjangkau: Rp 18 ribu jika memakai latoh, Rp 16 ribu tanpa latoh, dan Rp 18 ribu jika ditambah telur. “Selisihnya hanya Rp 2 ribu,” katanya.
Selain pecel latoh yang paling laris, tersedia pula lontong cemeding, tahu telur, tahu campur, tahu gimbal, lontong pecel, hingga horog-horog pecel.
Horog-horog—olahan khas Jepara berbahan tepung aren—memberi sensasi kenyal lembut saat berpadu sambal kacang.
Aneka gorengan, kerupuk, dan berbagai minuman menjadi pelengkap.
Ramainya pembeli biasanya terjadi pada hari biasa di jam makan siang. Tak hanya warga lokal, pelanggan dari luar kota pun menyempatkan diri singgah.
Warung buka pukul 07.00–16.00 WIB, libur setiap Minggu serta hari besar seperti Idulfitri dan Iduladha.
Tanggal merah tetap buka, namun selama bulan puasa tutup penuh dan kembali beroperasi setelah Lebaran.
Menyantap pecel latoh di sini bukan sekadar urusan perut kenyang.
Ini tentang merasakan sembilan sayuran yang menyatu, sambal petis yang merekatkan darat dan laut, serta butiran latoh yang meletus kecil di lidah—menghadirkan pengalaman makan yang segar, pedas, dan sarat makna.(fik)
Editor : Ali Mustofa