Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Nikmatnya Sego Janganan Srondeng Bubuk Daun Pace dari Desa Bugo Kecamatan Welahan, Rasanya Bikin Kangen Kampung Halaman

Fikri Thoharudin • Rabu, 17 Desember 2025 | 19:07 WIB
MENGGODA: Sego janganan daun pace khas Desa Bugo yang dijajakan Siti Qomariyah.
MENGGODA: Sego janganan daun pace khas Desa Bugo yang dijajakan Siti Qomariyah.

JEPARA – Di balik kesederhanaan di sebuah sudut desa, tersimpan cita rasa kuliner tradisional yang terus bertahan melawan zaman. 

Salah satunya adalah 'sego janganan srondeng bubuk daun pace' yang dijajakan Siti Qomariyah, 53, warga Desa Bugo, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara. 

Kuliner khas ini menjadi buruan warga setiap pagi karena kelezatan sekaligus nilai tradisi lokal yang melekat di dalamnya.

Berjualan di dekat rumahnya yang berada di RT 3/RW 2 tepatnya di sebelah barat Masjid Darussalam Telukwetan, Siti Qomariyah mulai melayani pembeli sejak pukul 05.30 hingga 07.30 WIB. 

Datang lebih siang sedikit, siap-siap kecelik, tidak kebagian.

Meski waktu jualannya singkat, pembeli kerap berdatangan silih berganti hingga dagangannya ludes sebelum waktu tutup.

Sego janganan yang ia jual bukan sekadar nasi dengan sayur urap biasa. 

Racikan sayurnya terdiri dari kangkung, daun mengkudu atau daun pace, nangka muda (tewel), toge, serta taburan srondeng yang diolah khusus. Termasuk bumbu sambal kacang serta topping urap parutan kelapa muda.

Keunikan lainnya terletak pada bubuk daun pace yang menjadi ciri khas, memberikan aroma dan rasa lembut yang justru memperkaya sensasi di lidah. 

Tidak berasa pahit, rasanya bikin menebak-nebak daun apakah itu di saat lidah mencicipinya.

Siti Qomariyah menuturkan, resep tersebut bukanlah racikan baru. Ia mewarisi resep turun-temurun dari buyutnya. 

“Ini tinggalane mbah buyut, jadi ageman sampai sekarang,” ujarnya. 

Sego Janganan Srondeng Bubuk Daun Pace siap disantap.
Sego Janganan Srondeng Bubuk Daun Pace siap disantap.

Bagi Siti, menjaga resep ini bukan hanya soal berdagang, tetapi juga merawat warisan kuliner keluarga.

Dalam sehari, ia memasak beras antara 5 hingga 7 kilogram. Ia pun bisa menerima pesanan. 

Proses memasak dan meracik sayuran biasa dilakukan sejak pagi buta, dibantu oleh putri-putrinya. 

Meski terbilang sederhana, seluruh bahan diolah dengan telaten, termasuk bumbu urap yang menjadi kunci kelezatan sego janganan tersebut.

Menariknya, meski sebagian orang kurang menyukai daun kangkung atau daun pace karena rasanya yang khas, banyak pelanggan justru datang karena cita rasa autentik tersebut. 

Katah (banyak, red) yang tidak suka kangkung, tapi di sini jadi senang karena saya sajikan batangnya (kangkung, red) saja,” kata Siti sambil tersenyum.

Untuk pelengkap, pembeli bisa memilih berbagai lauk seperti telur rebus, tempe bacem, hingga kerupuk gendar. 

Kombinasi nasi hangat, sayur janganan, srondeng gurih, dan lauk sederhana itu menghadirkan rasa sedap yang membangkitkan selera, terutama bagi penikmat masakan ndeso.

Tak hanya melayani pembeli harian, sego janganan srondeng bubuk daun pace ini juga kerap dipesan untuk keperluan hajatan. 

Mulai dari bancaan, syukuran, hingga acara tradisi pasca 40 hari kelahiran bayi. Pesanan dalam jumlah besar biasanya sudah dikoordinasikan sehari sebelumnya.

Keberadaan kuliner tradisional seperti ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih hidup di tengah masyarakat Desa Bugo. 

Di saat makanan instan dan modern semakin mendominasi, sego janganan ala Siti Qomariyah tetap bertahan dengan identitasnya sendiri.

Lebih dari sekadar makanan, sego janganan srondeng bubuk daun pace adalah cerita tentang warisan keluarga, gotong royong, dan rasa syukur. 

Setiap pincuk nasi yang disajikan membawa jejak sejarah dapur desa yang terus dirawat dari generasi ke generasi.

"Sedep!" ringkas Edy Marwoto Kepala Satpol PP dan Damkar Kabupaten Jepara usai menyantap seporsi menu pada Rabu (17/12).(fik)

Editor : Ali Mustofa
#jepara #kuliner khas #pace #sego #janganan #mengkudu